Selasa, 10 Februari 2015

Beliau menulis Kesaksian Indonesia, Saya saksi Kenyataan Indonesia.

Ingin sekali bertemu dengan Bapak Jakob Sumardjo, penulis kumpulan essai '100 Esai Kesaksian Indonesia'. Beliau banyak sekali menyebutkan mengenai bagaimana seharusnya kita belajar pada masyarakat lokal, dan memperhatikan nilai-nilai minoritas yang sebenarnya adalah 'isi' dari Indonesia.
Katanya, masyarakat lama Indonesia itu hanya mengenal 'perang ayunan', Singkatnya, menurut bahasaku sendiri, perang ayunan yang beliau maksudkan adalah perang yang 'fair'. Lawan memiliki kekuatan yang sama dengan kita, jika kita berperang dengan lawan yang lemah, kemenangan yang kita dapat bukanlah kemenangan yang terhormat. Yap. Harga diri! Hal itulah yang dulu masyarakat ini punya. Harga diri dan kerja keras, menurut beliau.
Karenannya, beliau membandingkan dengan kehidupan modern di tengah sistem kapitalistik ini, masyarakat modern tidak mengenal 'perang ayunan'. Itu hal terbodoh yang akan masyarakat modern lakukan untuk bertahan hidup. Karena, kini aturannya adalah siapa yang lebih kuat, lebih bermodal, dan lebih banyak golongannya adalah pemenangnya. Dan, berperang dengan lawan yang tidak memiliki apapun adalah pertarungan yang orang-orang ini incar. "sedikit usaha, hasil yang banyak".
Dalam kumpulan esai-nya, beliau begitu prihatin dengan keadaan masyarakat modern dengan semua sistem modern dunia yang menurutnya, menuntut manusia 'memakan' manusia lainnya.
Saya tersindir. Saya tidak ingin disamakan dengan makhluk tak berakal itu.
Tapi, permasalahannya adalah, saya tidak hidup di zaman dimana orang-orang hidup dengan prinsip se-fair itu. Saya hidup di tengah dunia dengan sistem yang terlanjur tidak manusiawi ini. DAN, buruknya, saya berpikir, saya pun produk sistem ini. Karena saya berpikir seperti sistem ini. Saya berpikir, bahwa untuk bertahan hidup apapun yang realistik seharusnya saya ambil. Dan, yang lebih baik adalah, dengan usaha yang minimal saya bisa mendapatkan hasil maksimal. Bukankah itu teori yang sangat mengagumkan, Tuan? Bagaimana mungkin, kita, masyarakat modern ini kudu kembali menengok kebudayaan masa lalu, yang 'lurus' dan jujur itu? Kehidupan sendiri berjalan begitu cepat, dan kita disarankan tetap bertahan dengan prinsip2 lama? itu tidak mungkin, kupikir.

Rekomendasi buku : "negeri sepanjang tikai" karya Jakob Sumardjo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar