Senin, 27 Januari 2014

Judulnya, "Dia bicara padaku"

....
“Tidak, penantianku tidak sia – sia kawan, mungkin kau tidak mengerti. Karena, ini urusan hati. Ini urusanku dengan hati orang itu. Kalian, para manusia dengan segala logika dan pandangan realistis kalian, kalian tidak akan mengerti kami. Aku tetap bertahan disini, karena aku tahu hatinya”

“Dan, kau tidak usah memaksaku untuk mempercayai hati orang baru itu. Kau memandangnya karena egomu yang ingin terlihat kuat. Aku mengenal hati orang baru itu, dan, kami, kami para hati mengerti apa yang kami inginkan”

“Jadi, kumohon. Sabarlah sedikit, walau aku tahu, kalian para manusia sangat sulit untuk bersabar dan percaya. Karena itulah Tuhan menjodohkan kami dan kalian. Karena kami yang akan mengambil tugas bertahan dan bersabar. Dan, kalian harus belajar menguatkan kami” 
....
[ ini sepenggal percakapan di salah satu cerpen buat calon buku pertama saya. Semoga menginspirasi bagi yang membaca :) ]

Ini aku, yang mungkin pengecut.

Aku tidak mau berucap tentang rasa
Karena hanya hati yang berhak mengucapnya
Aku tidak mau berjanji tentang rasa
Karena hanya hati yang berhak menjanjikannya
Aku tidak seperti mereka,
yang mengumbar rasa
Aku tidak seberani mereka,
yang mengakui rasa
Karena, rasa selalu tentang hati
dan aku tidak mengerti hati. 

[ terinspirasi dari siang yang mendung dan kegalauan seseorang :) ]

Kamis, 23 Januari 2014

Semoga...

Manusia itu unik, komplek, rumit. Banyak hal tentangnya. Itulah yang paling dapat kumengerti tentang manusia. Tentangku, kamu, dia, ataupun mereka. Kehidupan ini terlalu singkat dan unik untuk kita lewatkan begitu saja.  Aku bertemu dengan banyak orang, itu menyenangkan.

Mereka hangat dan penuh senyum. Mereka indah dan penuh energi. Mereka unik dan penuh kejutan. Tapi, tak hanya kebaikan yang aku temui. Aku bertemu dengan saudara - saudaranya pula. Mereka dingin dan tanpa senyum. Mereka buruk rupa dan layu. Mereka terlalu biasa dan membosankan. Tapi, itulah manusia. Dan, yang indah tak selalu baik atau yang buruk tak selalu jahat. 

Jangan coba mengukurnya dengan statistik. Ataupun menganalisanya dengan rasio. Manusia terlalu komplek dan absurd untuk hal - hal seperti itu. 

Dulu, ada seseorang yang mengesankan. Gayanya santai, bukan tipe yang suka berbual dan banyak omong kosong. Jemarinya bisa melahirkan lukisan yang magis. Itu yang kupikirkan. Tapi, di lain pihak aku tak menyukai sikap sok santainya. Yang kulihat adalah seseorang yang tidak bertanggung jawab. Tanpa rasa peduli. Sayangnya, ketika aku berpikir buruk tentangnya. Ia yang melangkah terlebih dahulu untuk membereskan hal yang tidak beres. Ia yang menepuk pundak dengan hangat, "Tenang, semuanya akan baik - baik saja". Pikirannya yang selalu sederhana dan terlalu realistik. Aku tak tahu apa mimpinya. Apakah menjalankan hidup dengan apa adanya adalah jalan yang ia pilih, aku tak tahu, ia hanya berkata "Hei, semuanya harus di mulai dari nol. Bahkan, jika harus memulainya dari seorang pencuci piring" Khas orang itu. 

Seseorang lainnya, yang tidak kukenal. Aku belum berani mendeskripsikannya. Seperti apa orang itu. Aku berharap jalan hidupku memberikanku kesempatan untuk mengenalnya :)


Rabu, 15 Januari 2014

Oh, hanya pelengkap.

Katanya, entah siapa "idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda". Pemuda yang katanya juga generasi perubah. Mereka bilang "agent of change". Pemuda dengan nama lain intelektual organik. Orang - orang berpendidikan dengan semangat perubahan yang berkobar - kobar. Darah - darah muda dengan teriakan idealisme yang tak mengenal siapa lawannya.

Ada masanya, mereka, para pemuda bangsa itu menjadi satu dengan satu teriakan. Yang katanya keadilan dan kesejahteraan. Di lain masa, mereka berkelompok dengan ego idealisme masing - masing.
Momentum - momenutum sejarah terkadang menyatukan semangat mereka, pemuda berpendidikan yang suka banyak omong. Sayangnya, momentum hanyalah momentum. Tak ada yang tersisa setelahnya, kecuali tanggal yang tetap sama. Dan, kembali mereka dengan kelompok - kelompoknya masing - masing dan ego - ego nya tersendiri.

Tapi tatapan yang menyala - nyala dengan suara yang tegas seringkali menjadi topeng mereka sebagai pemuda bangsa. Itu beban dan tanggung jawab yang harus mereka sadari. Ketika ide - ide kritis dan nyeleneh itu di protes, mereka, pemuda - pemuda itu selalu semangat untuk beradu argumen. Benar salah, apa peduli mereka. Inilah yang mereka yakini, yang mereka dengar, yang mereka lihat, dan ini lah yang mereka pahami. Adakah hukum yang melarang satu kepala untuk berpikir sesuai keinginannya. dan mulut - mulut berkoar sesuai pemahamannya. Dulu iya, Tapi mereka menghabisinya. Iya, mereka, para pemuda itu.

Ini tentang dunia yang katanya generasi perubah. Tapi, yang terlihat hanya poin - poin puzle yang dunia tentukan untuk mengisi hal yang terjalani. Bentukan yang katanya adalah nasib. Ditempatkan sesuai bentuknya.

Oh, ternyata ini bukan tentang perubahan. Hanya pelengkap.

[15 Januari. Puluhan tahun silam, tentang mereka yang 'bersuara' dan kini, tentang mereka yang 'membisu']

Sabtu, 11 Januari 2014

Tempat ini yang kujadikan 'rumah' kedua...

Tiba - tiba hal ini terlintas di kepalaku. Sesuatu yang sebisa mungkin tak ingin kupikirkan dulu hingga mereka kembali. Tapi bagaimana mungkin? Aku tak mempersiapkan apapun ketika mereka akan kembali ke 'rumah' itu. Iya, aku menyebutnya 'rumah', mungkin tempat itu memang 'rumah' kedua bagiku. Bagi beberapa dari mereka, kupikir.

Tapi apa yang harus kulakukan? Salahkah, jika aku masih mengatakan aku tak mengerti? Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan dengan posisi ini. Aku hanya begitu menyukai jiwa tempat ini, bukan tentang posisi yang kini menjadi amanah bagiku. Setidaknya, ini salah satu dunia yang dapat menolongku untuk tetap 'waras' di tengah kehidupan yang tambah tak rasional dan aneh ini, selain dunia menulisku. Aku bertemu dengan mereka yang unik. Mereka yang tidak segan berbeda dari kebanyakan kaum mereka. Mereka yang tidak tabu membicarakan hal - hal yang kebanyakan kaum mereka pandang tabu. Mereka yang masih mau membuang - buang waktu untuk ide - ide yang kritis.

Mereka yang merasa sepi di tengah keramaian ini. Dan ramai di tengah kesepian orang - orang itu. Maaf, jika aku menggambarkan kalian terlalu abstrak dan subyektif. Ini pandanganku. Dan tempat ini yang mempertemukan kami.

Jadi, apa yang harus kulakukan? Kupikir, aku hanya ingin tetap menjadikannya 'rumah' bagi mereka, yang belum kami kenal :)

Ini tentang mereka dan aku :)

Sering mereka saling berdebat tanpa mau mengalah,
tapi tak sekalipun mereka berdebat dengan dendam setelahnya.

Pernah mereka saling terdiam dengan wajah ketus,
tapi tak sekalipun hari berlalu dengan wajah itu.

Kadang mereka saling menghindar karena satu dua hal,
tapi mereka tak pernah menghindar saat melihat sesamanya berlinang air mata.

Itulah mereka,
kita dahulu.

Penuh ego dan keras kepala,
tapi kasih kita tak pernah lelah menemani persahabatan ini.

Hingga kini,
Semoga tali persahabatan ini tetap ada dan kuat.


