Ada fenomena yang aneh akhir-akhir ini. Sebuah buku kontroversial beredar di publik. Maaf, aku memakai kata kontroversi agar mainstream dengan pemberitaan yang ada, walaupun, jujur, ini sangat menggelikan.
Buku ini berisi mengenai fenomena gaya berpacaran anak-anak muda generasi kekinian, bahkan judul bukunya saja bisa cukup membuat melotot para orang tua kolot yang jujur dengan prinsip hidupnya. "Saatnya Aku Belajar Pacaran". Haah, lalu, ternyata bukan saja orang tua kolot dengan prinsip yang melotot, tapi semua orang! semua orang meradang. Orang tua, guru, bahkan para pengguna internet, berarti tidak dipungkiri berbagai generasi dan kalangan pun ikut mengecam.
Namun, mengapa saya katakan hal ini menggelikan adalah, kekonyolan pengecaman tersebut. Dilansir dari salah satu media berita online, kumpulan guru memprotes dan meminta perhatian Presiden Jokowi untuk mengurusi kasus buku tersebut. Kata mereka, isi buku ini melanggar norma sosial yang berlaku di masyarakat. Pikiran sinis saya berkata, memangnya norma sosial apa yang ada di masyarakat kita sekarang?
Ditambah lagi, media online pun ikut mengecam, di sisi lain, pemberitaan mereka dari kanal sejenis life atau masalah seputar percintaan secara jelas mendukung aksi yang namanya, 'menemukan pasangan dan berkasih-kasih'. Lagipula bukankah jelas diawal semua pemberitaan mengatakan bahwa buku kontroversi ini menggambarkan fenomena gaya berpacaran anak-anak muda sekarang. Lalu, mengapa gerah ketika ada pihak yang dengan jujur dan terlanjur vulgar membuka kebobrokan norma sosial yang kita agung-agungkan dengan semu?
Saya tidak bisa bilang sayang sebenarnya mendukung buku ini atau tidak, saya hanya geli melihat aksi kecam mengecam yang terlihat konyol ini saja. Toh walaupun ada atau tidaknya buku ini fenomena anak muda sekarang memang jelas, free sex dimana-mana. Dan norma sosial? itu hanya slogan untuk kalimat-kalimat pembuka di pidato para tetua.
Jika, kecaman ini jujur datang dikarenakan kekhawatiran semakin mengakarnya fenomena gaya anak muda yang berlebih batas ini, mari kita bicarakan solusinya. Walaupun saya sangsi, membahas masalah norma dan etika, terasa terlalu absurd dan usang. Karena, kita terbiasa mengabaikan mereka dan menjadikannya hanya kata-kata pemanis di bibir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar