Kami kembali berbicara tentang hidup, manusia, dan cinta.
amu berkata tentang hubungan manusia, katamu, kita tak bisa hidup sendiri. Setiap orang akan tidak menyukai sepi dan sendiri.
Aku mengerti. Aku mengamininya, dalam hati.
Maaf tentang ketidakpedulianku pada hal ini, status bernama hubungan manusia. Kuyakini, bahwa aku takut mengenalnya. Karena, aku sadar manusia makhluk yang komplek, akan banyak hal yang berubah seiring perjalanan waktunya. Seiring pertemuan-pertemuannya dengan dunia baru, manusia baru lainnya dan kebutuhan-kebutuhan baru. Seiring tumbuhnya harapan juga munculnya kekecewaan-kekecewaan dari perjalanan hidupnya. Kerumitan dan ketidakpastian itulah yang membuat ku meragukan, status bernama hubungan...
Selasa, 02 Desember 2014
Senin, 10 November 2014
syair pengangguran
Semesta diam. Tak bicara untuk sekedar simpati pada diamku.
Sang waktu acuh. Tak berhenti sejenak untuk sekedar
menyapa heningku.
Mata ini nanar menunggu esok, esok, dan esok.
Tak tahu harus berbuat apa.
Dan dunia terus berputar.
Orang-orang terus berjalan, pejabat-pejabat terus
berbohong.
Tanya-tanya terus bertanya.
Cibir-cibir terus mencibir.
Seonggok kertas ikut mencibir,
Katanya, namanya ijazah.
Tapi, angin berhenti bergerak.
Seperti aku, yang berhenti bergerak.
Nganggur-
anak bunda harus juara kelas~
Malam
itu di ruang tengah sebuah keluarga kecil, seorang anak SD sekitar kelas 3-an
sedang asik dengan kegiatan menggambarnya, ditemani sang ibunda yang asik
dengan acara sinetron remaja yang sedang heboh-hebohnya dibicarakan.
“Bun,
aku mau jadi pelukis aja yah kayak ayah.”
“Hem,
iya, boleh.”
“Bun,
karena aku mau jadi pelukis, aku ga usah ngerjain pe-er matematika yah sama
pe-er bahasa inggris. Kan pelukis gak perlu matematika.”
“Yaudah
gapapa.”
Si
anak bunda yang sejak tadi mengajak ngobrol ibunya dengan tetap fokus pada
menggambarnya segera beranjak dengan mata berbinar, jarang-jarang bunda nya
membolehkan dirinya tidak belajar atau mengerjakan pe-er. Bahkan tidak pernah membolehkannya. Katanya,
dia harus pintar agar juara kelas.
“Kenapa
harus jadi juara kelas, bun?”
“Itu
tandanya kamu pintar.”
“Kenapa
harus pintar?”
“Supaya
juara kelas.”
“...”
Itu
percakapan mereka di setiap malam, sebelum ia dengan bibir mungilnya yang
cemberut harus menutup buku gambarnya dan segera mengerjakan pe-er atau
menghapal pelajaran.
“Beneran
bun???!!! Asiiikkkk.....” si anak bunda lompat-lompat kegirangan.
Sang
ibunda hanya melirik sekilas, lalu dengan wajah datarnya ia menambahkan,
“Tapi
Bunda ga mau yah, guru kamu ngasih nilai nol karena kamu ga belajar. Kalau
nilai kamu jelek, ga Bunda kasih uang jajan.”
Mendengar
hal itu, si anak bunda segera layu, kembali duduk dilantai dan menutup buku
gambarnya.
“Yah,
Bunda ga asik nih. Aku ngerjain pe-er deh biar tetep bisa jajan.”
“Nah
gitu dong...” sahut sang Bunda yang masih asik dengan acara tivi nya.
Ini hanya khayalan iseng
semata, karena janggal dengan mayoritas alasan orang tua menyuruh anaknya untuk
rajin belajar dan menjadi pintar. Atau tentang guru sekolah yang terus
memberikan ‘ilmu’ nya kepada anak didiknya, bagaikan si anak didik adalah
bejana kosong yang tak hidup. Hanya mengingatkan, bahkan seorang bocah polos
yang belum mengerti apa itu bandit-bandit
senayan pun memiliki pikiran untuk ia suarakan tentang apa inginnya, dan
pertanyaan-pertanyaan mengapa ia harus begini dan begitu. Baiknya direspon
dengan bijak. Sekian.
Sabtu, 08 November 2014
AGAK ABSURD, MUNGKIN INI TENTANG BATU NISAN DAN ANGIN
Gadis itu kembali, dengan raut wajah yang tetap
sama. Gadis itu menatapku dalam, dengan tatapan yang tetap sama. Seperti sore
kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. Kepedihan di matanya, aku tak sanggup
lagi melihatnya. Tapi, apa dayaku. Aku hanya seonggok batu yang bahkan tidak
bisa memalingkan wajah untuk menghindari tatapan sedih itu. Aku selalu bertanya
pada Dia yang tidak kukenal, pada Dia yang mereka selalu puji – puji, kepada
Dia yang membawa pergi pasangan hati si gadis itu. Aku bertanya, “Kenapa Kau
mengambilnya dari gadis itu? Dan membawanya padaku, aku tidak suka melihatnya,
tatapan penuh luka dan kesedihan itu. Aku muak melihatnya”
Selepas gadis itu pergi, angin membisikkan kisahnya,
kisah yang ia temui di perjalanannya. Kisah tentang gadis itu.
“Adakah hal yang menarik? Kuyakin, itu hanya kisah
tentang cinta dan perpisahan. Semua manusia sama, terlalu lemah hanya karena
perpisahan” angin masih menari – nari disekelilingku, tapi dia tidak tersenyum
seperti biasa. Aku sudah tau, hanya kisah luka yang dapat menghilangkan
keceriaannya.
“Oh, betapa menyedihkannya dirimu, terombang –
ambing kesana kemari, dan harus melihat semua kisah yang tak ingin kau lihat.
Mengapa tidak kau berdiam diri saja, hey angin” bisikku, dengan nada mengejek.
“Aku mensyukurinya” ucapnya dengan lembut, dengan
wajah sendu itu. Aku tersenyum, ia selalu berkata itu dengan wajah sendunya
setiap kali kisah yang ia temui menyedihkan. Aku tidak mengerti kesabarannya.
“Aku yang tak mengerti kesabaranmu, banyak kisah
kulihat, dan engkau, hanya linangan air mata dan isak tangis yang kau temui.
Karena itulah, aku mensyukurinya. Untuk tidak menjadi dirimu” kata – katanya
yang lembut itu menusukku, menyadarkanku. Ia berlalu, membelaiku lembut dengan
senyuman sendu itu sebelum meninggalkanku termenung sendiri.
Sore itu, setelah gadis itu kembali datang dan pergi
tanpa kata seperti biasa. Angin kembali menari – nari disekelilingku. Ia masih
belum tersenyum ceria.
“Mengapa harus engkau juga yang bersedih?” tanyaku,
“Tidak cukupkah gadis itu saja yang membuat suram sore – soreku?” lanjutku,
merajuk padanya yang masih saja bersedih. Ia membelaiku lembut, dibisikinya
kisah itu, aku hanya diam. Aku tahu, kesedihannya akan sirna jika ia telah
membagi kisahnya.
-
“Dia yang seharusnya disana. Di dalam tanah itu. Dia
yang seharusnya tiada” bisik angin dengan suara pilu. Aku masih terdiam,
mencoba menjadi pendengar yang baik. Walaupun sebenarnya, aku tak berminat sama
sekali dengan kisah yang akan kudengar.
Lalu kenapa jika memang seharusnya gadis ini yang
tiada? Keadaan akan sama saja, sore – soreku masih akan suram, karena yang akan
datang adalah pasangannya yang lain. Menangisi kepergian gadis cantik itu, dan
membayangkannya saja lebih memuakkan. Melihat lelaki dengan mata berkaca – kaca
atau bahkan banjir air mata setiap sore. Itu menyebalkan~
“Kesedihan seseorang bukan hal yang menyebalkan. Ia
luka yang tak seharusnya kau maki. Apa kuasa mereka menolak rasa sakit itu?
tidak ada. Benar, mereka makhluk yang lemah. Tapi aku kagum, mereka tidak
menyerah dengan kelemahannya itu. Mereka tetap berjuang untuk bertahan hidup di
dunia yang tambah tidak rasional ini, walau banyak cara yang mereka pakai sama
tidak rasionalnya. Mereka masih tetap berjuang untuk bertahan sebagai manusia
utuh, dengan cinta yang mereka kenal. Biarkan tangisan dan luka itu menemani
mereka, karena itu jugalah yang membuat mereka tetap merasakan hidup dan
menjadi manusia. Tidakkah kau iri dengan kerumitan yang indah itu?”
Aku tidak mengerti penjelasannya, apa yang harus
kucemburui dari kehidupan yang merepotkan itu. Tidak bisakah berbahagia hanya
dengan diam saja, hingga Dia yang tidak kukenal meniadakanku? Aku merasa nyaman
dengan hal ini, tak perlu aku memikirkan kehidupan yang aneh ini. Angin hanya
tersenyum tipis, aku tahu ia mendengar suaraku yang tak kuucap.
“Itu pilihanmu, juga takdirmu, Nisan” bisiknya
sebelum berlalu menyapa saudara – saudara lainku. Kisah gadis itu ia biarkan
bersambung, aku sama sekali tidak menunggu detailnya. Tapi, aku pun tak menolak
jika esok angin akan bercerita lagi. Karena aku lebih menyukai kehadiran angin
di sore – soreku, bukan kisah – kisah sedih manusia itu.
-
Hari itu angin tidak datang. Hanya ada gadis itu, dan
wajah sedihnya. Ingin aku bertanya, “Kemana angin?” tapi, apakah ia akan tahu.
Kupikir tidak. Kuurungkan niatku bertanya. Sebelum pergi, gadis cantik itu
menaruh sesuatu di depanku. Diatas tanah yang kering itu. Bukan bunga. Sebuah
buku. Ingin aku meneriakkannya, “Jangan menaruhnya disini. Tidak berguna. Ia
hanya akan membusuk atau dibuang dengan sengaja oleh pembersih makam.” Dia
sudah membusuk di dalam sini. Tidak bisakah kau membiarkannya tiada. Air mata
dan kesedihan itu tiada guna. Jika memang benar apa yang dikatakan orang –
orang tentang doa yang akan menenangkan si mati ini, lakukan itu. Haruskah
dengan air mata dan kesedihan berbulan – bulan ini?
“Hormati prosesnya, kawan” bisik saudaraku. Aku tak
menghiraukannya. Aku mengutuk Dia yang entah dimana itu. Mengapa hanya aku yang
sinis pada manusia – manusia lemah ini. Perpisahan adalah resiko yang harus kau
terima ketika kau bertemu dengan pertemuan. Kapanpun itu, selama apapun itu,
semanis apapun itu, sepahit apapun itu. Jika kalian memulainya dengan pertemuan
pasti akan ada akhir. Pasti akan ada perpisahan yang harus kalian temui. Lalu
untuk apa kesedihan berkelanjutan ini? Ah, sudahlah, seperti kata angin, aku
tak akan mengerti~
-
Sudah seminggu ini angin tak lagi datang. Kemana dia?
Hanya saudara – saudaranya yang masih rajin menyapaku sebelum mereka pulang.
“Kemana angin?” tanyaku. “Kami angin” jawab mereka, saudara – saudara angin
yang kukenal. “Aku tak tahu kalian memiliki nama lain atau tidak. Tapi, aku
bertanya tentang angin yang kukenal.” Ucapku. Saudara – saudara angin seperti
angin yang kukenal. Mereka pun suka tersenyum dan berbisik lembut sambil
mengitariku. Tapi, tak ada yang seperti angin yang kukenal. Yang mengerti aku.
“Dia diberi tugas ke tempat yang jauh. Mungkin tak akan
kembali kesini” bisik salah satu dari mereka. “Kemana? Kenapa tidak akan
kembali?” mereka beranjak pergi, aku takut mereka tidak memberikanku kejelasan
dimana keberadaan angin yang kukenal.
“Katanya, dia ingin kau
mengenal luka karena perpisahan, sayang” mereka meninggalkaku dengan wajah
simpatik. Aku terdiam. Iya, aku hanya bisa terdiam. Aku hanya batu. Baru kini
aku menyadarinya, aku hanyalah batu. Aku tak dapat merasakan apapun. Ini
menyedihkan.
Kamis, 11 September 2014
entah
manusia itu absurd. ada dari mereka yang sangat mengerti dengan teori kehidupan. dengan teori aturan hidup. tapi tidak mengenal apa yang telah mereka pelajari dan kuasai itu ketika kehidupan itu datang menyerang dengan berbagai masalah hidupnya, padahal masalah-masalah itu, dulunya adalah lahapan sehari-hari mereka yang mengerjakan contoh soal dari problem solving kehidupan. tapi mana?? bullshit.
manusia itu absurd. mungkin tidak sedikit dari mereka yang berkeyakinan kepada semua hal logis dan realistis dari kehidupan, ketika kehidupan sendiri semakin hari bergerak semakin tidak logis. kubu ini teuteup mempertahankan kelogisannya itu.
manusia itu absurd. seperti aku dan semua yang ada di kepala dan hati, tapi tidak tentang hati dan kepala saja, karena semua yang ada di luar diri ini yang menambah keabsurd-an hidup ini.
Kamis, 17 Juli 2014
Konflik ini yang di depan matamu, yang tak berkesudahan. Sudahlah~~
Konflik itu terjadi lagi. Tapi, memang selalu terjadi. Konflik Karawang hanya satu dari ratusan konflik 'rebutan tanah' lainnya. Sayangnya, dunia sedang sibuk dengan calon pemimpin yang juga ternyata kini sedang "rebutan" pengakuan klaim siapa yang paling seharusnya benar. Bukan hanya itu, semua mata kepala dan hati dunia juga masih sibuk dengan euforia perhelatan akbar piala dunia yang secara tragis membuat tim Tango gigit jari dengan kekalahan di depan pintu juara dunia. Walau sudah berakhir, semua mata kepala dan hati dunia belum bisa menengok pada konflik 'rebutan tanah' di samping rumahnya itu. Ada tragedi kemanusiaan yang terlalu heboh untuk dibiarkan begitu saja, tragedi Gaza. Konflik kemanusiaan yang ditambah carut marut isu kepentingan golongan, agama, ras ataupun politik. Sekali lagi, mata kepala dan hati dunia belum bisa melirik konflik kecil seperti di Karawang itu. Konflik kecil yang tak berkesudahan, konflik kecil yang kembali memakan korban nyawa satu, satu, satu, dan menumpuk menjadi ratusan di penghujung tahun. Konflik tahunan yang kembali menjadi pemberitaan untuk rekapitulasi korban yang menderita dan berapa hektar yang akhirnya menjadi hadiah bagi para korporat antah berantah itu.
Namanya petani, korban utama dari konflik kecil tak berkesudahan ini. Bagi kami, seorang warga awam sebuah negara yang memiliki kesadaran untuk membela tanah air ini, yang memiliki kesadaran untuk hidup dan bertahan hidup di tanah air ini, yang memiliki kesadaran ada hukum dan aturan untuk kami hidup sebagai seorang wargan negara, ada pemimpin yang katanya sebagai pengayom untuk mengatur kehidupan bernegara kami. Tapi, mengapa kami harus terusir dari tanah yang bertahun-tahun telah kami jadikan tumpuan hidup di negara yang kami coba taati semua aturan hidupnya dan yang telah kami dendangkan semua lagu kebangsaannya?
Katanya ada aturan hidup yang lain, dan kami yang katanya tidak memiliki hak pada tanah yang telah nenek moyang kami tinggali ini harus angkat kaki dari sumber penghasilan kami? haruskah, kami yang seorang petani dan hidup dari tanah ini merantau ke tempat sebrang, dimana banyak bangunan tinggi dan mewah tanpa tanah yang biasa kami kelola. haruskah, kami menjadi buruh di kota besar itu? mengikuti arus kehidupan yang semakin mengikis nilai-nilai kehidupan seorang petani?
haruskan begitu hey, pemimpin yang baru saja kemarin tanggal 9 lalu kami memilihmu. Siapapun yang akhirnya terpilih, tolonglah dijawab.
Namaku "cinta". Itu saja.
Orang itu menuliskan namanya,
namanya "cinta",
aku tertawa,
"itu nama yang konyol," kataku.
*
Namaku memang cinta,
kala suara itu tertawa dengan beningnya. Aku lahir.
Namaku memang cinta,
kala bibir itu tersenyum dengan indahnya. Aku hadir.
Namaku memang cinta,
Biarlah terdengar konyol, tapi aku tak berakhir.
Namaku "cinta". Itu saja.
*
tumpah
ingin lisan sebebas hati
mengutuk dan bertanya semua yang tabu
biar kelabu di kepala menyingkir perlahan
dan tanpa protes
tak perlu hati memendam segala tanya dan caci
Sabtu, 14 Juni 2014
dilema
aku tak suka menginjak dua garis yang berbeda.
aku tak suka berdiri di tengah pintu, aku tak di dalam ataupun di luar.
aku tak suka sore hari, matahari terlihat setengah hati menjagaku.
aku tak suka abu-abu dia mengambil hitam dan putih bersamaan.
*
aku tak suka dia.
yang menginjak garis di dua tempat.
yang berdiri diantara pintu itu.
aku tak suka dia.
yang memandang langit sore dengan takjub.
yang memilih abu-abu untuk dirinya.
aku tak suka dia.
yang tidak mau memilih untuk mengambil salah satu dari dua.
Senin, 17 Februari 2014
katanya, mereka calon pemimpin-generasi perubah...
Kami
pribumi, yang tersudut karena kedatangan mereka. Tapi kami beri mereka ruang,
karena, katanya, mereka generasi
perubah. Yang akan membantu kami. Benarkah? Kami sangat berharap~
Dulu
kota kami tak segersang ini, tak sepanas ini pula. Entahlah, mungkin karena
pembangunan disana sini semua pohon kami hilang. Tergantikan bangunan yang
tinggi – tinggi itu. Apa kata mereka? apartemen? Entah, kami tidak mengerti apa
itu apartemen. Tapi, kami tak keberatan ini semua demi kenyamanan mereka, para
penolong kami kelak.
Ada
yang aneh, mereka berbeda – beda. Kami pikir, mereka semua, yang setiap pagi
berjalan dengan gagah menuju gerbang itu adalah calon penolong kami. Tapi kami
ragu, beberapa memang tersenyum ramah layaknya orang baik. Sayangnya, tak
sedikit juga dari mereka yang bahkan seperti tak pernah melihat kami ada. Kami
seperti tuan rumah yang tak terlihat oleh tamunya. Apakah kami harus tetap
memberi kenyamanan pada mereka?
Beberapa
hari yang lalu kami mendengar berita yang menghebohkan, mereka turun ke jalan,
menuju kota besar yang panas dan lebih gersang lagi dari kota kami. Di siang
hari yang panas, dengan jas – jas kebanggan mereka itu. Katanya, mereka
meneriakkan nama- nama kami. Katanya, mereka sedang berjuang demi kesejahteraan
kami. Kami terharu.
Kami
tak mengerti bagaimana pembagian kerja diantara mereka, ketika sebagian dari
mereka berpanas – panas di kota besar yang kami tak tahu dimana itu sebagian
lainnya tetap berkegiatan seperti biasa. Apakah ini pembagian kerja mereka? ada
yang harus tetap menjaga kami di kota kami, ada yang berjuang kesana menuju
para pemimpin negeri ini. Apakah begitu? Tapi, kami mendengar bisikan lainnya.
Mereka yang tidak ikut berpanas – panas itu pun tidak hanya berkegiatan seperti
biasa. Sebagian lainnya melakukan banyak hal dibalik gerbang itu, katanya ada
yang membuat kumpulan – kumpulan membicarakan satu dan dua hal, katanya itu
kajian. Semacam diskusi, mengobrol lah yaa... kami juga sering melakukannya.
Tapi, kata mereka ini berbeda, obrolan mereka lebih berisi, dengan teori yang
guru – guru mereka ajarkan. Dengan ilmu yang mereka pahami. Jadi, perdebatan
dalam setiap adu argumen yang akan terjadi bukan hanya bualan kosong dan
menjadi debat kusir yang tak jelas. Tapi, kami tidak mengerti diskusi macam apa
yang mereka lakukan di balik gerbang itu. Apakah membantu mereka yang juga
turun ke jalan ke kota besar itu? kami ingin tahu, karena ini pun kan
melibatkan kehidupan kami. Sayangnya, mereka jarang mengajak kami.
Hanya
saja, kami masih merasa aneh. Setelah berita itu, semuanya kembali seperti
biasa. Bahkan, kami pikir sebenarnya tak ada yang berbeda sedikitpun semenjak
berit aitu kami dengar. Tak ada hal istimewa sedikitpun. Tak ada yang berubah dari
kami. Tak ada pula yang berubah dari mereka. Mereka tetap sibuk keluar masuk
gerbang itu dengan gagah, walau terkadang wajah – wajah lesu, malas, terlihat
dari wajah mereka.
Beberapa
dari mereka tetap masih menyapa ramah kami, ada yang hanya sapaan karena
tuntutan kesopanan. Ada juga yang terkadang mengajak kami berbincang. Hal ini
menyenangkan, mengenal mereka dan cara mereka berbicara, berpikir. Kami selalu
memandang mereka dengan tatapan kagum, calon penyelamat kami. Yang entah kapan,
akan menjadi benar – benar penyelamat kami. Dan, beberapa yang lainnya. Yang
seakan tak melihat kehadiran kami. Mereka tetap seperti itu. Interaksi yang
kami dan bagian mereka yang asing ini terjadi hanyalah interaksi dagang biasa.
Tak lebih dan tak kurang.
Kota kami, semakin lama semakin penuh oleh mereka. Hingga
terlintas dipikiran kami sebuah pertanyaan, ‘sebanyak inikah penolong kami?’
jika benar, ini akan melegakkan. Karena masih banyak orang – orang seperti
kami, di kota – kota lain selain di kota kami. Kami mendengar di kota sebrang
pun sama, ada bangunan besar dengan gerbang yang besar pula. Dan mereka, yang
keluar masuk seperti yang terjadi di kota kami. Apakah itu bangunan yang sama?
apa yang pernah kami dengar, bangunan pencetak pemimpin bangsa? Wow, keren sekali
bukan.
Dari
mereka, yang terkadang mengajak kami mengobrol, kami tahu itu adalah dunia
dimana pendidikan akan membentuk anak kami menjadi pemimpin. Pendidikan yang
lebih tinggi dari sekolah – sekolah dengan siswanya yang memakai seragam yang
ditentukan. Disana tidak ada seragam yang ditentukan. Karena semua orang yang
masuk gerbang itu, adalah orang – orang dewasa yang sudah mengerti cara
berpakaian yang baik. Apakah iya? Kami tak ingin mendebat, karena kami sadar
diri dimana level kami. Hanya saja, beberapa dari mereka kami lihat tak seperti
orang dewasa yang dapat menempatkan diri tentang cara berpakaian. Entahlah,
kami tak mengerti.
Katanya lagi, kami ingat, ketika beberapa dari mereka
yang terkadang mengajak kami mengobrol bilang, ‘bangunan itu adalah tempat
orang – orang dewasa yang berpikiran kritis’ apa itu kritis? Kami tidak
mengerti. Katanya, ‘kritis, adalah orang – orang yang berpikir. Yang akan
berkata tidak pada hal yang dianggapnya salah. Yang akan bertanya kepada segala
hal yang tak dimengertinya. Yang akan kembali belajar dan mencari tahu tentang
segala hal yang ada dipikirannya. Mereka, biasanya bukan penurut” kami tidak
mengerti, lalu apa baiknya menjadi orang yang tidak penurut? Yang selalu protes
sana – sini? Bukankah itu bikini masalah, dijawabnya dengan nada yang bijak,
katanya, ‘mereka protes bukan untuk bikin masalah. Tapi, mereka protes pada
permasalahan. Pada para pembuat masalah. Sayangnya....” kami menunggunya
melanjutkan omongannya, apa yang ia khawatirkan. Bukankah tadi ia bilang,
mereka mencoba memperbaikin kesalahan. Mereka akan melawan orang – orang yang
bersalah. “Kenapa?”
“Sayangnya,
beberapa dari kami hanya bisa protes tanpa solusi yang tepat. Beberapa dari
kami hanya kritis tanpa mau bergerak. Dan beberapa dari kami, sebenarnya
seperti para pembuat masalah itu. Hanya omong kosong” kami tak percaya
mendengarnya, mereka, tamu yang menempati kota kami, yang kami upayakan
kenyamanannya, ternyata tak semua dari mereka kelak akan menjadi penolong kami.
Lalu, apa yang akan mereka lakukan setelah selesai dengan
pendidikan di balik gerbang itu? apakah akan meninggalkan kami, dan kota yang
telah menjadi gersang dan panas ini? lalu, kami hanya harus kembali menunggu
seseorang yang dari gerbang itu menjadi benar – benar penolong kami?
Mereka yang terkadang mengajak kami mengobrol
menceritakan hal lain tentang bangunan di balik gerbang itu, katanya “kami
harus merubah sistem disana. Banyak masalah yang orang – orang sana buat.
Mereka pikir bangunan itu sebagai mesin pencetak sarjana. Seharusnya bukan,
kami tidak di cetak. Karena, jika iya, kami hanya akan berbentuk sama dengan
para pembuat masalah itu, dan mengisi ruang – ruang di dunia ini dengan sistem mereka
yang cocok dengan bentuk cetakan kami masing – masing” kami tercengang, selama
ini kami berpikir bangunan di balik gerbang itu memang pencetak. Tapi, pencetak
pemimpin. “Jika memang menjadi pemimpin, berarti hanya pemimpin dengan cetakan
yang sama dengan pemimpin – pemimpin sebelumnya. Apa yang lebih baik?”
sahutnya. Kami terdiam, benar juga, pikir kami. Jika seperti itu, tak akan ada
perubahan apapun pada kami.
“Lalu kalian akan bagaimana?” tanya kami. Mereka, yang
terkadang mengajak kami mengobrol itu hanya diam. Wajahnya bingung. “Kami masih berusaha. Dengan penyadaran yang
kami lakukan. Hanya saja, kami takut. Kami merasa besar kepala karena merasa
kami paling sadar. Kami merasa, penyadaran yang kami lakukan akan menuju
pembebasan kesadaran yang akan merubah kami. Untuk menjadi apa yang kalian
inginkan, menjadi generasi perubah” kami kembali terdiam, tak begitu mengerti
dengan ucapannya. Apa itu penyadaran? Apa itu pembebasan? memangnya kita masih
dalam zaman penjajahan?
“Pembebasan yang kami lakukan, adalah untuk menyadarkan
teman – teman seperjuangan kami. Bahwa kami harus melawan sistem pencetak ini.
Namun sulit, karena teman – teman seperjuangan kami pun orang – orang yang
berpikir, kritis dan dewasa. Beberapa dari mereka telah menemukan jalannya
sendiri untuk melakukan perubahan. Dan itu berbeda dengan kami. Beberapa yang
lainnya mengatakan, kami terlalu mengawang” mereka, yang terkadang mampir untuk
mengajak kami mengobrol terus mengeluhkan keadaan mereka. Kami hanya bisa
mendengarkan. Ini membuat kami berpikir, perubahan terlalu berat jika kami
hanya menumpuknya di pundak pemuda – pemuda ini. Perubahan adalah sesuatu yang
harus dilakukan bersama. Kami pun harus melakukannya, karena ini tentang kami,
kesejahteraan kami. Juga kesejahteraan mereka. Karena, sejahtera bukan hanya tentang uang dan hidup enak. Tapi merasa
bahagia dengan usaha dalam membuat hidup lebih baik.
Itu saja, segini dulu dari kami. Pribumi, rakyat yang
sebenarnya sama dengan mereka. kami berjuang bersama demi hidup.
Sabtu, 08 Februari 2014
Siapa kamu? ~hanya nama di lembar kertas yang katanya pelajaran sejarah.
mau kutulis namamu disini, di hati ini.
tapi tak mau tertulis, ternyata.
mau kuingat namamu disini, di pikiran ini.
tapi tak mau teringat, ternyata.
kusuruh saja, sejarah menulismu.
kutitahkan saja, buku - buku itu menceritakanmu.
agar kau tetap ada.
walau bukan disini, di hati ini.
agar kau tetap teringat
walau bukan disini, di pikiran ini.
maaf, jika hanya ini yang tertinggal padamu.
hanya namamu, di lembar ini.
hanya tentangmu, di cerita ini.
yang mengisahkan tentangmu, dengan 'konon katanya'
maaf, generasi ini hanya mengingat nama - namamu karena tulisan,
karena sejarah.
penghormatan ini hanya sebatas kepentingan nilai.
siapa kamu?
kami tak pernah tahu.
kami tak kenal.
[ ini sedang sinis. terhadap mereka yang dahulu berjuang dan kami, yang tak berjuang. dan tak mengerti arti perjuangan]
tapi tak mau tertulis, ternyata.
mau kuingat namamu disini, di pikiran ini.
tapi tak mau teringat, ternyata.
kusuruh saja, sejarah menulismu.
kutitahkan saja, buku - buku itu menceritakanmu.
agar kau tetap ada.
walau bukan disini, di hati ini.
agar kau tetap teringat
walau bukan disini, di pikiran ini.
maaf, jika hanya ini yang tertinggal padamu.
hanya namamu, di lembar ini.
hanya tentangmu, di cerita ini.
yang mengisahkan tentangmu, dengan 'konon katanya'
maaf, generasi ini hanya mengingat nama - namamu karena tulisan,
karena sejarah.
penghormatan ini hanya sebatas kepentingan nilai.
siapa kamu?
kami tak pernah tahu.
kami tak kenal.
[ ini sedang sinis. terhadap mereka yang dahulu berjuang dan kami, yang tak berjuang. dan tak mengerti arti perjuangan]
Kamis, 06 Februari 2014
"Terus, pemimpin kita siapa dong?"
*
“Mah, itu siapa
sih sering banget ada di tipi?”
“Itu artis nak”
“Ah, mamah
bohong. Mamah gak tau, aku bisa baca ya. Itu, tulisannya ca...lon pe re siden
mah” Si mamah ini hanya tersenyum, tetap tanpa melihat televisi yang ditunjuk –
tunjuk anaknya.
“Ca..lon pe
residen itu apa mah?”
“Yang bakal jadi
presiden nak”
“Pe residen itu
apa mah?” tanya anaknya lagi, dengan ejaan yang terbata – bata.
“Yah itu, yang
kamu liat di tivi nak” jawab si mamah, kalem.
“Oh. Kayak artis
ya mah” si mamah hanya tersenyum tidak membenarkan. Si anak mamah yang berusia
lima tahun itu hanya manggut – manggut melihat sosok di televisi yang
dilihatnya.
Esoknya, si anak
mamah berkumpul dengan teman – temannya yang sama – sama berusia lima tahun.
“Tadi malam
ibuku nanya, aku mau jadi apa kalo udah besar loh” ucap si anak yang
berbadan tambun. Yang lain mendengarkan.
“Emang kamu mau jadi apa?” tanya si anak perempuan berkepang.
“Aku mau jadi
pilot dong. Biar bisa terbang” jawab si tambun
“Ah, kata siapa
pilot bisa terbang. Kan, pilot gak punya sayap” celetuk si anak mamah. Si tambun
manyun.
“Aku dong, aku
mau jadi pe residen” ucap si anak kurus berjambul dengan bangga.
“Apaan tuh pe
residen?” tanya yang lainnya dengan muka penasaran dan ejaan yang terbata –
bata. Si kurus terdiam dengan muka bingungnya. “Enggak tahu. Kata papahku,
pokoknya peresiden itu keren. Bisa bantu orang banyak. Katanya, peresiden itu
pemimpin kita semua. Semuanya loohh” anak – anak lain mendegarkan dengan wajah
takjub.
“Bukan tau”
celetuk si anak mamah. Yang lain balik menatapnya. Kening si kurus berkerut
dengan wajah tak mau kalah, “Terus, kalau bukan. Apa hayo?” tantangnya.
“Peresiden itu
artis tau. Yang suka muncul di tipi – tipi. Itu doang. Gak keren – keren amat
kok” jawab si anak mamah dengan wajah bangga, ia merasa paling pintar.
“Terus, pemimpin
kita siapa dong?” tanya si anak perempuan berkepang.
“Aku aja deh.
Aku kan paling keren” jawab si anak kurus berjambul dengan percaya diri.
“Dih, kan aku
yang paling pinter. Pemimpinnya harus aku” sahut si anak mamah.
“Kan aku mau
jadi pilot. Jadi aku pemimpinnya, biar kalian semua kuajak terbang” ucap si
tambun tak mau kalah.
“Ah, kan kamu
gak punya sayap” si anak perempuan mengibaskan tanganya pada si tambun.
Lima menit
kemudian, hanya ada suara tangisan karena percakapan itu diakhir dengan
perdebatan siapa pemimpinnya dan aksi berantem ala anak kecil.
*
Ini hanya
khayalan semata. Tentang keingintahuan anak – anak dan ketidakpedulian
keluarga. Tentang pendidikan membangun kesadaran anak bangsa yang seharusnya
dimulai sejak dini.
Rabu, 05 Februari 2014
Judulnya, 'Lagi suntuk' itu aja.
Mereka menyuruhku menulis. Menulis apapun, segala hal
yang terlintas di pikiranku. Aku mencobanya. Tapi, tak ada sesuatu pun yang
melintas dengan jelas di pikiranku. Semuanya kabur, berantakan, tak beraturan.
Aku mengamati sekelilingku, mereka yang lain sedang menulis dengan wajah
serius. Adapula yang hanya memegang kertas itu dengan wajah memandang jauh
entah kemana, dengan rokok di jari – jari tangan satunya lagi. Beberapa yang
lainnya sibuk tertawa dan mengobrol, aku tak tahu apakah tugas menulis itu telah
mereka selesaikan atau belum. Kembali aku menatap kertas kosong di depanku.
Apa yang harus kutulis? Apakah suara berisik mereka yang
tengah mengobrol, atau dia yang memandang jauh entah kemana, atau, seorang
bapak – bapak buncit yang menawarkan cakwe di hadapanku? Tapi, kupikir bukan
apa yang harus kutulis, bukan tentang apa yang sedang kupikirkan. Pena ini tak
bisa tergores, karena aku tak mau melakukannya. Aku sedang tidak ingin menulis.
Inilah tulisanku,
tulisan yang tidak ingin kutulis.
Tapi, mereka menyebut ini bukan tulisan.
Mereka menyuruhku menulis kembali. Dengan bentuk dan
tulisan yang seperti mereka, bukan tulisanku. Bagaimana bisa? Bahkan, ketika
aku pun tidak ingin menulis, mereka tidak membebaskanku dengan bagaimana
akhirnya aku memutuskan untuk menulis, di tengah ketidakinginanku untuk
menulis. Aku tidak berdaya dengan kuasa pikiran dan tanganku. Tapi, mungkin
inilah resiko karena aku memilih hidup di tengah – tengah mereka, di tengah –
tengah suatu kelompok dengan tujuan dan aturan yang memang, aku pun
menyepakatinya. Dan inilah dampaknya pada kehidupan bebasku.
Aku seharusnya
menepi dahulu, menjauhi lingkaran ini. Bukan mengutuk tentang ketidakbebasanku
dan aturan mereka.
Selasa, 04 Februari 2014
Indonesia-nya bung Pram. Tidak ada yang berubah sama sekali~
Membaca
tulisan bung Pram tentang Indonesia membuatku terdiam. Apakah hanya di zamannya
saja yang penuh ketidakbenaran dan kesewenangan itu? apakah hanya di zaman itu
yang dipenuhi kegelisahan hidup? Apakah hanya di zaman itu seorang cendekia,
sastrawan, seniman, dan sejarahwan menuliskan Indonesia se’asing’ itu? tidakkah
zaman kita juga masih setidak benar zamannya? Tapi, mengapa tak kutemukan
tulisan dan pemikiran yang radikal seperti beliau. Tentang kemanusiaan dan
Indonesia. Yang ada hanya kata – kata perubahan dengan polesan untuk kemahsyuran
dan nilai dirinya, dia, si penulis itu. Untuk rakyat banyak? Untuk kemaslahatan
publik? Kuharap iya. Tapi, tak ada yang tahu isi hati manusia. Aku juga,
mungkin.
Dia
menuliskannya, katanya “seni untuk rakyat” seseorang pernah mewawancarainya
ketika beliau masih di P.Buru, orang itu bertanya “Apakah Bung masih berkukuh
pada seni untuk rakyat?” yang dijawab olehnya “Jadi untuk siapa lagi? Setidak –
tidaknya bukan untuk diri sendiri, sekalipun dari diri sendiri”. Bagaimana
seorang Indonesia begitu mencintai ke-Indonesiaannya. Pada sesama orang
Indonesia. Pada bangsa yang namanya Indonesia. Pada tanah air, bernama
Indonesia ini. Adakah dari kita pernah berpikir tentang Indonesia sebagai diri
kita, sebagai sesama kita? Bukan masalah tanah dimana kau dilahirkan dan modal
dimana kau mendapatkan makan. Ini tentang kemanusiaan, manusia sebagai pribadi.
Yang memiliki kesadaran berbangsa satu.
Dalam
tulisannya yang berupa diary selama di P.Buru ini, beliau mengkisahkan mereka.
Orang – orang yang mungkin tidak akan tercatat oleh sejarah. Dan memang tidak.
Jiwa – jiwa yang direbut paksa hak hidupnya. Sekalipun dia seorang guru SD atau
pemuda yang masih duduk di bangku SMP. Tulisnya, penjaga – penjaga itu dalam
tugas ‘proyek kemanusiaan’ mengembalikkan mereka yang katanya melenceng, menjadi warga negara yang baik sesuai standar
Pemerintahan saat itu. Dengan menggunakan nama pancasila. Adakah saya salah
jika mengatakan, lahirnya negara adalah pe-legal-an atas pembunuhan dan
kekerasan pada kemanusiaan? Jika tidak, bolehkah saya bertanya dimana pemimpin
bangsa? Jika ini cara yang beliau izinkan untuk menertibkan rakyatnya, saya
bertanya ‘berapa harga satu nyawa seseorang yang tidak berdosa?’ bahkan ibu –
ibu tak berdaya dan anak – anak kecil yang tak tahu apa – apa itu pun harus
menanggungnya. Apakah engkau akan berkata “Ini harga yang tepat untuk menjaga
Indonesia yang berpancasila” apakah kalian setuju, hei para founding father?
Untuk inikah pancasila?
Lalu,
bertahun – tahun kemudian rangkaian tulisan bung Pram hanya dijadikan ‘sarapan’
sejarah. Cerita, kisah, di masa lalu. Kemana nyawa – nyawa yang hilang
itu? apakah dunia tidak bertanya? siapa
yang harus bertanggung jawab? Apakah bangsa ini tidak ingin mengetahuinya?
Maaf, hanya saja membaca dan membayangkan kisahnya. Iya, aku hanya dapat
membayangkannya yang bahkan banyak hal yang tidak dapat aku bayangkan. Pembunuhan,
penyiksaan dan kesewenangan mereka, yang merasa menjadi dewa untuk sesama
bangsanya. Akal ini tidak dapat menerimanya. Adakah manusia yang mengaku
bertuhan dapat melakukannya? adakah manusia yang mengaku berpancasila
melakukannya? Adakah pembenaran tentang ‘proyek kemanusiaan’ itu benar – benar
membuat mereka tak melihat sesamanya sebagai seorang manusia, seorang bapak
seseorang, anak seseorang, ibu seseorang, saudara seseorang atau bahkan
tetangganya sendiri? aku tidak dapat menerimanya.
Bung,
zamanku sekarang ini juga tidak jauh berbeda. Penjahat – penjahat kemanusiaan
itu tambah banyak dengan topeng – topeng yang lebih beraneka ragamnya. Ini
lebih menakutkan. Sekarang bukan hanya kekerasan fisik, hunusan pedang atau
tembakan pistol yang memerangi kemanusiaan. Tapi ini tentang pemikiran yang
membuat bangsa semakin tidak rasional. Banyak dewa – dewa baru yang tak masuk
di akal. Namanya Kapitalisme. Namanya modal. Dan namanya individualisme.
Peradaban bukan hanya tentang kemajuan yang memang bernilai positif, tapi
kesadaran berbangsa yang semakin redup digerogoti dewa – dewa baru itu. Kata
kemanusiaan hanya hiasan kosong. Karena, manusianya banyak yang tidak lagi
manusia. Karena, mereka yang seharusnya dibela dan membela pun kini sama – sama
memakai topeng muslihat. Jangan berbicara kebangsaan dan kesatuan berbangsa.
Urusi perut masing – masing dahulu. Kehidupan ini hutan rimba, siapa yang lebih
kuat, lebih berpunya, dan lebih berkuasa dialah yang bertahan. Jangan berbicara
Indonesia. “Kita Indonesia” hanya tentang pertandingan sepakbola dengan bangsa
lain. Tapi, ketika kompetisi itu melawan klub – klub sebangsanya “Jangan
berbicara Indonesia. Ini klub-ku” kata mereka. Sungguh konyol bukan.
Dari
setumpuk permasalahan yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan zamanmu dulu.
Satu hal yang harus diperhatikan, tentang kesadaran berkebangsaan satu ini.
Kupikir bangsaku semakin jauh dari kata satu itu. Budaya yang menemani
generasiku tumbuh bercampur aduk dengan budaya mereka yang asing itu. Pola
pikir dan karakter pemuda yang terbangun adalah tentang kehidupan pribadi
masing – masing. Berawal dari cara pendidikan dalam keluarga, yang tidak selalu
mengajarkan tentang ‘nilai kehidupan dan kemanusiaan’. Yang lebih banyak
mengingatkan tentang kesuksesan dan kehidupan yang layak bagi masing – masing.
Lalu sistem pendidikan formal, yang selalu tentang nilai dan nilai pelajaran.
Bukan tentang memahami apa yang dipelajari. Sistem pendidikan yang seharusnya
mengajarkan manusia menjadi manusia seutuhnya. Tapi yang ada adalah pendidikan
tentang ‘mencetak’ generasi bangsa untuk mengisi puzle – puzle sistem yang
memang tidak benar – benar amat itu. Ini zamanku, yang katanya modern dan era
globalisasi. Tapi sistem pendidikan tidak mendidik manusia menjadi manusia
berkualitas kemanusiaan.
Tapi,
zamanku semua orang boleh berbicara, boleh mengkritik, boleh memaki. Siapapun
itu. Boleh menuliskan apapun. Boleh memiliki paham apapun. Selama tidak
menyalahi aturan negara. Konsep demokrasinya serupa ya, dengan zamanmu, Bung.
Hanya saja, mungkin dulu aturan itu terlalu ketat hingga terdengar tak masuk
diakal. Tapi sekarang, aturan itu dibuat hanya untuk diabaikan. Lalu, bagaimana
seharusnya Bung? Adakah sistem negara ini yang harus di rombak. Sistem
pemerintahannya, atau sistem pendidikannya,
atau kesadaran bangsa? Atau pemimpinnya? Atau apa? Bung, banyak
pertanyaan untuk zamanku, untuk bangsaku.
Ingin
kutanya, adakah kini kegelisahan ketika mendengar kata “Indonesia” bagimu,
bangsaku?
Senin, 27 Januari 2014
Judulnya, "Dia bicara padaku"
....
“Tidak, penantianku tidak sia – sia
kawan, mungkin kau tidak mengerti. Karena,
ini urusan hati. Ini urusanku dengan hati orang itu. Kalian, para manusia
dengan segala logika dan pandangan realistis kalian, kalian tidak akan mengerti
kami. Aku tetap bertahan disini, karena aku tahu hatinya”
“Dan, kau tidak usah memaksaku untuk
mempercayai hati orang baru itu. Kau memandangnya karena egomu yang ingin
terlihat kuat. Aku mengenal hati orang baru itu, dan, kami, kami para hati mengerti
apa yang kami inginkan”
“Jadi, kumohon. Sabarlah sedikit, walau
aku tahu, kalian para manusia sangat sulit untuk bersabar dan percaya. Karena
itulah Tuhan menjodohkan kami dan kalian. Karena kami yang akan mengambil tugas
bertahan dan bersabar. Dan, kalian harus belajar menguatkan kami”
....
[ ini sepenggal percakapan di salah satu cerpen buat calon buku pertama saya. Semoga menginspirasi bagi yang membaca :) ]
Ini aku, yang mungkin pengecut.
Aku tidak mau berucap tentang rasa
Karena hanya hati yang berhak mengucapnya
Aku tidak mau berjanji tentang rasa
Karena hanya hati yang berhak menjanjikannya
Aku tidak seperti mereka,
yang mengumbar rasa
Aku tidak seberani mereka,
yang mengakui rasa
Karena, rasa selalu tentang hati
dan aku tidak mengerti hati.
[ terinspirasi dari siang yang mendung dan kegalauan seseorang :) ]
Kamis, 23 Januari 2014
Semoga...
Manusia itu unik, komplek, rumit. Banyak hal tentangnya. Itulah yang paling dapat kumengerti tentang manusia. Tentangku, kamu, dia, ataupun mereka. Kehidupan ini terlalu singkat dan unik untuk kita lewatkan begitu saja. Aku bertemu dengan banyak orang, itu menyenangkan.
Mereka hangat dan penuh senyum. Mereka indah dan penuh energi. Mereka unik dan penuh kejutan. Tapi, tak hanya kebaikan yang aku temui. Aku bertemu dengan saudara - saudaranya pula. Mereka dingin dan tanpa senyum. Mereka buruk rupa dan layu. Mereka terlalu biasa dan membosankan. Tapi, itulah manusia. Dan, yang indah tak selalu baik atau yang buruk tak selalu jahat.
Jangan coba mengukurnya dengan statistik. Ataupun menganalisanya dengan rasio. Manusia terlalu komplek dan absurd untuk hal - hal seperti itu.
Dulu, ada seseorang yang mengesankan. Gayanya santai, bukan tipe yang suka berbual dan banyak omong kosong. Jemarinya bisa melahirkan lukisan yang magis. Itu yang kupikirkan. Tapi, di lain pihak aku tak menyukai sikap sok santainya. Yang kulihat adalah seseorang yang tidak bertanggung jawab. Tanpa rasa peduli. Sayangnya, ketika aku berpikir buruk tentangnya. Ia yang melangkah terlebih dahulu untuk membereskan hal yang tidak beres. Ia yang menepuk pundak dengan hangat, "Tenang, semuanya akan baik - baik saja". Pikirannya yang selalu sederhana dan terlalu realistik. Aku tak tahu apa mimpinya. Apakah menjalankan hidup dengan apa adanya adalah jalan yang ia pilih, aku tak tahu, ia hanya berkata "Hei, semuanya harus di mulai dari nol. Bahkan, jika harus memulainya dari seorang pencuci piring" Khas orang itu.
Seseorang lainnya, yang tidak kukenal. Aku belum berani mendeskripsikannya. Seperti apa orang itu. Aku berharap jalan hidupku memberikanku kesempatan untuk mengenalnya :)
Rabu, 15 Januari 2014
Oh, hanya pelengkap.
Katanya, entah siapa "idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda". Pemuda yang katanya juga generasi perubah. Mereka bilang "agent of change". Pemuda dengan nama lain intelektual organik. Orang - orang berpendidikan dengan semangat perubahan yang berkobar - kobar. Darah - darah muda dengan teriakan idealisme yang tak mengenal siapa lawannya.
Ada masanya, mereka, para pemuda bangsa itu menjadi satu dengan satu teriakan. Yang katanya keadilan dan kesejahteraan. Di lain masa, mereka berkelompok dengan ego idealisme masing - masing.
Momentum - momenutum sejarah terkadang menyatukan semangat mereka, pemuda berpendidikan yang suka banyak omong. Sayangnya, momentum hanyalah momentum. Tak ada yang tersisa setelahnya, kecuali tanggal yang tetap sama. Dan, kembali mereka dengan kelompok - kelompoknya masing - masing dan ego - ego nya tersendiri.
Tapi tatapan yang menyala - nyala dengan suara yang tegas seringkali menjadi topeng mereka sebagai pemuda bangsa. Itu beban dan tanggung jawab yang harus mereka sadari. Ketika ide - ide kritis dan nyeleneh itu di protes, mereka, pemuda - pemuda itu selalu semangat untuk beradu argumen. Benar salah, apa peduli mereka. Inilah yang mereka yakini, yang mereka dengar, yang mereka lihat, dan ini lah yang mereka pahami. Adakah hukum yang melarang satu kepala untuk berpikir sesuai keinginannya. dan mulut - mulut berkoar sesuai pemahamannya. Dulu iya, Tapi mereka menghabisinya. Iya, mereka, para pemuda itu.
Ini tentang dunia yang katanya generasi perubah. Tapi, yang terlihat hanya poin - poin puzle yang dunia tentukan untuk mengisi hal yang terjalani. Bentukan yang katanya adalah nasib. Ditempatkan sesuai bentuknya.
Oh, ternyata ini bukan tentang perubahan. Hanya pelengkap.
[15 Januari. Puluhan tahun silam, tentang mereka yang 'bersuara' dan kini, tentang mereka yang 'membisu']
Ada masanya, mereka, para pemuda bangsa itu menjadi satu dengan satu teriakan. Yang katanya keadilan dan kesejahteraan. Di lain masa, mereka berkelompok dengan ego idealisme masing - masing.
Momentum - momenutum sejarah terkadang menyatukan semangat mereka, pemuda berpendidikan yang suka banyak omong. Sayangnya, momentum hanyalah momentum. Tak ada yang tersisa setelahnya, kecuali tanggal yang tetap sama. Dan, kembali mereka dengan kelompok - kelompoknya masing - masing dan ego - ego nya tersendiri.
Tapi tatapan yang menyala - nyala dengan suara yang tegas seringkali menjadi topeng mereka sebagai pemuda bangsa. Itu beban dan tanggung jawab yang harus mereka sadari. Ketika ide - ide kritis dan nyeleneh itu di protes, mereka, pemuda - pemuda itu selalu semangat untuk beradu argumen. Benar salah, apa peduli mereka. Inilah yang mereka yakini, yang mereka dengar, yang mereka lihat, dan ini lah yang mereka pahami. Adakah hukum yang melarang satu kepala untuk berpikir sesuai keinginannya. dan mulut - mulut berkoar sesuai pemahamannya. Dulu iya, Tapi mereka menghabisinya. Iya, mereka, para pemuda itu.
Ini tentang dunia yang katanya generasi perubah. Tapi, yang terlihat hanya poin - poin puzle yang dunia tentukan untuk mengisi hal yang terjalani. Bentukan yang katanya adalah nasib. Ditempatkan sesuai bentuknya.
Oh, ternyata ini bukan tentang perubahan. Hanya pelengkap.
[15 Januari. Puluhan tahun silam, tentang mereka yang 'bersuara' dan kini, tentang mereka yang 'membisu']
Sabtu, 11 Januari 2014
Tempat ini yang kujadikan 'rumah' kedua...
Tiba - tiba hal ini terlintas di kepalaku. Sesuatu yang sebisa mungkin tak ingin kupikirkan dulu hingga mereka kembali. Tapi bagaimana mungkin? Aku tak mempersiapkan apapun ketika mereka akan kembali ke 'rumah' itu. Iya, aku menyebutnya 'rumah', mungkin tempat itu memang 'rumah' kedua bagiku. Bagi beberapa dari mereka, kupikir.
Tapi apa yang harus kulakukan? Salahkah, jika aku masih mengatakan aku tak mengerti? Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan dengan posisi ini. Aku hanya begitu menyukai jiwa tempat ini, bukan tentang posisi yang kini menjadi amanah bagiku. Setidaknya, ini salah satu dunia yang dapat menolongku untuk tetap 'waras' di tengah kehidupan yang tambah tak rasional dan aneh ini, selain dunia menulisku. Aku bertemu dengan mereka yang unik. Mereka yang tidak segan berbeda dari kebanyakan kaum mereka. Mereka yang tidak tabu membicarakan hal - hal yang kebanyakan kaum mereka pandang tabu. Mereka yang masih mau membuang - buang waktu untuk ide - ide yang kritis.
Mereka yang merasa sepi di tengah keramaian ini. Dan ramai di tengah kesepian orang - orang itu. Maaf, jika aku menggambarkan kalian terlalu abstrak dan subyektif. Ini pandanganku. Dan tempat ini yang mempertemukan kami.
Jadi, apa yang harus kulakukan? Kupikir, aku hanya ingin tetap menjadikannya 'rumah' bagi mereka, yang belum kami kenal :)
Tapi apa yang harus kulakukan? Salahkah, jika aku masih mengatakan aku tak mengerti? Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan dengan posisi ini. Aku hanya begitu menyukai jiwa tempat ini, bukan tentang posisi yang kini menjadi amanah bagiku. Setidaknya, ini salah satu dunia yang dapat menolongku untuk tetap 'waras' di tengah kehidupan yang tambah tak rasional dan aneh ini, selain dunia menulisku. Aku bertemu dengan mereka yang unik. Mereka yang tidak segan berbeda dari kebanyakan kaum mereka. Mereka yang tidak tabu membicarakan hal - hal yang kebanyakan kaum mereka pandang tabu. Mereka yang masih mau membuang - buang waktu untuk ide - ide yang kritis.
Mereka yang merasa sepi di tengah keramaian ini. Dan ramai di tengah kesepian orang - orang itu. Maaf, jika aku menggambarkan kalian terlalu abstrak dan subyektif. Ini pandanganku. Dan tempat ini yang mempertemukan kami.
Jadi, apa yang harus kulakukan? Kupikir, aku hanya ingin tetap menjadikannya 'rumah' bagi mereka, yang belum kami kenal :)
Ini tentang mereka dan aku :)
Sering mereka saling berdebat tanpa mau mengalah,
tapi tak sekalipun mereka berdebat dengan dendam setelahnya.
Pernah mereka saling terdiam dengan wajah ketus,
tapi tak sekalipun hari berlalu dengan wajah itu.
Kadang mereka saling menghindar karena satu dua hal,
tapi mereka tak pernah menghindar saat melihat sesamanya
berlinang air mata.
Itulah mereka,
kita dahulu.
Penuh ego dan keras kepala,
tapi kasih kita tak pernah lelah menemani persahabatan ini.
Hingga kini,
Semoga tali persahabatan ini tetap ada dan kuat.
[ buat kalian, sahabat yang tak lagi dapat sering kujumpai ]
Selasa, 07 Januari 2014
pertanyaan pagi, tentang bagaimana seseorang mengenal seseorang lainnya...
Aku tak pernah tahu bagaimana pertemuan terjadi. Ketika dia dan dia yang
tidak kukenal, perlahan berjalan masuk menyapa hidupku. Atau langkahku dahulu
yang memasuki hidup mereka. Dia yang tidak kukenal, atau aku yang tidak dia
kenal berada dalam satu lingkaran kehidupan yang sama. Tapi, ini bukan hanya
lingkaran tentang tempat dan waktu yang sama. Namun, kesadaran yang sama tentang pertemuan ini.
Lalu apa? Jika seseorang yang mengatur semua ini mengizinkanku mengenal dia
- dia yang tidak kukenal itu, maka kupikir pertemuan ini akan berlanjut entah
kemana. Tapi jika tidak, hanya ada satu pilihan. Kita hanya akan menjadi orang
- orang di persimpangan jalan yang bahkan tidak pernah menyadari manusia lain
yang sedang berdiri disampingnya.
Jadi, setidaknya aku bersyukur Dia memberikanku pertemuan - pertemuan yang
tak terduga, dengan izinNya aku mengenal kalian, sahabat. Juga, seseorang lain yang
kukenal.
Senin, 06 Januari 2014
Sepenggal kisah lainnya...
Ketika kisah ini hanya diisi oleh
cinta yang penuh luka, tak rasional dan merepotkan. Bagaimana lagi caraku untuk
memahaminya?
Lelaki itu telah pergi, ia
meninggalkan kertas kecil yang sejak tadi ia tulisi sesuatu. Sengaja atau
tidak, aku tak tahu.
Aku berdiri disamping
seseorang yang bukan dia. Walaupun mata ini hanya ingin menatap dia. Walaupun
hati ini hanya membisikkan namanya. Aku memilih untuk berdiri disamping yang
bukan dia. Aku ingin berdiri di depannya. Aku tidak berani berdiri disampingnya.
Karena aku terlalu takut untuk tidak melihatnya dengan jelas. Maaf.
Katakan jika tulisan ini bukan
untukku. Tolong, aku tidak mengerti permainan ini. Bukan keahlianku menganalisa
atau membaca 'kode' tersirat itu. Yang kutakutkan ini hanya salah paham semata.
Hati seorang gadis disana sudah menjadi pasangannya, itu yang mereka katakan.
Aku tidak sepakat dengan permainan hati. Itu tidak manusiawi. Katakan iya jika
memang iya. Dan tidak jika memang tidak. Aku sudah jujur mengatakan iya untuk
rasa ini tentang dia. Jika memang tidak bisa, tolong katakan tidak. Jangan
berkata tidak, tapi kau berdiri di garis iya. Tolong, ini masalah hati. Jangan
dipermainkan. Jika memang keraguan masih ada di dirimu, menjauhlah dari garis -
garis ini. Aku tidak ingin dibuat bingung []
Seharusnya tidak kuingat. Tapi menginspirasi untuk kutulis :')
Sesuatu yang sederhana saja, tapi dari hati.
Itu yang saya harapkan.
*
Kisah ini
seharusnya sudah usang. Tapi aku masih mengingatnya. Karena ini tentang kamu,
tentang kamu yang juga tentang aku. Ini tentang kita, yang tidak berlabel
seperti mereka. Karena kita tidak menyukainya, memberi definisi untuk hubungan
ini. Aku sama sekali tidak pernah bermasalah dengan hal ini. Aku menyukainya,
menghabiskan sore denganmu. Aku menikmatinya, selama itu denganmu dan
tentangmu. Dan aku mensyukurinya, ketika kau selalu memilih berdiri
disampingku.
Katakan jika
aku naif dan bodoh, tapi aku mengakuinya. Bahwa aku luluh dengan hal sederhana
itu. Jangan bertanya kenapa. Aku masih mencari jawabannya hingga detik ini. Jika
memang yang kutemukan hanya sebaris pertanyaan, Apakah cinta butuh alasan? Aku masih belum dapat menerimanya. Benarkah,
cinta tak butuh alasan? Tapi mengapa aku menyukai segala hal tentang kamu. Mengapa
tidak tentang dia, atau seseorang diluar sana yang juga aku kenal dan seperti
kamu?
Dulu, kupikir
rasa itu datang karena terbiasa. Maka aku akan mendapatkannya, jawaban tentang
mengapa kamu? Yah, karena aku terbiasa dengan kamu di setiap sore – sore itu.
Aku terbiasa dengan kamu di semua percakapan – percakapan itu. Maka, kupikir
kisah dan kenangan ini akan memudar ketika aku mencoba bertemu dengan seseorang
yang lain, yang seperti kamu. Dan sore – sore yang lain seperti sore – sore kita.
Dan percakapan – percakapan yang lain seperti percakapan – percakapan kita. Tapi
apa? Nihil. Hanya jalinan pertemanan biasa yang kutemukan. Bukan kamu.
*
Rasa yang
telah usang itu pun tidak akan hilang, jika aku masih menyimpan kisah tentang
kamu. Tapi apa yang harus kuperbuat? Aku telah mencoba membuangnya. Dan gagal.
“Karena kau
tidak benar – benar meninggalkan rasa itu dengan hati yang tulus. Bayangan
orang itu masih ada di kepalamu. Niat semu itu yang menghalangimu untuk
berjalan pergi darinya” sebuah suara di kepalaku muncul.
Iya, aku
sadar. Selama ini, aku berkata dengan yakin pada diriku sendiri bahwa aku akan
mencoba kehidupan yang baru. Mencari hati yang baru dan menumbuhkan rasa yang
baru. Sayangnya, aku berkedok dengan segala hal baru itu untuk mencari kamu
kembali. Maaf.
*
Aku tidak tahu
permainan takdir. Yang kini kulakukan hanya menjalaninya dan tidak lagi melihat
kebelakang. Jika aku masih tidak menemukan bagaimana cinta itu lahir. Aku hanya
akan berpegang pada hal yang kuyakini dulu. Ini
tentang segala hal yang sederhana, tapi dari hati. Itu yang saya harapkan dari
seseorang yang mungkin, ditakdirkan untuk jadi tulang rusukku. []
Kamis, 02 Januari 2014
Sepenggal pembuka untuk calon buku pertama :)
Ternyata
bukan kita.
Dan tak akan ada yang pernah menjadi kita, jika itu tentang kau dan
aku.
Hey,
rasa ini mungkin tak akan pernah sampai kepadamu
Ataupun jika iya, aku sadar.
Ini hanya rasa sepihak,
Tanpa
balas,
Dan
tanpa sambutan hangat darimu.
Jika
memang semua pertemuan itu tak ada arti
Tapi
kenapa, perpisahan ini menyakitkan untukku
Untukmu?
Aku tak pernah tahu.
Jika
memang semua sore itu tak ada arti
Tapi
kenapa, sore terakhir ini terasa begitu lama dan kelabu untukku
Untukmu?
Aku tak pernah tahu.
Jika
memang semua obrolan itu tak ada arti
Tapi
kenapa, perhentian ini enggan kulewati
Dan
kamu? Aku tak pernah tahu.
Selalu,
aku tak pernah tahu tentangmu.
Tentang
kamu yang seperti aku.
Karena,
yang kini aku sadari
Ternyata,
aku dan kamu tidak akan pernah bisa menjadi kita.
Itu
menurut aku. kalau kamu?
Tolong
jawab...
[ 1 mei 2013. Bye @pondok srikandi ~tentang sore itu, hujan,
dia, dan perpisahan tanpa kata ]
Rabu, 01 Januari 2014
Selamat 2014
Selamat Tahun Baru, kawan.
Aku tahu, ini hanyalah malam biasa,
seperti malam - malam sebelumnya.
Kau mungkin bertanya dengan nada sinismu.
Untuk apa perayaan yang bising ini?
Kau mungkin akan mengutuk kita setelah hari esok datang.
Oh, ternyata hanya untuk tumpukan sampah di seluruh kota...
Maaf, kawan.
Aku tidak memiliki pembelaan untuk keteledoran setiap awal tahun itu.
Karena, aku menikmatinya.
Langit yang berwarna - warni itu,
keramaian dan wajah - wajah ceria anak - anak kecil itu,
dan semua doa - doa yang mereka bisikan di malam pergantian tahun itu,
aku menyukai hal - hal manis itu.
Walaupun kau tidak merayakannya,
aku akan tetap memberikan ucapan untukmu.
Selamat Tahun Baru :)
Langganan:
Komentar (Atom)