Rabu, 05 Februari 2014

Judulnya, 'Lagi suntuk' itu aja.

Mereka menyuruhku menulis. Menulis apapun, segala hal yang terlintas di pikiranku. Aku mencobanya. Tapi, tak ada sesuatu pun yang melintas dengan jelas di pikiranku. Semuanya kabur, berantakan, tak beraturan. Aku mengamati sekelilingku, mereka yang lain sedang menulis dengan wajah serius. Adapula yang hanya memegang kertas itu dengan wajah memandang jauh entah kemana, dengan rokok di jari – jari tangan satunya lagi. Beberapa yang lainnya sibuk tertawa dan mengobrol, aku tak tahu apakah tugas menulis itu telah mereka selesaikan atau belum. Kembali aku menatap kertas kosong di depanku.
Apa yang harus kutulis? Apakah suara berisik mereka yang tengah mengobrol, atau dia yang memandang jauh entah kemana, atau, seorang bapak – bapak buncit yang menawarkan cakwe di hadapanku? Tapi, kupikir bukan apa yang harus kutulis, bukan tentang apa yang sedang kupikirkan. Pena ini tak bisa tergores, karena aku tak mau melakukannya. Aku sedang tidak ingin menulis.
Inilah tulisanku, tulisan yang tidak ingin kutulis.
Tapi, mereka menyebut ini bukan tulisan.
Mereka menyuruhku menulis kembali. Dengan bentuk dan tulisan yang seperti mereka, bukan tulisanku. Bagaimana bisa? Bahkan, ketika aku pun tidak ingin menulis, mereka tidak membebaskanku dengan bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk menulis, di tengah ketidakinginanku untuk menulis. Aku tidak berdaya dengan kuasa pikiran dan tanganku. Tapi, mungkin inilah resiko karena aku memilih hidup di tengah – tengah mereka, di tengah – tengah suatu kelompok dengan tujuan dan aturan yang memang, aku pun menyepakatinya. Dan inilah dampaknya pada kehidupan bebasku.

Aku seharusnya menepi dahulu, menjauhi lingkaran ini. Bukan mengutuk tentang ketidakbebasanku dan aturan mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar