Suara hati mereka menjerit pada ketidakadilan dan keserakahan penguasa. Bukan hanya di ujung Timur sana, tapi di setiap sudut dunia yang tidak berdaya. Ketika dunia dengan cepatnya berganti sistem dan aturan, siapa berduit, siapa bertahta, merekalah yang penuh digdaya. Lalu, apa kabar dengan mereka lainnya yang tidak berduit dan tidak bertahta. Daya apa yang mereka punya selain, jeritan hati, meminta harapan? Ada dan banyak yang mencoba dengan upaya dan kepercayaan yang dimilikinya. Bertahun-tahun, menyeduh kopi. Atau, berbulan-bulan pergi pagi dan pulang subuh. Dengan keyakinan yang tak kunjung habis, yang tak habis kupikir. Bertahun-tahun, dan mereka terus mencoba. Apa daya yang mereka punya? duit? tahta? bukan. Hanya keyakinan dan harapan hari yang lebih baik.
Namun, adakah keyakinan dan harap berguna di dunia seperti ini? Jangan tanya pada langit yang tak mendengar itu. Tanya pada kepalamu sendiri.
Selasa, 24 Februari 2015
Rabu, 11 Februari 2015
Pihak ini menyuguhkan 'kenyataan', tapi pihak lain malu mengakui 'kenyataan' itu.
Ada fenomena yang aneh akhir-akhir ini. Sebuah buku kontroversial beredar di publik. Maaf, aku memakai kata kontroversi agar mainstream dengan pemberitaan yang ada, walaupun, jujur, ini sangat menggelikan.
Buku ini berisi mengenai fenomena gaya berpacaran anak-anak muda generasi kekinian, bahkan judul bukunya saja bisa cukup membuat melotot para orang tua kolot yang jujur dengan prinsip hidupnya. "Saatnya Aku Belajar Pacaran". Haah, lalu, ternyata bukan saja orang tua kolot dengan prinsip yang melotot, tapi semua orang! semua orang meradang. Orang tua, guru, bahkan para pengguna internet, berarti tidak dipungkiri berbagai generasi dan kalangan pun ikut mengecam.
Namun, mengapa saya katakan hal ini menggelikan adalah, kekonyolan pengecaman tersebut. Dilansir dari salah satu media berita online, kumpulan guru memprotes dan meminta perhatian Presiden Jokowi untuk mengurusi kasus buku tersebut. Kata mereka, isi buku ini melanggar norma sosial yang berlaku di masyarakat. Pikiran sinis saya berkata, memangnya norma sosial apa yang ada di masyarakat kita sekarang?
Ditambah lagi, media online pun ikut mengecam, di sisi lain, pemberitaan mereka dari kanal sejenis life atau masalah seputar percintaan secara jelas mendukung aksi yang namanya, 'menemukan pasangan dan berkasih-kasih'. Lagipula bukankah jelas diawal semua pemberitaan mengatakan bahwa buku kontroversi ini menggambarkan fenomena gaya berpacaran anak-anak muda sekarang. Lalu, mengapa gerah ketika ada pihak yang dengan jujur dan terlanjur vulgar membuka kebobrokan norma sosial yang kita agung-agungkan dengan semu?
Saya tidak bisa bilang sayang sebenarnya mendukung buku ini atau tidak, saya hanya geli melihat aksi kecam mengecam yang terlihat konyol ini saja. Toh walaupun ada atau tidaknya buku ini fenomena anak muda sekarang memang jelas, free sex dimana-mana. Dan norma sosial? itu hanya slogan untuk kalimat-kalimat pembuka di pidato para tetua.
Jika, kecaman ini jujur datang dikarenakan kekhawatiran semakin mengakarnya fenomena gaya anak muda yang berlebih batas ini, mari kita bicarakan solusinya. Walaupun saya sangsi, membahas masalah norma dan etika, terasa terlalu absurd dan usang. Karena, kita terbiasa mengabaikan mereka dan menjadikannya hanya kata-kata pemanis di bibir.
Buku ini berisi mengenai fenomena gaya berpacaran anak-anak muda generasi kekinian, bahkan judul bukunya saja bisa cukup membuat melotot para orang tua kolot yang jujur dengan prinsip hidupnya. "Saatnya Aku Belajar Pacaran". Haah, lalu, ternyata bukan saja orang tua kolot dengan prinsip yang melotot, tapi semua orang! semua orang meradang. Orang tua, guru, bahkan para pengguna internet, berarti tidak dipungkiri berbagai generasi dan kalangan pun ikut mengecam.
Namun, mengapa saya katakan hal ini menggelikan adalah, kekonyolan pengecaman tersebut. Dilansir dari salah satu media berita online, kumpulan guru memprotes dan meminta perhatian Presiden Jokowi untuk mengurusi kasus buku tersebut. Kata mereka, isi buku ini melanggar norma sosial yang berlaku di masyarakat. Pikiran sinis saya berkata, memangnya norma sosial apa yang ada di masyarakat kita sekarang?
Ditambah lagi, media online pun ikut mengecam, di sisi lain, pemberitaan mereka dari kanal sejenis life atau masalah seputar percintaan secara jelas mendukung aksi yang namanya, 'menemukan pasangan dan berkasih-kasih'. Lagipula bukankah jelas diawal semua pemberitaan mengatakan bahwa buku kontroversi ini menggambarkan fenomena gaya berpacaran anak-anak muda sekarang. Lalu, mengapa gerah ketika ada pihak yang dengan jujur dan terlanjur vulgar membuka kebobrokan norma sosial yang kita agung-agungkan dengan semu?
Saya tidak bisa bilang sayang sebenarnya mendukung buku ini atau tidak, saya hanya geli melihat aksi kecam mengecam yang terlihat konyol ini saja. Toh walaupun ada atau tidaknya buku ini fenomena anak muda sekarang memang jelas, free sex dimana-mana. Dan norma sosial? itu hanya slogan untuk kalimat-kalimat pembuka di pidato para tetua.
Jika, kecaman ini jujur datang dikarenakan kekhawatiran semakin mengakarnya fenomena gaya anak muda yang berlebih batas ini, mari kita bicarakan solusinya. Walaupun saya sangsi, membahas masalah norma dan etika, terasa terlalu absurd dan usang. Karena, kita terbiasa mengabaikan mereka dan menjadikannya hanya kata-kata pemanis di bibir.
Selasa, 10 Februari 2015
Beliau menulis Kesaksian Indonesia, Saya saksi Kenyataan Indonesia.
Ingin sekali bertemu dengan Bapak Jakob Sumardjo, penulis kumpulan essai '100 Esai Kesaksian Indonesia'. Beliau banyak sekali menyebutkan mengenai bagaimana seharusnya kita belajar pada masyarakat lokal, dan memperhatikan nilai-nilai minoritas yang sebenarnya adalah 'isi' dari Indonesia.
Katanya, masyarakat lama Indonesia itu hanya mengenal 'perang ayunan', Singkatnya, menurut bahasaku sendiri, perang ayunan yang beliau maksudkan adalah perang yang 'fair'. Lawan memiliki kekuatan yang sama dengan kita, jika kita berperang dengan lawan yang lemah, kemenangan yang kita dapat bukanlah kemenangan yang terhormat. Yap. Harga diri! Hal itulah yang dulu masyarakat ini punya. Harga diri dan kerja keras, menurut beliau.
Karenannya, beliau membandingkan dengan kehidupan modern di tengah sistem kapitalistik ini, masyarakat modern tidak mengenal 'perang ayunan'. Itu hal terbodoh yang akan masyarakat modern lakukan untuk bertahan hidup. Karena, kini aturannya adalah siapa yang lebih kuat, lebih bermodal, dan lebih banyak golongannya adalah pemenangnya. Dan, berperang dengan lawan yang tidak memiliki apapun adalah pertarungan yang orang-orang ini incar. "sedikit usaha, hasil yang banyak".
Dalam kumpulan esai-nya, beliau begitu prihatin dengan keadaan masyarakat modern dengan semua sistem modern dunia yang menurutnya, menuntut manusia 'memakan' manusia lainnya.
Saya tersindir. Saya tidak ingin disamakan dengan makhluk tak berakal itu.
Tapi, permasalahannya adalah, saya tidak hidup di zaman dimana orang-orang hidup dengan prinsip se-fair itu. Saya hidup di tengah dunia dengan sistem yang terlanjur tidak manusiawi ini. DAN, buruknya, saya berpikir, saya pun produk sistem ini. Karena saya berpikir seperti sistem ini. Saya berpikir, bahwa untuk bertahan hidup apapun yang realistik seharusnya saya ambil. Dan, yang lebih baik adalah, dengan usaha yang minimal saya bisa mendapatkan hasil maksimal. Bukankah itu teori yang sangat mengagumkan, Tuan? Bagaimana mungkin, kita, masyarakat modern ini kudu kembali menengok kebudayaan masa lalu, yang 'lurus' dan jujur itu? Kehidupan sendiri berjalan begitu cepat, dan kita disarankan tetap bertahan dengan prinsip2 lama? itu tidak mungkin, kupikir.
Rekomendasi buku : "negeri sepanjang tikai" karya Jakob Sumardjo.
Katanya, masyarakat lama Indonesia itu hanya mengenal 'perang ayunan', Singkatnya, menurut bahasaku sendiri, perang ayunan yang beliau maksudkan adalah perang yang 'fair'. Lawan memiliki kekuatan yang sama dengan kita, jika kita berperang dengan lawan yang lemah, kemenangan yang kita dapat bukanlah kemenangan yang terhormat. Yap. Harga diri! Hal itulah yang dulu masyarakat ini punya. Harga diri dan kerja keras, menurut beliau.
Karenannya, beliau membandingkan dengan kehidupan modern di tengah sistem kapitalistik ini, masyarakat modern tidak mengenal 'perang ayunan'. Itu hal terbodoh yang akan masyarakat modern lakukan untuk bertahan hidup. Karena, kini aturannya adalah siapa yang lebih kuat, lebih bermodal, dan lebih banyak golongannya adalah pemenangnya. Dan, berperang dengan lawan yang tidak memiliki apapun adalah pertarungan yang orang-orang ini incar. "sedikit usaha, hasil yang banyak".
Dalam kumpulan esai-nya, beliau begitu prihatin dengan keadaan masyarakat modern dengan semua sistem modern dunia yang menurutnya, menuntut manusia 'memakan' manusia lainnya.
Saya tersindir. Saya tidak ingin disamakan dengan makhluk tak berakal itu.
Tapi, permasalahannya adalah, saya tidak hidup di zaman dimana orang-orang hidup dengan prinsip se-fair itu. Saya hidup di tengah dunia dengan sistem yang terlanjur tidak manusiawi ini. DAN, buruknya, saya berpikir, saya pun produk sistem ini. Karena saya berpikir seperti sistem ini. Saya berpikir, bahwa untuk bertahan hidup apapun yang realistik seharusnya saya ambil. Dan, yang lebih baik adalah, dengan usaha yang minimal saya bisa mendapatkan hasil maksimal. Bukankah itu teori yang sangat mengagumkan, Tuan? Bagaimana mungkin, kita, masyarakat modern ini kudu kembali menengok kebudayaan masa lalu, yang 'lurus' dan jujur itu? Kehidupan sendiri berjalan begitu cepat, dan kita disarankan tetap bertahan dengan prinsip2 lama? itu tidak mungkin, kupikir.
Rekomendasi buku : "negeri sepanjang tikai" karya Jakob Sumardjo.
Langganan:
Komentar (Atom)