[ buat kalian, sahabat yang tak lagi dapat sering kujumpai ]

Selasa, 07 Januari 2014

pertanyaan pagi, tentang bagaimana seseorang mengenal seseorang lainnya...

Aku tak pernah tahu bagaimana pertemuan terjadi. Ketika dia dan dia yang tidak kukenal, perlahan berjalan masuk menyapa hidupku. Atau langkahku dahulu yang memasuki hidup mereka. Dia yang tidak kukenal, atau aku yang tidak dia kenal berada dalam satu lingkaran kehidupan yang sama. Tapi, ini bukan hanya lingkaran tentang tempat dan waktu yang sama. Namun, kesadaran yang sama tentang pertemuan ini

Lalu apa? Jika seseorang yang mengatur semua ini mengizinkanku mengenal dia - dia yang tidak kukenal itu, maka kupikir pertemuan ini akan berlanjut entah kemana. Tapi jika tidak, hanya ada satu pilihan. Kita hanya akan menjadi orang - orang di persimpangan jalan yang bahkan tidak pernah menyadari manusia lain yang sedang berdiri disampingnya. 

Jadi, setidaknya aku bersyukur Dia memberikanku pertemuan - pertemuan yang tak terduga, dengan izinNya aku mengenal kalian, sahabat. Juga, seseorang lain yang kukenal. 

Senin, 06 Januari 2014

Sepenggal kisah lainnya...

Ketika kisah ini hanya diisi oleh cinta yang penuh luka, tak rasional dan merepotkan. Bagaimana lagi caraku untuk memahaminya? 

Lelaki itu telah pergi, ia meninggalkan kertas kecil yang sejak tadi ia tulisi sesuatu. Sengaja atau tidak, aku tak tahu.  

Aku berdiri disamping seseorang yang bukan dia. Walaupun mata ini hanya ingin menatap dia. Walaupun hati ini hanya membisikkan namanya. Aku memilih untuk berdiri disamping yang bukan dia. Aku ingin berdiri di depannya. Aku tidak berani berdiri disampingnya. Karena aku terlalu takut untuk tidak melihatnya dengan jelas. Maaf. 

Katakan jika tulisan ini bukan untukku. Tolong, aku tidak mengerti permainan ini. Bukan keahlianku menganalisa atau membaca 'kode' tersirat itu. Yang kutakutkan ini hanya salah paham semata. Hati seorang gadis disana sudah menjadi pasangannya, itu yang mereka katakan. Aku tidak sepakat dengan permainan hati. Itu tidak manusiawi. Katakan iya jika memang iya. Dan tidak jika memang tidak. Aku sudah jujur mengatakan iya untuk rasa ini tentang dia. Jika memang tidak bisa, tolong katakan tidak. Jangan berkata tidak, tapi kau berdiri di garis iya. Tolong, ini masalah hati. Jangan dipermainkan. Jika memang keraguan masih ada di dirimu, menjauhlah dari garis - garis ini. Aku tidak ingin dibuat bingung []


Seharusnya tidak kuingat. Tapi menginspirasi untuk kutulis :')

Sesuatu yang sederhana saja, tapi dari hati. Itu yang saya harapkan.

*

Kisah ini seharusnya sudah usang. Tapi aku masih mengingatnya. Karena ini tentang kamu, tentang kamu yang juga tentang aku. Ini tentang kita, yang tidak berlabel seperti mereka. Karena kita tidak menyukainya, memberi definisi untuk hubungan ini. Aku sama sekali tidak pernah bermasalah dengan hal ini. Aku menyukainya, menghabiskan sore denganmu. Aku menikmatinya, selama itu denganmu dan tentangmu. Dan aku mensyukurinya, ketika kau selalu memilih berdiri disampingku.

Katakan jika aku naif dan bodoh, tapi aku mengakuinya. Bahwa aku luluh dengan hal sederhana itu. Jangan bertanya kenapa. Aku masih mencari jawabannya hingga detik ini. Jika memang yang kutemukan hanya sebaris pertanyaan, Apakah cinta butuh alasan? Aku masih belum dapat menerimanya. Benarkah, cinta tak butuh alasan? Tapi mengapa aku menyukai segala hal tentang kamu. Mengapa tidak tentang dia, atau seseorang diluar sana yang juga aku kenal dan seperti kamu?

Dulu, kupikir rasa itu datang karena terbiasa. Maka aku akan mendapatkannya, jawaban tentang mengapa kamu? Yah, karena aku terbiasa dengan kamu di setiap sore – sore itu. Aku terbiasa dengan kamu di semua percakapan – percakapan itu. Maka, kupikir kisah dan kenangan ini akan memudar ketika aku mencoba bertemu dengan seseorang yang lain, yang seperti kamu. Dan sore – sore yang lain seperti sore – sore kita. Dan percakapan – percakapan yang lain seperti percakapan – percakapan kita. Tapi apa? Nihil. Hanya jalinan pertemanan biasa yang kutemukan. Bukan kamu.

*

Rasa yang telah usang itu pun tidak akan hilang, jika aku masih menyimpan kisah tentang kamu. Tapi apa yang harus kuperbuat? Aku telah mencoba membuangnya. Dan gagal.

“Karena kau tidak benar – benar meninggalkan rasa itu dengan hati yang tulus. Bayangan orang itu masih ada di kepalamu. Niat semu itu yang menghalangimu untuk berjalan pergi darinya” sebuah suara di kepalaku muncul.

Iya, aku sadar. Selama ini, aku berkata dengan yakin pada diriku sendiri bahwa aku akan mencoba kehidupan yang baru. Mencari hati yang baru dan menumbuhkan rasa yang baru. Sayangnya, aku berkedok dengan segala hal baru itu untuk mencari kamu kembali. Maaf.

*


Aku tidak tahu permainan takdir. Yang kini kulakukan hanya menjalaninya dan tidak lagi melihat kebelakang. Jika aku masih tidak menemukan bagaimana cinta itu lahir. Aku hanya akan berpegang pada hal yang kuyakini dulu. Ini tentang segala hal yang sederhana, tapi dari hati. Itu yang saya harapkan dari seseorang yang mungkin, ditakdirkan untuk jadi tulang rusukku. []

Kamis, 02 Januari 2014

Sepenggal pembuka untuk calon buku pertama :)

Ternyata bukan kita. 
Dan tak akan ada yang pernah menjadi kita, jika itu tentang kau dan aku.
Hey, rasa ini mungkin tak akan pernah sampai kepadamu
Ataupun jika iya, aku sadar. 
Ini hanya rasa sepihak,
Tanpa balas,
Dan tanpa sambutan hangat darimu.
Jika memang semua pertemuan itu tak ada arti
Tapi kenapa, perpisahan ini menyakitkan untukku
Untukmu? Aku tak pernah tahu.
Jika memang semua sore itu tak ada arti
Tapi kenapa, sore terakhir ini terasa begitu lama dan kelabu untukku
Untukmu? Aku tak pernah tahu.
Jika memang semua obrolan itu tak ada arti
Tapi kenapa, perhentian ini enggan kulewati
Dan kamu? Aku tak pernah tahu.
Selalu, aku tak pernah tahu tentangmu.
Tentang kamu yang seperti aku.
Karena, yang kini aku sadari
Ternyata, aku dan kamu tidak akan pernah bisa menjadi kita.
Itu menurut aku. kalau kamu?
Tolong jawab...
 [ 1 mei 2013. Bye  @pondok srikandi ~tentang sore itu, hujan, dia, dan perpisahan tanpa kata ]

Rabu, 01 Januari 2014

Selamat 2014

Selamat Tahun Baru, kawan.
Aku tahu, ini hanyalah malam biasa, 
seperti malam - malam sebelumnya. 
Kau mungkin bertanya dengan nada sinismu.
Untuk apa perayaan yang bising ini?
Kau mungkin akan mengutuk kita setelah hari esok datang.
Oh, ternyata hanya untuk tumpukan sampah di seluruh kota...
Maaf, kawan. 
Aku tidak memiliki pembelaan untuk keteledoran setiap awal tahun itu. 
Karena, aku menikmatinya. 
Langit yang berwarna - warni itu, 
keramaian dan wajah - wajah ceria anak - anak kecil itu,
dan semua doa - doa yang mereka bisikan di malam pergantian tahun itu,
aku menyukai hal - hal manis itu. 
Walaupun kau tidak merayakannya,
aku akan tetap memberikan ucapan untukmu. 
Selamat Tahun Baru :)