Kamis, 18 Juni 2015

Siapa?

Kupikir aku cukup mengenalnya selama 22 tahun ini. Tentang beliau yang seorang aktivis sejati. Beliau selalu bercerita tentang masa mudanya yang penuh pertanyaan. Kemudian, beliau tumbuh dengan pencarian jati diri sedemikian rupa hingga mempertemukannya pada Tuhan yang tidak pernah dikenalkan sang ayah padanya. Karenanya, bangga betul dia pada dirinya sekarang.
Semua perjalanan yang telah ia lewati, semua konsep hidup yang telah ia rancang dengan keyakinanannya, itulah jalan hidup yang ia inginkan. Menjadi seorang ayah, ia tak ingin mengulangi kesalahan ayahnya. Sebagai seorang suami, ia tahu ialah imam keluarga. Dan konsep keluarga di kepalanya menjadi harapan terbesarnya dalam hidup.
Tapi, bagaimana jika ternyata keluarga yang ia dambakan tidak mendukung dan membuat nyata harapannya?
Kupikir, aku cukup mengenalnya selama ini. Obrolan kita tentang ide-ide tokoh besar masa lalu, tentang konsep hidup yang carut marut. Tentang kehidupan ideal masing-masing. Tentang isi buku-buku penuh kalimat radikal. Aku pikir, aku mengenalnya lewat itu semua.
Namun, saat ia berjalan menjauh, menatap punggung tubuhnya yang bungkuk. Jelas, aku tak cukup memahaminya. Terlebih, saat dirinya semakin menjauh dengan bayangan gelap yang tidak pernah kulihat. Lalu kusadari, aku tidak lagi mengenalnya.
Bapak, siapa dirimu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar