Mereka menyuruhku menulis. Menulis apapun, segala hal
yang terlintas di pikiranku. Aku mencobanya. Tapi, tak ada sesuatu pun yang
melintas dengan jelas di pikiranku. Semuanya kabur, berantakan, tak beraturan.
Aku mengamati sekelilingku, mereka yang lain sedang menulis dengan wajah
serius. Adapula yang hanya memegang kertas itu dengan wajah memandang jauh
entah kemana, dengan rokok di jari – jari tangan satunya lagi. Beberapa yang
lainnya sibuk tertawa dan mengobrol, aku tak tahu apakah tugas menulis itu telah
mereka selesaikan atau belum. Kembali aku menatap kertas kosong di depanku.
Apa yang harus kutulis? Apakah suara berisik mereka yang
tengah mengobrol, atau dia yang memandang jauh entah kemana, atau, seorang
bapak – bapak buncit yang menawarkan cakwe di hadapanku? Tapi, kupikir bukan
apa yang harus kutulis, bukan tentang apa yang sedang kupikirkan. Pena ini tak
bisa tergores, karena aku tak mau melakukannya. Aku sedang tidak ingin menulis.
Inilah tulisanku,
tulisan yang tidak ingin kutulis.
Tapi, mereka menyebut ini bukan tulisan.
Mereka menyuruhku menulis kembali. Dengan bentuk dan
tulisan yang seperti mereka, bukan tulisanku. Bagaimana bisa? Bahkan, ketika
aku pun tidak ingin menulis, mereka tidak membebaskanku dengan bagaimana
akhirnya aku memutuskan untuk menulis, di tengah ketidakinginanku untuk
menulis. Aku tidak berdaya dengan kuasa pikiran dan tanganku. Tapi, mungkin
inilah resiko karena aku memilih hidup di tengah – tengah mereka, di tengah –
tengah suatu kelompok dengan tujuan dan aturan yang memang, aku pun
menyepakatinya. Dan inilah dampaknya pada kehidupan bebasku.
Aku seharusnya
menepi dahulu, menjauhi lingkaran ini. Bukan mengutuk tentang ketidakbebasanku
dan aturan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar