Senin, 20 April 2015

Pemimpin tai kucing

Setidaknya, se-sederhana-sederhananya seorang pemimpin negara adalah,
mereka yang tidak perlu berkonflik dengan negara lain atas nama tanah,
mereka yang tidak perlu beradu senjata dengan negara lain atas nama minya,
mereka yang tidak perlu beradu bom dengan negara lain atas nama persekutuan,
lalu, mereka melebeli semua masalah itu atas nama tanah air, demi rakyat, dan demi nama baik negara.
Lalu apa?
kami, yang hanya seorang ayah dari dua anak kecil dengan pekerjaan seadanya lah yang menjadi korban.
kami, yang hanya seorang ibu dari bayi berusia dua hari dengan suami suami sederhana lah yang menjadi korban.
kami, yang hanya seorang pemuda sekolahan tingkat pertama, yang ingin menikmati pengalaman sebagai anak remaja, berkarya, jatuh cinta, memberontak, tapi, tidak bisa. Karena kamilah yang juga menjadi korban.
kami, yang hanya seorang gadis belia dengan banyak agenda dan rencana-rencana kecil tentang akhir minggu yang indah, namun gagal. Kenapa? karena kamilah pula korban kalian.
kami, yang hanya seorang bocah belum genap 6 tahun. kami bertanya pada ibu yang selalu berurair air mata "Ibu, kenapa ayah tidak ada? dimana?"
"Ibu, kenapa semuanya hancur?"
"Ibu, kenapa aku gak boleh main keluar?"
"Ibu, mereka kenapa?" menunjuk pada para pelaku perang yang saling menembak.
"Ibu... ibu dimana?"
Tapi, ada juga korban lainnya, yang dilema.
kami, yang hanya seorang prajurit dengan mimpi besar menjadi ksatria negara. Tapi apa? Kenapa kami harus membunuhi orang-orang tak berdaya itu? Kami, korban. Korban pilihan kami, hidup kami atas nama komando.
Lihatlat pemimpin negara!
Tanyakan pada dirimu, kala kau dengan bangganya menaiki kursi pemimpin itu.
"Untuk siapa kau menjadi pemimpin?"
"Untuk apa kau menjadi pemimpin?"
Jika untuk saling menghancurkan negara lain, layaknya seorang bocah yang mendapatkan pesawat barunya dan bersaing untuk saling menghancurkan pesawat lainnya. Turunlah segera. Kami tidak perlu pemimpin macam itu. Bahkan, mungkin kami tidak perlu pemerintahan yang hanya menindas kami. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar