Membaca
tulisan bung Pram tentang Indonesia membuatku terdiam. Apakah hanya di zamannya
saja yang penuh ketidakbenaran dan kesewenangan itu? apakah hanya di zaman itu
yang dipenuhi kegelisahan hidup? Apakah hanya di zaman itu seorang cendekia,
sastrawan, seniman, dan sejarahwan menuliskan Indonesia se’asing’ itu? tidakkah
zaman kita juga masih setidak benar zamannya? Tapi, mengapa tak kutemukan
tulisan dan pemikiran yang radikal seperti beliau. Tentang kemanusiaan dan
Indonesia. Yang ada hanya kata – kata perubahan dengan polesan untuk kemahsyuran
dan nilai dirinya, dia, si penulis itu. Untuk rakyat banyak? Untuk kemaslahatan
publik? Kuharap iya. Tapi, tak ada yang tahu isi hati manusia. Aku juga,
mungkin.
Dia
menuliskannya, katanya “seni untuk rakyat” seseorang pernah mewawancarainya
ketika beliau masih di P.Buru, orang itu bertanya “Apakah Bung masih berkukuh
pada seni untuk rakyat?” yang dijawab olehnya “Jadi untuk siapa lagi? Setidak –
tidaknya bukan untuk diri sendiri, sekalipun dari diri sendiri”. Bagaimana
seorang Indonesia begitu mencintai ke-Indonesiaannya. Pada sesama orang
Indonesia. Pada bangsa yang namanya Indonesia. Pada tanah air, bernama
Indonesia ini. Adakah dari kita pernah berpikir tentang Indonesia sebagai diri
kita, sebagai sesama kita? Bukan masalah tanah dimana kau dilahirkan dan modal
dimana kau mendapatkan makan. Ini tentang kemanusiaan, manusia sebagai pribadi.
Yang memiliki kesadaran berbangsa satu.
Dalam
tulisannya yang berupa diary selama di P.Buru ini, beliau mengkisahkan mereka.
Orang – orang yang mungkin tidak akan tercatat oleh sejarah. Dan memang tidak.
Jiwa – jiwa yang direbut paksa hak hidupnya. Sekalipun dia seorang guru SD atau
pemuda yang masih duduk di bangku SMP. Tulisnya, penjaga – penjaga itu dalam
tugas ‘proyek kemanusiaan’ mengembalikkan mereka yang katanya melenceng, menjadi warga negara yang baik sesuai standar
Pemerintahan saat itu. Dengan menggunakan nama pancasila. Adakah saya salah
jika mengatakan, lahirnya negara adalah pe-legal-an atas pembunuhan dan
kekerasan pada kemanusiaan? Jika tidak, bolehkah saya bertanya dimana pemimpin
bangsa? Jika ini cara yang beliau izinkan untuk menertibkan rakyatnya, saya
bertanya ‘berapa harga satu nyawa seseorang yang tidak berdosa?’ bahkan ibu –
ibu tak berdaya dan anak – anak kecil yang tak tahu apa – apa itu pun harus
menanggungnya. Apakah engkau akan berkata “Ini harga yang tepat untuk menjaga
Indonesia yang berpancasila” apakah kalian setuju, hei para founding father?
Untuk inikah pancasila?
Lalu,
bertahun – tahun kemudian rangkaian tulisan bung Pram hanya dijadikan ‘sarapan’
sejarah. Cerita, kisah, di masa lalu. Kemana nyawa – nyawa yang hilang
itu? apakah dunia tidak bertanya? siapa
yang harus bertanggung jawab? Apakah bangsa ini tidak ingin mengetahuinya?
Maaf, hanya saja membaca dan membayangkan kisahnya. Iya, aku hanya dapat
membayangkannya yang bahkan banyak hal yang tidak dapat aku bayangkan. Pembunuhan,
penyiksaan dan kesewenangan mereka, yang merasa menjadi dewa untuk sesama
bangsanya. Akal ini tidak dapat menerimanya. Adakah manusia yang mengaku
bertuhan dapat melakukannya? adakah manusia yang mengaku berpancasila
melakukannya? Adakah pembenaran tentang ‘proyek kemanusiaan’ itu benar – benar
membuat mereka tak melihat sesamanya sebagai seorang manusia, seorang bapak
seseorang, anak seseorang, ibu seseorang, saudara seseorang atau bahkan
tetangganya sendiri? aku tidak dapat menerimanya.
Bung,
zamanku sekarang ini juga tidak jauh berbeda. Penjahat – penjahat kemanusiaan
itu tambah banyak dengan topeng – topeng yang lebih beraneka ragamnya. Ini
lebih menakutkan. Sekarang bukan hanya kekerasan fisik, hunusan pedang atau
tembakan pistol yang memerangi kemanusiaan. Tapi ini tentang pemikiran yang
membuat bangsa semakin tidak rasional. Banyak dewa – dewa baru yang tak masuk
di akal. Namanya Kapitalisme. Namanya modal. Dan namanya individualisme.
Peradaban bukan hanya tentang kemajuan yang memang bernilai positif, tapi
kesadaran berbangsa yang semakin redup digerogoti dewa – dewa baru itu. Kata
kemanusiaan hanya hiasan kosong. Karena, manusianya banyak yang tidak lagi
manusia. Karena, mereka yang seharusnya dibela dan membela pun kini sama – sama
memakai topeng muslihat. Jangan berbicara kebangsaan dan kesatuan berbangsa.
Urusi perut masing – masing dahulu. Kehidupan ini hutan rimba, siapa yang lebih
kuat, lebih berpunya, dan lebih berkuasa dialah yang bertahan. Jangan berbicara
Indonesia. “Kita Indonesia” hanya tentang pertandingan sepakbola dengan bangsa
lain. Tapi, ketika kompetisi itu melawan klub – klub sebangsanya “Jangan
berbicara Indonesia. Ini klub-ku” kata mereka. Sungguh konyol bukan.
Dari
setumpuk permasalahan yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan zamanmu dulu.
Satu hal yang harus diperhatikan, tentang kesadaran berkebangsaan satu ini.
Kupikir bangsaku semakin jauh dari kata satu itu. Budaya yang menemani
generasiku tumbuh bercampur aduk dengan budaya mereka yang asing itu. Pola
pikir dan karakter pemuda yang terbangun adalah tentang kehidupan pribadi
masing – masing. Berawal dari cara pendidikan dalam keluarga, yang tidak selalu
mengajarkan tentang ‘nilai kehidupan dan kemanusiaan’. Yang lebih banyak
mengingatkan tentang kesuksesan dan kehidupan yang layak bagi masing – masing.
Lalu sistem pendidikan formal, yang selalu tentang nilai dan nilai pelajaran.
Bukan tentang memahami apa yang dipelajari. Sistem pendidikan yang seharusnya
mengajarkan manusia menjadi manusia seutuhnya. Tapi yang ada adalah pendidikan
tentang ‘mencetak’ generasi bangsa untuk mengisi puzle – puzle sistem yang
memang tidak benar – benar amat itu. Ini zamanku, yang katanya modern dan era
globalisasi. Tapi sistem pendidikan tidak mendidik manusia menjadi manusia
berkualitas kemanusiaan.
Tapi,
zamanku semua orang boleh berbicara, boleh mengkritik, boleh memaki. Siapapun
itu. Boleh menuliskan apapun. Boleh memiliki paham apapun. Selama tidak
menyalahi aturan negara. Konsep demokrasinya serupa ya, dengan zamanmu, Bung.
Hanya saja, mungkin dulu aturan itu terlalu ketat hingga terdengar tak masuk
diakal. Tapi sekarang, aturan itu dibuat hanya untuk diabaikan. Lalu, bagaimana
seharusnya Bung? Adakah sistem negara ini yang harus di rombak. Sistem
pemerintahannya, atau sistem pendidikannya,
atau kesadaran bangsa? Atau pemimpinnya? Atau apa? Bung, banyak
pertanyaan untuk zamanku, untuk bangsaku.
Ingin
kutanya, adakah kini kegelisahan ketika mendengar kata “Indonesia” bagimu,
bangsaku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar