Ibu, kehidupan
sangat aneh. Aku sama sekali tidak mengerti. Dulu engkau pernah berkata, “Hidup
sesuai aturan Tuhan kita, dan berbuat baik pada sesama. Cukup dengan itu, kau akan
baik-baik saja.” Dulu aku tidak mengerti aturan Tuhan yang mana yang harus
kuikuti. Aku hanya mengikuti Tuhanmu ibu. Lalu kemudian, setelah aku belajar
membaca dan setiap hari berangkat ke sekolah, bertemu teman-teman dan banyak
orang. Aku mengenal Tuhan yang lain. Aku tidak tahu Tuhan ada sebanyak itu,
Ibu.
Kemudian,
tentang berbuat baik. Aku melakukannya ibu. Dulu, ketika aku masih tidak
mengerti bagaimana jalannya dunia ini. Aku selalu memberikan uang koin yang tak
seberapa itu pada mereka yang mengulurkan tangannya padaku dengan wajah lapar,
baju kotor dan tanpa sendal. Aku juga menolong temanku yang selalu dikerjai teman
sekelas karena selalu datang ke sekolah dengan baju seragam yang kotor, dia
juga sedikit bau. Tapi aku tidak protes. Karena aku tahu dia hanya punya satu
baju. Kasihan kan ibu, tapi semua orang di kelasku malah menertawakan dan
menjailinya. Padahal, harusnya tidak seperti itu kan ibu. Makannya aku selalu
membelanya. Dan memintamu membelikan baju seragam yang baru. Waktu itu, aku
tidak punya uang untuk membelikannya sendiri. Setelah itu, tidak ada yang
menertawakannya lagi.
Tapi, ibu.
Setelah aku bertambah besar dan tinggi. Ternyata kebaikan-kebaikan kecil yang
kubuat tak selalu bisa membantu mereka yang membutuhkan. Ibu, bahkan kini aku
bertanya “Apa itu kebaikan?” Aku melihat ternyata tidak ada yang berubah, bu.
Dengan uang koin segenggam pun aku tidak bisa mengubah mereka yang selalu
kelaparan.
Dengan makian
dan ceramah pun, aku tidak bisa menghentikan mereka yang terus memaki dan
menertawakan orang lain yang tampak berbeda dari orang biasa.
Ibu, ternyata
semakin aku besar dunia semakin rumit. Mengapa banyak nenek-nenek lusuh dengan
bayi kurus di pangkuannya tak tersapa oleh dunia? Siapa yang harus memberi
mereka koin yang banyak agar tak lagi mengais di tempat itu? Atau, apakah
memang seperti ini dunia berjalan, bahwa harus ada orang-orang di pinggir jalan
itu, meminta-minta setiap hari?
Ibu, dunia
bukan hanya rumit, tapi tak masuk akal. Aku melihat layar tipi, iya ibu, dari
layar itu pun kita bisa melihat bagaimana dunia membuat panggungnya sendiri.
Ternyata ibu, orang-orang kelaparan itu bisa saja ditolong, asalkan, diliput
dulu oleh media. Tapi tidak hanya itu, ibu. Karena masih ada tahap selanjutnya.
Mereka yang hanya diliput sekilas, hidupnya tidak akan berubah. Mereka hanya
mendapat beberapa paket doa dan air mata yang tak begitu lama. Karena, yang
punya kisah memilukan yang paling fantastis lah yang akan bertahan populer di
layar kaca. Dan seketika semua mata dunia menatapnya. Memberi mereka jutaan
cinta dan kasih sayang dalam sekejap.
Ibu, aku tidak
sinis pada mereka yang beruntung itu. Aku bersyukur, karena hidup mereka akan
sedikit berubah. Aku hanya sinis pada dunia, bagaimana proses dunia menyeleksi
siapa yang dapat diberi makan dan tidak. Dunia paling tahu, bagaimana
memanfaatkan hati nurani manusia.
Ibu, selain
cara kerja tolol media-media itu mengeksploitasi ketidakberdayaan manusia.
Banyak hal absurd lainnya di dunia yang semakin tua tapi tak tahu diri ini. Ialah
keyakinan, ibu. Ini hal paling absurd yang diasuh dunia selama berabad-abad
ini.
Bukankah sudah
kukatakan di awal tadi, bu. Semakin aku mengenal dunia, aku bertemu dengan
banyak Tuhan. Tentu dengan keyakinannya masing-masing. Kemudian, aku menyadari
bahwa Tuhan dan keyakinannya adalah hak setiap orang. Seperti Ibu, dengan
Tuhanmu. Ibu hidup dengan keyakinan akan Tuhanmu dan aturanNya. Bagi ibu, yang
salah menurut aturan Tuhanmu, adalah hal salah juga untukmu.
Aku melihat hal
ekstrim dari cara hidup seperti itu. Untungnya, aku tak menemukannya di Ibu. Ialah
aksi tindak menindas pada manusia lain atas nama Tuhan dan keyakinan mereka.
Contohnya? Sudahlah, ibu sudah tahu. Kita melihatnya dengan jelas setiap hari.
Dulu aku tidak menyadarinya, ketika kakek sebelah rumah yang tidak pernah mau
menyapaku atau ibuku. Dulu, kupikir dia hanyalah seorang kakeh tua dengan wajah
jahat dan selalu cemberut. Ternyata tidak, yang kutahu selanjutnya adalah,
tentang aliran kepercayaan yang tak sama. Bagi sang kakek, kami hanyalah
kumpulan orang-orang sesat tak tahu agama. Dan, bagi keluarga besar Ibu kakek
tersebut hanyalah orang tua dengan cara hidup yang salah.
Ibu, sebenarnya
masih banyak sekali kejanggalan yang ingin kuceritakan. Tolong aku ibu, karena
engkau kan, hidup lebih lama dariku. Bagaimana engkau bertahan begitu lama di
dunia yang aneh ini? Benarkah hanya terus percaya pada Tuhanmu semuanya
baik-baik saja? Bahkan ketika, bapak meninggalkan kita dengan wanita lain.
Apakah engaku masih berkata semuanya akan baik-baik saja selama Tuhanmu ada?
Ibu, tolong
jawab aku.
[20062015]