Senin, 10 November 2014

anak bunda harus juara kelas~

Malam itu di ruang tengah sebuah keluarga kecil, seorang anak SD sekitar kelas 3-an sedang asik dengan kegiatan menggambarnya, ditemani sang ibunda yang asik dengan acara sinetron remaja yang sedang heboh-hebohnya dibicarakan.
“Bun, aku mau jadi pelukis aja yah kayak ayah.”
“Hem, iya, boleh.”
“Bun, karena aku mau jadi pelukis, aku ga usah ngerjain pe-er matematika yah sama pe-er bahasa inggris. Kan pelukis gak perlu matematika.”
“Yaudah gapapa.”
Si anak bunda yang sejak tadi mengajak ngobrol ibunya dengan tetap fokus pada menggambarnya segera beranjak dengan mata berbinar, jarang-jarang bunda nya membolehkan dirinya tidak belajar atau mengerjakan pe-er.  Bahkan tidak pernah membolehkannya. Katanya, dia harus pintar agar juara kelas.
“Kenapa harus jadi juara kelas, bun?”
“Itu tandanya kamu pintar.”
“Kenapa harus pintar?”
“Supaya juara kelas.”
“...”
Itu percakapan mereka di setiap malam, sebelum ia dengan bibir mungilnya yang cemberut harus menutup buku gambarnya dan segera mengerjakan pe-er atau menghapal pelajaran.
“Beneran bun???!!! Asiiikkkk.....” si anak bunda lompat-lompat kegirangan.
Sang ibunda hanya melirik sekilas, lalu dengan wajah datarnya ia menambahkan,
“Tapi Bunda ga mau yah, guru kamu ngasih nilai nol karena kamu ga belajar. Kalau nilai kamu jelek, ga Bunda kasih uang jajan.”
Mendengar hal itu, si anak bunda segera layu, kembali duduk dilantai dan menutup buku gambarnya.
“Yah, Bunda ga asik nih. Aku ngerjain pe-er deh biar tetep bisa jajan.”
“Nah gitu dong...” sahut sang Bunda yang masih asik dengan acara tivi nya.


Ini hanya khayalan iseng semata, karena janggal dengan mayoritas alasan orang tua menyuruh anaknya untuk rajin belajar dan menjadi pintar. Atau tentang guru sekolah yang terus memberikan ‘ilmu’ nya kepada anak didiknya, bagaikan si anak didik adalah bejana kosong yang tak hidup. Hanya mengingatkan, bahkan seorang bocah polos yang belum mengerti apa itu bandit-bandit senayan pun memiliki pikiran untuk ia suarakan tentang apa inginnya, dan pertanyaan-pertanyaan mengapa ia harus begini dan begitu. Baiknya direspon dengan bijak. Sekian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar