Sesuatu yang sederhana saja, tapi dari hati.
Itu yang saya harapkan.
*
Kisah ini
seharusnya sudah usang. Tapi aku masih mengingatnya. Karena ini tentang kamu,
tentang kamu yang juga tentang aku. Ini tentang kita, yang tidak berlabel
seperti mereka. Karena kita tidak menyukainya, memberi definisi untuk hubungan
ini. Aku sama sekali tidak pernah bermasalah dengan hal ini. Aku menyukainya,
menghabiskan sore denganmu. Aku menikmatinya, selama itu denganmu dan
tentangmu. Dan aku mensyukurinya, ketika kau selalu memilih berdiri
disampingku.
Katakan jika
aku naif dan bodoh, tapi aku mengakuinya. Bahwa aku luluh dengan hal sederhana
itu. Jangan bertanya kenapa. Aku masih mencari jawabannya hingga detik ini. Jika
memang yang kutemukan hanya sebaris pertanyaan, Apakah cinta butuh alasan? Aku masih belum dapat menerimanya. Benarkah,
cinta tak butuh alasan? Tapi mengapa aku menyukai segala hal tentang kamu. Mengapa
tidak tentang dia, atau seseorang diluar sana yang juga aku kenal dan seperti
kamu?
Dulu, kupikir
rasa itu datang karena terbiasa. Maka aku akan mendapatkannya, jawaban tentang
mengapa kamu? Yah, karena aku terbiasa dengan kamu di setiap sore – sore itu.
Aku terbiasa dengan kamu di semua percakapan – percakapan itu. Maka, kupikir
kisah dan kenangan ini akan memudar ketika aku mencoba bertemu dengan seseorang
yang lain, yang seperti kamu. Dan sore – sore yang lain seperti sore – sore kita.
Dan percakapan – percakapan yang lain seperti percakapan – percakapan kita. Tapi
apa? Nihil. Hanya jalinan pertemanan biasa yang kutemukan. Bukan kamu.
*
Rasa yang
telah usang itu pun tidak akan hilang, jika aku masih menyimpan kisah tentang
kamu. Tapi apa yang harus kuperbuat? Aku telah mencoba membuangnya. Dan gagal.
“Karena kau
tidak benar – benar meninggalkan rasa itu dengan hati yang tulus. Bayangan
orang itu masih ada di kepalamu. Niat semu itu yang menghalangimu untuk
berjalan pergi darinya” sebuah suara di kepalaku muncul.
Iya, aku
sadar. Selama ini, aku berkata dengan yakin pada diriku sendiri bahwa aku akan
mencoba kehidupan yang baru. Mencari hati yang baru dan menumbuhkan rasa yang
baru. Sayangnya, aku berkedok dengan segala hal baru itu untuk mencari kamu
kembali. Maaf.
*
Aku tidak tahu
permainan takdir. Yang kini kulakukan hanya menjalaninya dan tidak lagi melihat
kebelakang. Jika aku masih tidak menemukan bagaimana cinta itu lahir. Aku hanya
akan berpegang pada hal yang kuyakini dulu. Ini
tentang segala hal yang sederhana, tapi dari hati. Itu yang saya harapkan dari
seseorang yang mungkin, ditakdirkan untuk jadi tulang rusukku. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar