Rabu, 24 Juni 2015

Niat suci?

Bung, ada judul berita yang menggelikan hari ini. "Wakil Ketua DPR : Usulan Dana Aspirasi Didasari Niat Suci"
Aku tidak tahu, apakah aku salah memahami jalannya dunia atau memang beginilah faktanya. Tapi aku sedang muak-muaknya dengan istilah itu, "niat suci". Terlebih jika dua kata itu terlontar dari mulut seorang pejabat.
Bukan, aku tidak punya masalah dengan sosok personal yang tengah menjabat jadi wakil ketua DPR tercintah kita itu. Bahkan aku tak berminat mencari tahu.
Aku hanya bermasalah dengan mulut pejabat. Kalau kata lagu, "engkau yang berjanji, engkau yang mengingkari" *bener bukan sih itu lagu? entahlah.
Tuhan, omong kosong apa lagi ini?

Sabtu, 20 Juni 2015

Hatinya, yang berada di tengah rimba

Ada hati yang tengah berjalan di tengah rimba, penuh belukar. Aku tidak tahu, wajah bingungnya karena ia tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Atau, ia tengah memilih untuk pulang atau pergi, menuju tempat yang belum pernah ia temui. Iya, hati di tengah rimba itu tengah bersemangat untuk petualangan menantang.
Aku, aku hanya menunggu di ujung jalan pulangnya. Menunggu, kemana hati itu akan melangkah. Tapi, aku tak hanya menunggu sendiri. Di tanganku, aku membawa sumpah yang pernah hati itu ucap. Tentang kembali pulang dan akan selalu kembali pulang pada hati yang telah menjadi teman hidupnya puluhan tahun.
Tapi, tenang saja. Tidak ada ketegangan diantara kami. Aku menatap hati itu dari jauh dengaan senyum tipis. Aku tak menuntut apapun. Aku hanya ingin melihat keputusannya. Toh, perjanjian dan sumpah itu pun, bukan sumpahku. Aku tak pernah berharap banyak pada hubungan dengan sumpah yang memberatkan itu.
Namun, bukan berarti tak ada rasa pilu di diriku. Kecewa selalu ada, bahkan sebelum ia mengambil keputusan untuk berada di rimba itu. Karena, ternyata aku menyadarinya. Bahwa aku tidak begitu mengenalnya selama 22 tahun ini.
Aku tidak mengenalnya, kala ia memutuskan kebingungan sendiri di tengah rimba itu.
Hey, engkau yang selalu kupanggil 'bapak' kemana hatimu akan melangkah?

