Konflik itu terjadi lagi. Tapi, memang selalu terjadi. Konflik Karawang hanya satu dari ratusan konflik 'rebutan tanah' lainnya. Sayangnya, dunia sedang sibuk dengan calon pemimpin yang juga ternyata kini sedang "rebutan" pengakuan klaim siapa yang paling seharusnya benar. Bukan hanya itu, semua mata kepala dan hati dunia juga masih sibuk dengan euforia perhelatan akbar piala dunia yang secara tragis membuat tim Tango gigit jari dengan kekalahan di depan pintu juara dunia. Walau sudah berakhir, semua mata kepala dan hati dunia belum bisa menengok pada konflik 'rebutan tanah' di samping rumahnya itu. Ada tragedi kemanusiaan yang terlalu heboh untuk dibiarkan begitu saja, tragedi Gaza. Konflik kemanusiaan yang ditambah carut marut isu kepentingan golongan, agama, ras ataupun politik. Sekali lagi, mata kepala dan hati dunia belum bisa melirik konflik kecil seperti di Karawang itu. Konflik kecil yang tak berkesudahan, konflik kecil yang kembali memakan korban nyawa satu, satu, satu, dan menumpuk menjadi ratusan di penghujung tahun. Konflik tahunan yang kembali menjadi pemberitaan untuk rekapitulasi korban yang menderita dan berapa hektar yang akhirnya menjadi hadiah bagi para korporat antah berantah itu.
Namanya petani, korban utama dari konflik kecil tak berkesudahan ini. Bagi kami, seorang warga awam sebuah negara yang memiliki kesadaran untuk membela tanah air ini, yang memiliki kesadaran untuk hidup dan bertahan hidup di tanah air ini, yang memiliki kesadaran ada hukum dan aturan untuk kami hidup sebagai seorang wargan negara, ada pemimpin yang katanya sebagai pengayom untuk mengatur kehidupan bernegara kami. Tapi, mengapa kami harus terusir dari tanah yang bertahun-tahun telah kami jadikan tumpuan hidup di negara yang kami coba taati semua aturan hidupnya dan yang telah kami dendangkan semua lagu kebangsaannya?
Katanya ada aturan hidup yang lain, dan kami yang katanya tidak memiliki hak pada tanah yang telah nenek moyang kami tinggali ini harus angkat kaki dari sumber penghasilan kami? haruskah, kami yang seorang petani dan hidup dari tanah ini merantau ke tempat sebrang, dimana banyak bangunan tinggi dan mewah tanpa tanah yang biasa kami kelola. haruskah, kami menjadi buruh di kota besar itu? mengikuti arus kehidupan yang semakin mengikis nilai-nilai kehidupan seorang petani?
haruskan begitu hey, pemimpin yang baru saja kemarin tanggal 9 lalu kami memilihmu. Siapapun yang akhirnya terpilih, tolonglah dijawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar