Senin, 06 Januari 2014

Seharusnya tidak kuingat. Tapi menginspirasi untuk kutulis :')

Sesuatu yang sederhana saja, tapi dari hati. Itu yang saya harapkan.

*

Kisah ini seharusnya sudah usang. Tapi aku masih mengingatnya. Karena ini tentang kamu, tentang kamu yang juga tentang aku. Ini tentang kita, yang tidak berlabel seperti mereka. Karena kita tidak menyukainya, memberi definisi untuk hubungan ini. Aku sama sekali tidak pernah bermasalah dengan hal ini. Aku menyukainya, menghabiskan sore denganmu. Aku menikmatinya, selama itu denganmu dan tentangmu. Dan aku mensyukurinya, ketika kau selalu memilih berdiri disampingku.

Katakan jika aku naif dan bodoh, tapi aku mengakuinya. Bahwa aku luluh dengan hal sederhana itu. Jangan bertanya kenapa. Aku masih mencari jawabannya hingga detik ini. Jika memang yang kutemukan hanya sebaris pertanyaan, Apakah cinta butuh alasan? Aku masih belum dapat menerimanya. Benarkah, cinta tak butuh alasan? Tapi mengapa aku menyukai segala hal tentang kamu. Mengapa tidak tentang dia, atau seseorang diluar sana yang juga aku kenal dan seperti kamu?

Dulu, kupikir rasa itu datang karena terbiasa. Maka aku akan mendapatkannya, jawaban tentang mengapa kamu? Yah, karena aku terbiasa dengan kamu di setiap sore – sore itu. Aku terbiasa dengan kamu di semua percakapan – percakapan itu. Maka, kupikir kisah dan kenangan ini akan memudar ketika aku mencoba bertemu dengan seseorang yang lain, yang seperti kamu. Dan sore – sore yang lain seperti sore – sore kita. Dan percakapan – percakapan yang lain seperti percakapan – percakapan kita. Tapi apa? Nihil. Hanya jalinan pertemanan biasa yang kutemukan. Bukan kamu.

*

Rasa yang telah usang itu pun tidak akan hilang, jika aku masih menyimpan kisah tentang kamu. Tapi apa yang harus kuperbuat? Aku telah mencoba membuangnya. Dan gagal.

“Karena kau tidak benar – benar meninggalkan rasa itu dengan hati yang tulus. Bayangan orang itu masih ada di kepalamu. Niat semu itu yang menghalangimu untuk berjalan pergi darinya” sebuah suara di kepalaku muncul.

Iya, aku sadar. Selama ini, aku berkata dengan yakin pada diriku sendiri bahwa aku akan mencoba kehidupan yang baru. Mencari hati yang baru dan menumbuhkan rasa yang baru. Sayangnya, aku berkedok dengan segala hal baru itu untuk mencari kamu kembali. Maaf.

*


Aku tidak tahu permainan takdir. Yang kini kulakukan hanya menjalaninya dan tidak lagi melihat kebelakang. Jika aku masih tidak menemukan bagaimana cinta itu lahir. Aku hanya akan berpegang pada hal yang kuyakini dulu. Ini tentang segala hal yang sederhana, tapi dari hati. Itu yang saya harapkan dari seseorang yang mungkin, ditakdirkan untuk jadi tulang rusukku. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar