Sabtu, 12 September 2015

untuk teman yang sedang bersedih

Teman, hidup memang tak selalu indah. Juga tak selalu pedih. Adakalanya jeda hadir memberikanmu ruang untuk sejenak bernapas, merenung, bersyukur, atau memaki. Setidaknya hidup selalu memberimu waktu untuk berhenti untuk selanjutnya kembali melangkah. Kanan, kiri, maju, mundur atau diam di tempat, hidup akan memberikan keputusan itu sepenuhnya di tanganmu. 
Sayangnya, bahkan hidup memang tidak berbicara banyak tentang apa yang akan kita terima setelah keputusan dibuat. Katanya, ada nasib dan takdir yang bermain-main di kehidupan kita. Tapi aku selalu yakin, walaupun aku jarang berdoa pada Dia. Aku selalu yakin, Dia tidak main-main pada hidup kita. 

Rabu, 26 Agustus 2015

Buen Camino!

Nemu istilah ini, "Buen Camino!" yang artinya have aa good walk! penasaran, langsung googling. Kemudian keluar sebuah artikel di kompas tentang Camino De Santiago. Sejarahnya bisa dibaca disana. Singkatnya hal ini adalah sebuah perjalanan panjang dengan berjalan kaki, untuk camino de santiago ini jaraknya 780 km! ditempuh 33 hari. Cukup sebulan, kisah Cheryl di Film 'Wild' yang berjalan 1000 mil selama 3 bulan? aku tidak yakin... aku bakal terlalu kangen sama kasur empuk selama 3 bulan -_-
Ada hal-hal serupa ini, seperti aksi protes jalan dari jawa timur hingga jakarta tapi aku tak tergerak. Terkesan, iya. Tapi aku tak ingin protes pada siapapun, tak ingin sensasi pada apapun.
Kayak lagu hyesung di buen camino, ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk bertemu si dia. tapi, aku tak ingin bertemu siapapun. Aku hanya ingin dengan diriku sendiri. Mencari udara lain tentang kehidupan.
Akhirnya aku menemukan rute hidup. Selain segera bergegas menjadi penulis profesional dan resign dari tembok-tembok kantor ini, setelah aku sedikit menempa hidupku lagi dengan tanggung-tanggung jawab yang masih tersisa dan selalu ada. Kota impian itu, Yogyakarta. Aku harus kesana.
Lalu, perjalanan pertama adalah Argopuro. Seminggu di kejauhan peradaban kota. Kemudian, Camino de Santiago, tidak tahun-tahun ini, pasti. Tapi sebelum usiaku menginjak 30 tahun perjalanan sejauh 780 km dengan jalan kaki itu harus kucoba! satu bulan di jalanan....

Minggu, 23 Agustus 2015

cinta tanah air?

dulu ada seorang kawan, pernah bertanya dengan seringai iseng. aku tahu, ini pertanyaan menjebak dan perlu debat panjang. aku sedang malas bicara saat itu, kubiarkan saja ia bertanya dan menjawab lalu berbicara sendiri.
"Elu cinta Indonesia?"
"Kenapa?"
"Apa karena elu lahir disini?"
"Atau karena elu dapet makan dari tanah ini?"
"Kalau elu ga dapet apa-apa dari tanah ini, apa elu masih cinta Indonesia?"
sekarang pun aku malas membahasnya. cinta tanah air? apa yang bisa dijelaskan dari kalimat itu? cinta INDONESIA? INDONESIA, apa yang bisa kujabarkan dari rentetan huruf itu?
minggu lalu tanggal 17 agustus. semarak perayaan hari kemerdekaan terdengar, terlihat, di setiap mata memandang. warna merah putih entah sejak kapan mulai menghiasi setiap sudut jalan. tulisan-tulisan, entah itu sejarah, doa-doa, caci maki atau angan-angan tentang 'merdeka' berisik bersuara dimana-mana.
aku menepi, aku mendaki ke tanah yang tinggi di tanah jawa. aku bertemu merbabu. bahkan di ujung tanah beribu meter itu pun hiruk pikuk tentang perayaan kemerdakaan tetap semarak. aku tidak sinis. aku hanya ingin menepi, dan tak kutemukan sepi.
karena, lagi-lagi tanya itu akan menuntut jawabnya.
"cinta tanah air, tidak?"
aku tak bisa menjawab dengan spontan. mengangguk dengan mata berbinar atau berkaca-kaca karena terharu mengingat perjuangan orang-orang dahulu untuk kemerdekaan. aku tak mengenalnya.
lalu, kata lainnya yang sama-sama ingin kujauhi.
'merdeka'.
aku mendengar dan membaca, beberapa orang tengah bersukur untuk kemerdekaan ini. namun banyak juga yang mencaci dan menggugat dimana kemerdekaan itu. aku?
bahkan aku tak berminat menguraikan kata 'merdeka' ini.
kubaca buku sejarah. dahulu, kupikir semua orang akan sangat mudah memahami kata-kata itu. 'kemerdekaan' dan 'mencintai tanah air', ada ketidakadilan yang nyata yang direbut dari mereka oleh tangan-tangan asing berkulit pucat kala itu.
tapi hari ini?
bahkan kata INDONESIA terlalu absurd bagiku.
selamat hari kemerdekaan?
ia, akan kuucapkan untukmu para leluhur. bukan untuk kami, yang kini hidup di tanah ini. 

Rabu, 24 Juni 2015

Niat suci?

Bung, ada judul berita yang menggelikan hari ini. "Wakil Ketua DPR : Usulan Dana Aspirasi Didasari Niat Suci"
Aku tidak tahu, apakah aku salah memahami jalannya dunia atau memang beginilah faktanya. Tapi aku sedang muak-muaknya dengan istilah itu, "niat suci". Terlebih jika dua kata itu terlontar dari mulut seorang pejabat.
Bukan, aku tidak punya masalah dengan sosok personal yang tengah menjabat jadi wakil ketua DPR tercintah kita itu. Bahkan aku tak berminat mencari tahu.
Aku hanya bermasalah dengan mulut pejabat. Kalau kata lagu, "engkau yang berjanji, engkau yang mengingkari" *bener bukan sih itu lagu? entahlah.
Tuhan, omong kosong apa lagi ini?

Sabtu, 20 Juni 2015

Hatinya, yang berada di tengah rimba

Ada hati yang tengah berjalan di tengah rimba, penuh belukar. Aku tidak tahu, wajah bingungnya karena ia tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Atau, ia tengah memilih untuk pulang atau pergi, menuju tempat yang belum pernah ia temui. Iya, hati di tengah rimba itu tengah bersemangat untuk petualangan menantang.
Aku, aku hanya menunggu di ujung jalan pulangnya. Menunggu, kemana hati itu akan melangkah. Tapi, aku tak hanya menunggu sendiri. Di tanganku, aku membawa sumpah yang pernah hati itu ucap. Tentang kembali pulang dan akan selalu kembali pulang pada hati yang telah menjadi teman hidupnya puluhan tahun.
Tapi, tenang saja. Tidak ada ketegangan diantara kami. Aku menatap hati itu dari jauh dengaan senyum tipis. Aku tak menuntut apapun. Aku hanya ingin melihat keputusannya. Toh, perjanjian dan sumpah itu pun, bukan sumpahku. Aku tak pernah berharap banyak pada hubungan dengan sumpah yang memberatkan itu.
Namun, bukan berarti tak ada rasa pilu di diriku. Kecewa selalu ada, bahkan sebelum ia mengambil keputusan untuk berada di rimba itu. Karena, ternyata aku menyadarinya. Bahwa aku tidak begitu mengenalnya selama 22 tahun ini.
Aku tidak mengenalnya, kala ia memutuskan kebingungan sendiri di tengah rimba itu.
Hey, engkau yang selalu kupanggil 'bapak' kemana hatimu akan melangkah?

Ibu, dunia ini aneh

Ibu, kehidupan sangat aneh. Aku sama sekali tidak mengerti. Dulu engkau pernah berkata, “Hidup sesuai aturan Tuhan kita, dan berbuat baik pada sesama. Cukup dengan itu, kau akan baik-baik saja.” Dulu aku tidak mengerti aturan Tuhan yang mana yang harus kuikuti. Aku hanya mengikuti Tuhanmu ibu. Lalu kemudian, setelah aku belajar membaca dan setiap hari berangkat ke sekolah, bertemu teman-teman dan banyak orang. Aku mengenal Tuhan yang lain. Aku tidak tahu Tuhan ada sebanyak itu, Ibu.
Kemudian, tentang berbuat baik. Aku melakukannya ibu. Dulu, ketika aku masih tidak mengerti bagaimana jalannya dunia ini. Aku selalu memberikan uang koin yang tak seberapa itu pada mereka yang mengulurkan tangannya padaku dengan wajah lapar, baju kotor dan tanpa sendal. Aku juga menolong temanku yang selalu dikerjai teman sekelas karena selalu datang ke sekolah dengan baju seragam yang kotor, dia juga sedikit bau. Tapi aku tidak protes. Karena aku tahu dia hanya punya satu baju. Kasihan kan ibu, tapi semua orang di kelasku malah menertawakan dan menjailinya. Padahal, harusnya tidak seperti itu kan ibu. Makannya aku selalu membelanya. Dan memintamu membelikan baju seragam yang baru. Waktu itu, aku tidak punya uang untuk membelikannya sendiri. Setelah itu, tidak ada yang menertawakannya lagi.
Tapi, ibu. Setelah aku bertambah besar dan tinggi. Ternyata kebaikan-kebaikan kecil yang kubuat tak selalu bisa membantu mereka yang membutuhkan. Ibu, bahkan kini aku bertanya “Apa itu kebaikan?” Aku melihat ternyata tidak ada yang berubah, bu. Dengan uang koin segenggam pun aku tidak bisa mengubah mereka yang selalu kelaparan.
Dengan makian dan ceramah pun, aku tidak bisa menghentikan mereka yang terus memaki dan menertawakan orang lain yang tampak berbeda dari orang biasa.
Ibu, ternyata semakin aku besar dunia semakin rumit. Mengapa banyak nenek-nenek lusuh dengan bayi kurus di pangkuannya tak tersapa oleh dunia? Siapa yang harus memberi mereka koin yang banyak agar tak lagi mengais di tempat itu? Atau, apakah memang seperti ini dunia berjalan, bahwa harus ada orang-orang di pinggir jalan itu, meminta-minta setiap hari?
Ibu, dunia bukan hanya rumit, tapi tak masuk akal. Aku melihat layar tipi, iya ibu, dari layar itu pun kita bisa melihat bagaimana dunia membuat panggungnya sendiri. Ternyata ibu, orang-orang kelaparan itu bisa saja ditolong, asalkan, diliput dulu oleh media. Tapi tidak hanya itu, ibu. Karena masih ada tahap selanjutnya. Mereka yang hanya diliput sekilas, hidupnya tidak akan berubah. Mereka hanya mendapat beberapa paket doa dan air mata yang tak begitu lama. Karena, yang punya kisah memilukan yang paling fantastis lah yang akan bertahan populer di layar kaca. Dan seketika semua mata dunia menatapnya. Memberi mereka jutaan cinta dan kasih sayang dalam sekejap.
Ibu, aku tidak sinis pada mereka yang beruntung itu. Aku bersyukur, karena hidup mereka akan sedikit berubah. Aku hanya sinis pada dunia, bagaimana proses dunia menyeleksi siapa yang dapat diberi makan dan tidak. Dunia paling tahu, bagaimana memanfaatkan hati nurani manusia.
Ibu, selain cara kerja tolol media-media itu mengeksploitasi ketidakberdayaan manusia. Banyak hal absurd lainnya di dunia yang semakin tua tapi tak tahu diri ini. Ialah keyakinan, ibu. Ini hal paling absurd yang diasuh dunia selama berabad-abad ini.
Bukankah sudah kukatakan di awal tadi, bu. Semakin aku mengenal dunia, aku bertemu dengan banyak Tuhan. Tentu dengan keyakinannya masing-masing. Kemudian, aku menyadari bahwa Tuhan dan keyakinannya adalah hak setiap orang. Seperti Ibu, dengan Tuhanmu. Ibu hidup dengan keyakinan akan Tuhanmu dan aturanNya. Bagi ibu, yang salah menurut aturan Tuhanmu, adalah hal salah juga untukmu.
Aku melihat hal ekstrim dari cara hidup seperti itu. Untungnya, aku tak menemukannya di Ibu. Ialah aksi tindak menindas pada manusia lain atas nama Tuhan dan keyakinan mereka. Contohnya? Sudahlah, ibu sudah tahu. Kita melihatnya dengan jelas setiap hari. Dulu aku tidak menyadarinya, ketika kakek sebelah rumah yang tidak pernah mau menyapaku atau ibuku. Dulu, kupikir dia hanyalah seorang kakeh tua dengan wajah jahat dan selalu cemberut. Ternyata tidak, yang kutahu selanjutnya adalah, tentang aliran kepercayaan yang tak sama. Bagi sang kakek, kami hanyalah kumpulan orang-orang sesat tak tahu agama. Dan, bagi keluarga besar Ibu kakek tersebut hanyalah orang tua dengan cara hidup yang salah.
Ibu, sebenarnya masih banyak sekali kejanggalan yang ingin kuceritakan. Tolong aku ibu, karena engkau kan, hidup lebih lama dariku. Bagaimana engkau bertahan begitu lama di dunia yang aneh ini? Benarkah hanya terus percaya pada Tuhanmu semuanya baik-baik saja? Bahkan ketika, bapak meninggalkan kita dengan wanita lain. Apakah engaku masih berkata semuanya akan baik-baik saja selama Tuhanmu ada?
Ibu, tolong jawab aku.

[20062015]

Kamis, 18 Juni 2015

Siapa?

Kupikir aku cukup mengenalnya selama 22 tahun ini. Tentang beliau yang seorang aktivis sejati. Beliau selalu bercerita tentang masa mudanya yang penuh pertanyaan. Kemudian, beliau tumbuh dengan pencarian jati diri sedemikian rupa hingga mempertemukannya pada Tuhan yang tidak pernah dikenalkan sang ayah padanya. Karenanya, bangga betul dia pada dirinya sekarang.
Semua perjalanan yang telah ia lewati, semua konsep hidup yang telah ia rancang dengan keyakinanannya, itulah jalan hidup yang ia inginkan. Menjadi seorang ayah, ia tak ingin mengulangi kesalahan ayahnya. Sebagai seorang suami, ia tahu ialah imam keluarga. Dan konsep keluarga di kepalanya menjadi harapan terbesarnya dalam hidup.
Tapi, bagaimana jika ternyata keluarga yang ia dambakan tidak mendukung dan membuat nyata harapannya?
Kupikir, aku cukup mengenalnya selama ini. Obrolan kita tentang ide-ide tokoh besar masa lalu, tentang konsep hidup yang carut marut. Tentang kehidupan ideal masing-masing. Tentang isi buku-buku penuh kalimat radikal. Aku pikir, aku mengenalnya lewat itu semua.
Namun, saat ia berjalan menjauh, menatap punggung tubuhnya yang bungkuk. Jelas, aku tak cukup memahaminya. Terlebih, saat dirinya semakin menjauh dengan bayangan gelap yang tidak pernah kulihat. Lalu kusadari, aku tidak lagi mengenalnya.
Bapak, siapa dirimu?

Rabu, 29 April 2015

Dilemmatis hak atas hidup di tanah berhukum mati



Mari kita tidak hanya melihat hak atas hidup ini sebagai poin-poin dari kesepakatan internasional mengenai hak asazi manusia. Karena, mungkin, ada beberapa golongan masyarakat yang masih haqul yakin untuk tidak mengimani semua produk dari pemikiran para intelektual 'barat' tersebut, termasuk konsep HAM ini. Tapi, mari kita lihat hak atas hidup ini sebagai manusia, yang melihat manusia lainnya sebagai manusia.
Mengapa begitu rumit? karena, tanpa kita sadari, kini, banyak manusia yang tidak lagi melihat manusia lainnya sebagai seorang manusia, sebagai subyek yang hidup.
Tapi sebuah obyek, 'sesuatu' diluar dirinya yang bisa saja disingkirkan tanpa permisi karena menghalangi jalan. Layaknya, kerikil di di ujung sepatu.
Sayangnya, dalam sebuah kehidupan yang diatur dalam suatu tatanan hukum di sebuah negara konsep akan hak atas hidup ini dipertanyakan. Terutama negara dengan aturan yang masih memberlakukan hukuman mati.
Tulisan ini bukan hanya untuk mengkritisi kasus eksekusi pada beberapa bandar narkoba di tanah air. Tapi untuk seluruh tanah berhukum mati, yang membunuh manusia dengan legal.
Mengapa dikatakan legal? Karena, mari kita akui, kehidupan ini memang hukum rimba. Mereka yang dapat bertahan, dengan apapun, dengan imannya, dengan kuasanya, dengan hartanya, dengan kebaikan, atau dengan kelicikannya, juga, bahkan dengaan keberuntungannya mungkin dapat hidup lebih lama dibandingkan dengan yang tidak punya daya, tidak punya kuasa, atau tidak punya keburuntunga. Bisalah kita sederhanakan, keberuntungan disini adalah nasib yang katanya telah digariskan oleh Sang Maha Pencipta.
Namun, apa pasalnya, tentang pemotongan waktu hidup dengan secara sengaja dan penetapan waktu yang jelas hanya karena hal tersebut legal dan sah di mata hukum? Iya, hukum tak melihat manusia sebagai subyek. Hukum adalah tangan kedua Tuhan yang berhak menentukan panjang pendeknya waktu hidup manusia yang menetap di tanahnya. Itulah hukuman mati. Dan negara memiliki kekuatan melahirkan hukum sekejam itu.
Seringkali kita dengar, kasus TKI yang diancam hukuman mati karena membunuh majikannya yang kasar. Disana, di tanah berhukum mati disana, status si TKI bukanlah korban penyiksaan yang tak berdaya dan tak kuasa. Tapi, pesakitan yang telah melanggar hukum. Untuk hal-hal seperti ini, negara dengan hukumnya mengintervensi cara bertahan hidup dari dua manusia yang saling menjahati ini. Namun, apa intervensi negara dan hukum pada dua bocah tanpa atap rumah dan tanpa orang tua yang mencoba bertahan hidup dengan uluran tangan atau mencopet. Ketika usaha bertahannya habis, yang ada, kedua bocah tersebut tinggal menunggu sang malaikat membawa mereka, mati kelaparan. Lalu, siapakah yang harus dihukum melakukan pembunuhan tersebut? Malaikat? atau negara dengan hukummnya yang angkuh?
Katakan, memang, Indonesia darurat Narkoba. Para penjahat tak berhati yang menyebarkan racun-racun obat terlarang itu pada generasi bangsa memang bersalah. Kematian beratus-ratus anak muda menjadi dampaknya. Dan sekali lagi, negara dengan hukumnnya bertindak sebagai tangan kanan Tuhan. Layaknya algojo para TKI pembunuh majikan yang jahat. Kali ini pun sama. Kesalahan dan kejahatan sepenuhnya mereka jatuhkan pada sang pesakitan yang tidak lagi dilihat sebagai manusia hidup.
Negara balas dendam dengan cara elegan atas kematian ratusan anak bangsanya. Manusia berlabel pesakitan itu diberi kelasnya masing-masing. Dari pencopet hingga pembunuh. Bukankah kekuasaan negara dengan tameng hukumnya itu terasa sangat gigantic?
Ada label pesakitan sebagai pencopet uang rakyat yang mendiami sel dengan aman dan penuh sorotan layaknya selebritis. Memang tidak terlihat alat pembunuhnya seperti butiran-butiran ekstacy pembunuh itu. Dampaknya juga tidak terlihat jelas layaknya, gigilan-gigilan menyakitkan yang terjadi pada korban narkoba. Karena, semua 'kejahatan' yang terjadi di tanah ini telah mereka kelaskan masing-masing. Si maling kayu ini mencuri di tanah berpagar bertulisan Tanah Milik Negara. Si gadis penjual diri ini pulang dengan bungkusan makanan untuk bocah kecil di rumahnya. Si joki 3 in 1 ini membeli sekilo beras setelah dikejar-kejar pak polisi. Si anak muda bertato ini memilih memalak anak-anak cupu, setelah mendengar apa yang dibicarakan gurunya tidaklah berguna untuk masa depannya. Si bapak karyawan ini tengah menyusun rencana pembunuhan untuk bosnya yang tidak manusiawi.
Kejahatan yang sebenarnya hanya bersumber dari satu mata air. Korupsi para pejabat negara.
Negara yang gigantic ini, bisakah balas dendam pada dirinya sendiri?
Jangan, sok berlagak membela para korban narkoba. Ketika tanahmu sendiri terlumuri darah rakyat-rakyat tak berdaya karena kau hisap. Pada siapa mereka harus membalas dendam? Padamu, negara
Hukuman mati tai kucing.

Senin, 20 April 2015

Pemimpin tai kucing

Setidaknya, se-sederhana-sederhananya seorang pemimpin negara adalah,
mereka yang tidak perlu berkonflik dengan negara lain atas nama tanah,
mereka yang tidak perlu beradu senjata dengan negara lain atas nama minya,
mereka yang tidak perlu beradu bom dengan negara lain atas nama persekutuan,
lalu, mereka melebeli semua masalah itu atas nama tanah air, demi rakyat, dan demi nama baik negara.
Lalu apa?
kami, yang hanya seorang ayah dari dua anak kecil dengan pekerjaan seadanya lah yang menjadi korban.
kami, yang hanya seorang ibu dari bayi berusia dua hari dengan suami suami sederhana lah yang menjadi korban.
kami, yang hanya seorang pemuda sekolahan tingkat pertama, yang ingin menikmati pengalaman sebagai anak remaja, berkarya, jatuh cinta, memberontak, tapi, tidak bisa. Karena kamilah yang juga menjadi korban.
kami, yang hanya seorang gadis belia dengan banyak agenda dan rencana-rencana kecil tentang akhir minggu yang indah, namun gagal. Kenapa? karena kamilah pula korban kalian.
kami, yang hanya seorang bocah belum genap 6 tahun. kami bertanya pada ibu yang selalu berurair air mata "Ibu, kenapa ayah tidak ada? dimana?"
"Ibu, kenapa semuanya hancur?"
"Ibu, kenapa aku gak boleh main keluar?"
"Ibu, mereka kenapa?" menunjuk pada para pelaku perang yang saling menembak.
"Ibu... ibu dimana?"
Tapi, ada juga korban lainnya, yang dilema.
kami, yang hanya seorang prajurit dengan mimpi besar menjadi ksatria negara. Tapi apa? Kenapa kami harus membunuhi orang-orang tak berdaya itu? Kami, korban. Korban pilihan kami, hidup kami atas nama komando.
Lihatlat pemimpin negara!
Tanyakan pada dirimu, kala kau dengan bangganya menaiki kursi pemimpin itu.
"Untuk siapa kau menjadi pemimpin?"
"Untuk apa kau menjadi pemimpin?"
Jika untuk saling menghancurkan negara lain, layaknya seorang bocah yang mendapatkan pesawat barunya dan bersaing untuk saling menghancurkan pesawat lainnya. Turunlah segera. Kami tidak perlu pemimpin macam itu. Bahkan, mungkin kami tidak perlu pemerintahan yang hanya menindas kami. 

Selasa, 24 Februari 2015

Dunia tai.

Suara hati mereka menjerit pada ketidakadilan dan keserakahan penguasa. Bukan hanya di ujung Timur sana, tapi di setiap sudut dunia yang tidak berdaya. Ketika dunia dengan cepatnya berganti sistem dan aturan, siapa berduit, siapa bertahta, merekalah yang penuh digdaya. Lalu, apa kabar dengan mereka lainnya yang tidak berduit dan tidak bertahta. Daya apa yang mereka punya selain, jeritan hati, meminta harapan? Ada dan banyak yang mencoba dengan upaya dan kepercayaan yang dimilikinya. Bertahun-tahun, menyeduh kopi. Atau, berbulan-bulan pergi pagi dan pulang subuh. Dengan keyakinan yang tak kunjung habis, yang tak habis kupikir. Bertahun-tahun, dan mereka terus mencoba. Apa daya yang mereka punya? duit? tahta? bukan. Hanya keyakinan dan harapan hari yang lebih baik.
Namun, adakah keyakinan dan harap berguna di dunia seperti ini? Jangan tanya pada langit yang tak mendengar itu. Tanya pada kepalamu sendiri.

Rabu, 11 Februari 2015

Pihak ini menyuguhkan 'kenyataan', tapi pihak lain malu mengakui 'kenyataan' itu.

Ada fenomena yang aneh akhir-akhir ini. Sebuah buku kontroversial beredar di publik. Maaf, aku memakai kata kontroversi agar mainstream dengan pemberitaan yang ada, walaupun, jujur, ini sangat menggelikan.
Buku ini berisi mengenai fenomena gaya berpacaran anak-anak muda generasi kekinian, bahkan judul bukunya saja bisa cukup membuat melotot para orang tua kolot yang jujur dengan prinsip hidupnya. "Saatnya Aku Belajar Pacaran". Haah, lalu, ternyata bukan saja orang tua kolot dengan prinsip yang melotot, tapi semua orang! semua orang meradang. Orang tua, guru, bahkan para pengguna internet, berarti tidak dipungkiri berbagai generasi dan kalangan pun ikut mengecam.
Namun, mengapa saya katakan hal ini menggelikan adalah, kekonyolan pengecaman tersebut. Dilansir dari salah satu media berita online, kumpulan guru memprotes dan meminta perhatian Presiden Jokowi untuk mengurusi kasus buku tersebut. Kata mereka, isi buku ini melanggar norma sosial yang berlaku di masyarakat. Pikiran sinis saya berkata, memangnya norma sosial apa yang ada di masyarakat kita sekarang?
Ditambah lagi, media online pun ikut mengecam, di sisi lain, pemberitaan mereka dari kanal sejenis life atau masalah seputar percintaan secara jelas mendukung aksi yang namanya, 'menemukan pasangan dan berkasih-kasih'. Lagipula bukankah jelas diawal semua pemberitaan mengatakan bahwa buku kontroversi ini menggambarkan fenomena gaya berpacaran anak-anak muda sekarang. Lalu, mengapa gerah ketika ada pihak yang dengan jujur dan terlanjur vulgar membuka kebobrokan norma sosial yang kita agung-agungkan dengan semu?
Saya tidak bisa bilang sayang sebenarnya mendukung buku ini atau tidak, saya hanya geli melihat aksi kecam mengecam yang terlihat konyol ini saja. Toh walaupun ada atau tidaknya buku ini fenomena anak muda sekarang memang jelas, free sex dimana-mana. Dan norma sosial? itu hanya slogan untuk kalimat-kalimat pembuka di pidato para tetua.
Jika, kecaman ini jujur datang dikarenakan kekhawatiran semakin mengakarnya fenomena gaya anak muda yang berlebih batas ini, mari kita bicarakan solusinya. Walaupun saya sangsi, membahas masalah norma dan etika, terasa terlalu absurd dan usang. Karena, kita terbiasa mengabaikan mereka dan menjadikannya hanya kata-kata pemanis di bibir.

Selasa, 10 Februari 2015

Beliau menulis Kesaksian Indonesia, Saya saksi Kenyataan Indonesia.

Ingin sekali bertemu dengan Bapak Jakob Sumardjo, penulis kumpulan essai '100 Esai Kesaksian Indonesia'. Beliau banyak sekali menyebutkan mengenai bagaimana seharusnya kita belajar pada masyarakat lokal, dan memperhatikan nilai-nilai minoritas yang sebenarnya adalah 'isi' dari Indonesia.
Katanya, masyarakat lama Indonesia itu hanya mengenal 'perang ayunan', Singkatnya, menurut bahasaku sendiri, perang ayunan yang beliau maksudkan adalah perang yang 'fair'. Lawan memiliki kekuatan yang sama dengan kita, jika kita berperang dengan lawan yang lemah, kemenangan yang kita dapat bukanlah kemenangan yang terhormat. Yap. Harga diri! Hal itulah yang dulu masyarakat ini punya. Harga diri dan kerja keras, menurut beliau.
Karenannya, beliau membandingkan dengan kehidupan modern di tengah sistem kapitalistik ini, masyarakat modern tidak mengenal 'perang ayunan'. Itu hal terbodoh yang akan masyarakat modern lakukan untuk bertahan hidup. Karena, kini aturannya adalah siapa yang lebih kuat, lebih bermodal, dan lebih banyak golongannya adalah pemenangnya. Dan, berperang dengan lawan yang tidak memiliki apapun adalah pertarungan yang orang-orang ini incar. "sedikit usaha, hasil yang banyak".
Dalam kumpulan esai-nya, beliau begitu prihatin dengan keadaan masyarakat modern dengan semua sistem modern dunia yang menurutnya, menuntut manusia 'memakan' manusia lainnya.
Saya tersindir. Saya tidak ingin disamakan dengan makhluk tak berakal itu.
Tapi, permasalahannya adalah, saya tidak hidup di zaman dimana orang-orang hidup dengan prinsip se-fair itu. Saya hidup di tengah dunia dengan sistem yang terlanjur tidak manusiawi ini. DAN, buruknya, saya berpikir, saya pun produk sistem ini. Karena saya berpikir seperti sistem ini. Saya berpikir, bahwa untuk bertahan hidup apapun yang realistik seharusnya saya ambil. Dan, yang lebih baik adalah, dengan usaha yang minimal saya bisa mendapatkan hasil maksimal. Bukankah itu teori yang sangat mengagumkan, Tuan? Bagaimana mungkin, kita, masyarakat modern ini kudu kembali menengok kebudayaan masa lalu, yang 'lurus' dan jujur itu? Kehidupan sendiri berjalan begitu cepat, dan kita disarankan tetap bertahan dengan prinsip2 lama? itu tidak mungkin, kupikir.

Rekomendasi buku : "negeri sepanjang tikai" karya Jakob Sumardjo.

Jumat, 23 Januari 2015

Tadi malam, di dunia yang bukan dunia ini.

Aku bermimpi, tentang sebuah tempat dan wajah-wajah lama yang pernah aku akrabi.
Dan sebuah wajah, seseorang yang pernah ku sukai.
Aku bermimpi, kami bercengkrama layaknya teman lama seperti dulu.
Membicarakan banyak hal dan banyak mimpi seperti dulu.
Namun, ada tanya yang tak sempat aku lontarkan,
"Bagaimana kabarmu sekarang?",
"Bagaimana mimpi-mimpimu?"
....
Aku terbangun, dan menyesal.
Karena, jika bukan di dunia mimpi, aku tak tahu kapan tanya itu akan terucap.