Ibu, dunia ini aneh

Ibu, kehidupan sangat aneh. Aku sama sekali tidak mengerti. Dulu engkau pernah berkata, “Hidup sesuai aturan Tuhan kita, dan berbuat baik pada sesama. Cukup dengan itu, kau akan baik-baik saja.” Dulu aku tidak mengerti aturan Tuhan yang mana yang harus kuikuti. Aku hanya mengikuti Tuhanmu ibu. Lalu kemudian, setelah aku belajar membaca dan setiap hari berangkat ke sekolah, bertemu teman-teman dan banyak orang. Aku mengenal Tuhan yang lain. Aku tidak tahu Tuhan ada sebanyak itu, Ibu.
Kemudian, tentang berbuat baik. Aku melakukannya ibu. Dulu, ketika aku masih tidak mengerti bagaimana jalannya dunia ini. Aku selalu memberikan uang koin yang tak seberapa itu pada mereka yang mengulurkan tangannya padaku dengan wajah lapar, baju kotor dan tanpa sendal. Aku juga menolong temanku yang selalu dikerjai teman sekelas karena selalu datang ke sekolah dengan baju seragam yang kotor, dia juga sedikit bau. Tapi aku tidak protes. Karena aku tahu dia hanya punya satu baju. Kasihan kan ibu, tapi semua orang di kelasku malah menertawakan dan menjailinya. Padahal, harusnya tidak seperti itu kan ibu. Makannya aku selalu membelanya. Dan memintamu membelikan baju seragam yang baru. Waktu itu, aku tidak punya uang untuk membelikannya sendiri. Setelah itu, tidak ada yang menertawakannya lagi.
Tapi, ibu. Setelah aku bertambah besar dan tinggi. Ternyata kebaikan-kebaikan kecil yang kubuat tak selalu bisa membantu mereka yang membutuhkan. Ibu, bahkan kini aku bertanya “Apa itu kebaikan?” Aku melihat ternyata tidak ada yang berubah, bu. Dengan uang koin segenggam pun aku tidak bisa mengubah mereka yang selalu kelaparan.
Dengan makian dan ceramah pun, aku tidak bisa menghentikan mereka yang terus memaki dan menertawakan orang lain yang tampak berbeda dari orang biasa.
Ibu, ternyata semakin aku besar dunia semakin rumit. Mengapa banyak nenek-nenek lusuh dengan bayi kurus di pangkuannya tak tersapa oleh dunia? Siapa yang harus memberi mereka koin yang banyak agar tak lagi mengais di tempat itu? Atau, apakah memang seperti ini dunia berjalan, bahwa harus ada orang-orang di pinggir jalan itu, meminta-minta setiap hari?
Ibu, dunia bukan hanya rumit, tapi tak masuk akal. Aku melihat layar tipi, iya ibu, dari layar itu pun kita bisa melihat bagaimana dunia membuat panggungnya sendiri. Ternyata ibu, orang-orang kelaparan itu bisa saja ditolong, asalkan, diliput dulu oleh media. Tapi tidak hanya itu, ibu. Karena masih ada tahap selanjutnya. Mereka yang hanya diliput sekilas, hidupnya tidak akan berubah. Mereka hanya mendapat beberapa paket doa dan air mata yang tak begitu lama. Karena, yang punya kisah memilukan yang paling fantastis lah yang akan bertahan populer di layar kaca. Dan seketika semua mata dunia menatapnya. Memberi mereka jutaan cinta dan kasih sayang dalam sekejap.
Ibu, aku tidak sinis pada mereka yang beruntung itu. Aku bersyukur, karena hidup mereka akan sedikit berubah. Aku hanya sinis pada dunia, bagaimana proses dunia menyeleksi siapa yang dapat diberi makan dan tidak. Dunia paling tahu, bagaimana memanfaatkan hati nurani manusia.
Ibu, selain cara kerja tolol media-media itu mengeksploitasi ketidakberdayaan manusia. Banyak hal absurd lainnya di dunia yang semakin tua tapi tak tahu diri ini. Ialah keyakinan, ibu. Ini hal paling absurd yang diasuh dunia selama berabad-abad ini.
Bukankah sudah kukatakan di awal tadi, bu. Semakin aku mengenal dunia, aku bertemu dengan banyak Tuhan. Tentu dengan keyakinannya masing-masing. Kemudian, aku menyadari bahwa Tuhan dan keyakinannya adalah hak setiap orang. Seperti Ibu, dengan Tuhanmu. Ibu hidup dengan keyakinan akan Tuhanmu dan aturanNya. Bagi ibu, yang salah menurut aturan Tuhanmu, adalah hal salah juga untukmu.
Aku melihat hal ekstrim dari cara hidup seperti itu. Untungnya, aku tak menemukannya di Ibu. Ialah aksi tindak menindas pada manusia lain atas nama Tuhan dan keyakinan mereka. Contohnya? Sudahlah, ibu sudah tahu. Kita melihatnya dengan jelas setiap hari. Dulu aku tidak menyadarinya, ketika kakek sebelah rumah yang tidak pernah mau menyapaku atau ibuku. Dulu, kupikir dia hanyalah seorang kakeh tua dengan wajah jahat dan selalu cemberut. Ternyata tidak, yang kutahu selanjutnya adalah, tentang aliran kepercayaan yang tak sama. Bagi sang kakek, kami hanyalah kumpulan orang-orang sesat tak tahu agama. Dan, bagi keluarga besar Ibu kakek tersebut hanyalah orang tua dengan cara hidup yang salah.
Ibu, sebenarnya masih banyak sekali kejanggalan yang ingin kuceritakan. Tolong aku ibu, karena engkau kan, hidup lebih lama dariku. Bagaimana engkau bertahan begitu lama di dunia yang aneh ini? Benarkah hanya terus percaya pada Tuhanmu semuanya baik-baik saja? Bahkan ketika, bapak meninggalkan kita dengan wanita lain. Apakah engaku masih berkata semuanya akan baik-baik saja selama Tuhanmu ada?
Ibu, tolong jawab aku.

[20062015]

Kamis, 18 Juni 2015

Siapa?

Kupikir aku cukup mengenalnya selama 22 tahun ini. Tentang beliau yang seorang aktivis sejati. Beliau selalu bercerita tentang masa mudanya yang penuh pertanyaan. Kemudian, beliau tumbuh dengan pencarian jati diri sedemikian rupa hingga mempertemukannya pada Tuhan yang tidak pernah dikenalkan sang ayah padanya. Karenanya, bangga betul dia pada dirinya sekarang.
Semua perjalanan yang telah ia lewati, semua konsep hidup yang telah ia rancang dengan keyakinanannya, itulah jalan hidup yang ia inginkan. Menjadi seorang ayah, ia tak ingin mengulangi kesalahan ayahnya. Sebagai seorang suami, ia tahu ialah imam keluarga. Dan konsep keluarga di kepalanya menjadi harapan terbesarnya dalam hidup.
Tapi, bagaimana jika ternyata keluarga yang ia dambakan tidak mendukung dan membuat nyata harapannya?
Kupikir, aku cukup mengenalnya selama ini. Obrolan kita tentang ide-ide tokoh besar masa lalu, tentang konsep hidup yang carut marut. Tentang kehidupan ideal masing-masing. Tentang isi buku-buku penuh kalimat radikal. Aku pikir, aku mengenalnya lewat itu semua.
Namun, saat ia berjalan menjauh, menatap punggung tubuhnya yang bungkuk. Jelas, aku tak cukup memahaminya. Terlebih, saat dirinya semakin menjauh dengan bayangan gelap yang tidak pernah kulihat. Lalu kusadari, aku tidak lagi mengenalnya.
Bapak, siapa dirimu?