Sabtu, 20 Juni 2015

Hatinya, yang berada di tengah rimba

Ada hati yang tengah berjalan di tengah rimba, penuh belukar. Aku tidak tahu, wajah bingungnya karena ia tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Atau, ia tengah memilih untuk pulang atau pergi, menuju tempat yang belum pernah ia temui. Iya, hati di tengah rimba itu tengah bersemangat untuk petualangan menantang.
Aku, aku hanya menunggu di ujung jalan pulangnya. Menunggu, kemana hati itu akan melangkah. Tapi, aku tak hanya menunggu sendiri. Di tanganku, aku membawa sumpah yang pernah hati itu ucap. Tentang kembali pulang dan akan selalu kembali pulang pada hati yang telah menjadi teman hidupnya puluhan tahun.
Tapi, tenang saja. Tidak ada ketegangan diantara kami. Aku menatap hati itu dari jauh dengaan senyum tipis. Aku tak menuntut apapun. Aku hanya ingin melihat keputusannya. Toh, perjanjian dan sumpah itu pun, bukan sumpahku. Aku tak pernah berharap banyak pada hubungan dengan sumpah yang memberatkan itu.
Namun, bukan berarti tak ada rasa pilu di diriku. Kecewa selalu ada, bahkan sebelum ia mengambil keputusan untuk berada di rimba itu. Karena, ternyata aku menyadarinya. Bahwa aku tidak begitu mengenalnya selama 22 tahun ini.
Aku tidak mengenalnya, kala ia memutuskan kebingungan sendiri di tengah rimba itu.
Hey, engkau yang selalu kupanggil 'bapak' kemana hatimu akan melangkah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar