Malam
itu di ruang tengah sebuah keluarga kecil, seorang anak SD sekitar kelas 3-an
sedang asik dengan kegiatan menggambarnya, ditemani sang ibunda yang asik
dengan acara sinetron remaja yang sedang heboh-hebohnya dibicarakan.
“Bun,
aku mau jadi pelukis aja yah kayak ayah.”
“Hem,
iya, boleh.”
“Bun,
karena aku mau jadi pelukis, aku ga usah ngerjain pe-er matematika yah sama
pe-er bahasa inggris. Kan pelukis gak perlu matematika.”
“Yaudah
gapapa.”
Si
anak bunda yang sejak tadi mengajak ngobrol ibunya dengan tetap fokus pada
menggambarnya segera beranjak dengan mata berbinar, jarang-jarang bunda nya
membolehkan dirinya tidak belajar atau mengerjakan pe-er. Bahkan tidak pernah membolehkannya. Katanya,
dia harus pintar agar juara kelas.
“Kenapa
harus jadi juara kelas, bun?”
“Itu
tandanya kamu pintar.”
“Kenapa
harus pintar?”
“Supaya
juara kelas.”
“...”
Itu
percakapan mereka di setiap malam, sebelum ia dengan bibir mungilnya yang
cemberut harus menutup buku gambarnya dan segera mengerjakan pe-er atau
menghapal pelajaran.
“Beneran
bun???!!! Asiiikkkk.....” si anak bunda lompat-lompat kegirangan.
Sang
ibunda hanya melirik sekilas, lalu dengan wajah datarnya ia menambahkan,
“Tapi
Bunda ga mau yah, guru kamu ngasih nilai nol karena kamu ga belajar. Kalau
nilai kamu jelek, ga Bunda kasih uang jajan.”
Mendengar
hal itu, si anak bunda segera layu, kembali duduk dilantai dan menutup buku
gambarnya.
“Yah,
Bunda ga asik nih. Aku ngerjain pe-er deh biar tetep bisa jajan.”
“Nah
gitu dong...” sahut sang Bunda yang masih asik dengan acara tivi nya.
Ini hanya khayalan iseng
semata, karena janggal dengan mayoritas alasan orang tua menyuruh anaknya untuk
rajin belajar dan menjadi pintar. Atau tentang guru sekolah yang terus
memberikan ‘ilmu’ nya kepada anak didiknya, bagaikan si anak didik adalah
bejana kosong yang tak hidup. Hanya mengingatkan, bahkan seorang bocah polos
yang belum mengerti apa itu bandit-bandit
senayan pun memiliki pikiran untuk ia suarakan tentang apa inginnya, dan
pertanyaan-pertanyaan mengapa ia harus begini dan begitu. Baiknya direspon
dengan bijak. Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar