Senin, 17 Februari 2014

katanya, mereka calon pemimpin-generasi perubah...

Kami pribumi, yang tersudut karena kedatangan mereka. Tapi kami beri mereka ruang, karena, katanya, mereka generasi perubah. Yang akan membantu kami. Benarkah? Kami sangat berharap~
Dulu kota kami tak segersang ini, tak sepanas ini pula. Entahlah, mungkin karena pembangunan disana sini semua pohon kami hilang. Tergantikan bangunan yang tinggi – tinggi itu. Apa kata mereka? apartemen? Entah, kami tidak mengerti apa itu apartemen. Tapi, kami tak keberatan ini semua demi kenyamanan mereka, para penolong kami kelak.
Ada yang aneh, mereka berbeda – beda. Kami pikir, mereka semua, yang setiap pagi berjalan dengan gagah menuju gerbang itu adalah calon penolong kami. Tapi kami ragu, beberapa memang tersenyum ramah layaknya orang baik. Sayangnya, tak sedikit juga dari mereka yang bahkan seperti tak pernah melihat kami ada. Kami seperti tuan rumah yang tak terlihat oleh tamunya. Apakah kami harus tetap memberi kenyamanan pada mereka?
Beberapa hari yang lalu kami mendengar berita yang menghebohkan, mereka turun ke jalan, menuju kota besar yang panas dan lebih gersang lagi dari kota kami. Di siang hari yang panas, dengan jas – jas kebanggan mereka itu. Katanya, mereka meneriakkan nama- nama kami. Katanya, mereka sedang berjuang demi kesejahteraan kami. Kami terharu.
Kami tak mengerti bagaimana pembagian kerja diantara mereka, ketika sebagian dari mereka berpanas – panas di kota besar yang kami tak tahu dimana itu sebagian lainnya tetap berkegiatan seperti biasa. Apakah ini pembagian kerja mereka? ada yang harus tetap menjaga kami di kota kami, ada yang berjuang kesana menuju para pemimpin negeri ini. Apakah begitu? Tapi, kami mendengar bisikan lainnya. Mereka yang tidak ikut berpanas – panas itu pun tidak hanya berkegiatan seperti biasa. Sebagian lainnya melakukan banyak hal dibalik gerbang itu, katanya ada yang membuat kumpulan – kumpulan membicarakan satu dan dua hal, katanya itu kajian. Semacam diskusi, mengobrol lah yaa... kami juga sering melakukannya. Tapi, kata mereka ini berbeda, obrolan mereka lebih berisi, dengan teori yang guru – guru mereka ajarkan. Dengan ilmu yang mereka pahami. Jadi, perdebatan dalam setiap adu argumen yang akan terjadi bukan hanya bualan kosong dan menjadi debat kusir yang tak jelas. Tapi, kami tidak mengerti diskusi macam apa yang mereka lakukan di balik gerbang itu. Apakah membantu mereka yang juga turun ke jalan ke kota besar itu? kami ingin tahu, karena ini pun kan melibatkan kehidupan kami. Sayangnya, mereka jarang mengajak kami.
Hanya saja, kami masih merasa aneh. Setelah berita itu, semuanya kembali seperti biasa. Bahkan, kami pikir sebenarnya tak ada yang berbeda sedikitpun semenjak berit aitu kami dengar. Tak ada hal istimewa sedikitpun. Tak ada yang berubah dari kami. Tak ada pula yang berubah dari mereka. Mereka tetap sibuk keluar masuk gerbang itu dengan gagah, walau terkadang wajah – wajah lesu, malas, terlihat dari wajah mereka.
Beberapa dari mereka tetap masih menyapa ramah kami, ada yang hanya sapaan karena tuntutan kesopanan. Ada juga yang terkadang mengajak kami berbincang. Hal ini menyenangkan, mengenal mereka dan cara mereka berbicara, berpikir. Kami selalu memandang mereka dengan tatapan kagum, calon penyelamat kami. Yang entah kapan, akan menjadi benar – benar penyelamat kami. Dan, beberapa yang lainnya. Yang seakan tak melihat kehadiran kami. Mereka tetap seperti itu. Interaksi yang kami dan bagian mereka yang asing ini terjadi hanyalah interaksi dagang biasa. Tak lebih dan tak kurang.
            Kota kami, semakin lama semakin penuh oleh mereka. Hingga terlintas dipikiran kami sebuah pertanyaan, ‘sebanyak inikah penolong kami?’ jika benar, ini akan melegakkan. Karena masih banyak orang – orang seperti kami, di kota – kota lain selain di kota kami. Kami mendengar di kota sebrang pun sama, ada bangunan besar dengan gerbang yang besar pula. Dan mereka, yang keluar masuk seperti yang terjadi di kota kami. Apakah itu bangunan yang sama? apa yang pernah kami dengar, bangunan pencetak pemimpin bangsa? Wow, keren sekali bukan.
Dari mereka, yang terkadang mengajak kami mengobrol, kami tahu itu adalah dunia dimana pendidikan akan membentuk anak kami menjadi pemimpin. Pendidikan yang lebih tinggi dari sekolah – sekolah dengan siswanya yang memakai seragam yang ditentukan. Disana tidak ada seragam yang ditentukan. Karena semua orang yang masuk gerbang itu, adalah orang – orang dewasa yang sudah mengerti cara berpakaian yang baik. Apakah iya? Kami tak ingin mendebat, karena kami sadar diri dimana level kami. Hanya saja, beberapa dari mereka kami lihat tak seperti orang dewasa yang dapat menempatkan diri tentang cara berpakaian. Entahlah, kami tak mengerti.
            Katanya lagi, kami ingat, ketika beberapa dari mereka yang terkadang mengajak kami mengobrol bilang, ‘bangunan itu adalah tempat orang – orang dewasa yang berpikiran kritis’ apa itu kritis? Kami tidak mengerti. Katanya, ‘kritis, adalah orang – orang yang berpikir. Yang akan berkata tidak pada hal yang dianggapnya salah. Yang akan bertanya kepada segala hal yang tak dimengertinya. Yang akan kembali belajar dan mencari tahu tentang segala hal yang ada dipikirannya. Mereka, biasanya bukan penurut” kami tidak mengerti, lalu apa baiknya menjadi orang yang tidak penurut? Yang selalu protes sana – sini? Bukankah itu bikini masalah, dijawabnya dengan nada yang bijak, katanya, ‘mereka protes bukan untuk bikin masalah. Tapi, mereka protes pada permasalahan. Pada para pembuat masalah. Sayangnya....” kami menunggunya melanjutkan omongannya, apa yang ia khawatirkan. Bukankah tadi ia bilang, mereka mencoba memperbaikin kesalahan. Mereka akan melawan orang – orang yang bersalah. “Kenapa?”
            “Sayangnya, beberapa dari kami hanya bisa protes tanpa solusi yang tepat. Beberapa dari kami hanya kritis tanpa mau bergerak. Dan beberapa dari kami, sebenarnya seperti para pembuat masalah itu. Hanya omong kosong” kami tak percaya mendengarnya, mereka, tamu yang menempati kota kami, yang kami upayakan kenyamanannya, ternyata tak semua dari mereka kelak akan menjadi penolong kami.
            Lalu, apa yang akan mereka lakukan setelah selesai dengan pendidikan di balik gerbang itu? apakah akan meninggalkan kami, dan kota yang telah menjadi gersang dan panas ini? lalu, kami hanya harus kembali menunggu seseorang yang dari gerbang itu menjadi benar – benar penolong kami?
            Mereka yang terkadang mengajak kami mengobrol menceritakan hal lain tentang bangunan di balik gerbang itu, katanya “kami harus merubah sistem disana. Banyak masalah yang orang – orang sana buat. Mereka pikir bangunan itu sebagai mesin pencetak sarjana. Seharusnya bukan, kami tidak di cetak. Karena, jika iya, kami hanya akan berbentuk sama dengan para pembuat masalah itu, dan mengisi ruang – ruang di dunia ini dengan sistem mereka yang cocok dengan bentuk cetakan kami masing – masing” kami tercengang, selama ini kami berpikir bangunan di balik gerbang itu memang pencetak. Tapi, pencetak pemimpin. “Jika memang menjadi pemimpin, berarti hanya pemimpin dengan cetakan yang sama dengan pemimpin – pemimpin sebelumnya. Apa yang lebih baik?” sahutnya. Kami terdiam, benar juga, pikir kami. Jika seperti itu, tak akan ada perubahan apapun pada kami.
            “Lalu kalian akan bagaimana?” tanya kami. Mereka, yang terkadang mengajak kami mengobrol itu hanya diam. Wajahnya bingung. “Kami masih berusaha. Dengan penyadaran yang kami lakukan. Hanya saja, kami takut. Kami merasa besar kepala karena merasa kami paling sadar. Kami merasa, penyadaran yang kami lakukan akan menuju pembebasan kesadaran yang akan merubah kami. Untuk menjadi apa yang kalian inginkan, menjadi generasi perubah” kami kembali terdiam, tak begitu mengerti dengan ucapannya. Apa itu penyadaran? Apa itu pembebasan? memangnya kita masih dalam zaman penjajahan?
            “Pembebasan yang kami lakukan, adalah untuk menyadarkan teman – teman seperjuangan kami. Bahwa kami harus melawan sistem pencetak ini. Namun sulit, karena teman – teman seperjuangan kami pun orang – orang yang berpikir, kritis dan dewasa. Beberapa dari mereka telah menemukan jalannya sendiri untuk melakukan perubahan. Dan itu berbeda dengan kami. Beberapa yang lainnya mengatakan, kami terlalu mengawang” mereka, yang terkadang mampir untuk mengajak kami mengobrol terus mengeluhkan keadaan mereka. Kami hanya bisa mendengarkan. Ini membuat kami berpikir, perubahan terlalu berat jika kami hanya menumpuknya di pundak pemuda – pemuda ini. Perubahan adalah sesuatu yang harus dilakukan bersama. Kami pun harus melakukannya, karena ini tentang kami, kesejahteraan kami. Juga kesejahteraan mereka. Karena, sejahtera bukan hanya tentang uang dan hidup enak. Tapi merasa bahagia dengan usaha dalam membuat hidup lebih baik.

            Itu saja, segini dulu dari kami. Pribumi, rakyat yang sebenarnya sama dengan mereka. kami berjuang bersama demi hidup. 

Sabtu, 08 Februari 2014

Siapa kamu? ~hanya nama di lembar kertas yang katanya pelajaran sejarah.

mau kutulis namamu disini, di hati ini.
tapi tak mau tertulis, ternyata.
mau kuingat namamu disini, di pikiran ini.
tapi tak mau teringat, ternyata.

kusuruh saja, sejarah menulismu.
kutitahkan saja, buku - buku itu menceritakanmu.
agar kau tetap ada.
walau bukan disini, di hati ini.
agar kau tetap teringat
walau bukan disini, di pikiran ini.

maaf, jika hanya ini yang tertinggal padamu.
hanya namamu, di lembar ini.
hanya tentangmu, di cerita ini.

yang mengisahkan tentangmu, dengan 'konon katanya'
maaf, generasi ini hanya mengingat nama  - namamu karena tulisan,
karena sejarah.
penghormatan ini hanya sebatas kepentingan nilai.

siapa kamu?
kami tak pernah tahu.
kami tak kenal.

[ ini sedang sinis. terhadap mereka yang dahulu berjuang dan kami, yang tak berjuang. dan tak mengerti arti perjuangan]

Kamis, 06 Februari 2014

"Terus, pemimpin kita siapa dong?"

*
“Mah, itu siapa sih sering banget ada di tipi?”
“Itu artis nak”
“Ah, mamah bohong. Mamah gak tau, aku bisa baca ya. Itu, tulisannya ca...lon pe re siden mah” Si mamah ini hanya tersenyum, tetap tanpa melihat televisi yang ditunjuk – tunjuk anaknya.
“Ca..lon pe residen itu apa mah?”
“Yang bakal jadi presiden nak”
“Pe residen itu apa mah?” tanya anaknya lagi, dengan ejaan yang terbata – bata.
“Yah itu, yang kamu liat di tivi nak” jawab si mamah, kalem.
“Oh. Kayak artis ya mah” si mamah hanya tersenyum tidak membenarkan. Si anak mamah yang berusia lima tahun itu hanya manggut – manggut melihat sosok di televisi yang dilihatnya.

Esoknya, si anak mamah berkumpul dengan teman – temannya yang sama – sama berusia lima tahun.
“Tadi malam ibuku nanya, aku mau jadi apa kalo udah besar loh” ucap si anak yang berbadan  tambun. Yang lain mendengarkan. “Emang kamu mau jadi apa?” tanya si anak perempuan berkepang.
“Aku mau jadi pilot dong. Biar bisa terbang” jawab si tambun
“Ah, kata siapa pilot bisa terbang. Kan, pilot gak punya sayap” celetuk si anak mamah. Si tambun manyun.
“Aku dong, aku mau jadi pe residen” ucap si anak kurus berjambul dengan bangga.
“Apaan tuh pe residen?” tanya yang lainnya dengan muka penasaran dan ejaan yang terbata – bata. Si kurus terdiam dengan muka bingungnya. “Enggak tahu. Kata papahku, pokoknya peresiden itu keren. Bisa bantu orang banyak. Katanya, peresiden itu pemimpin kita semua. Semuanya loohh” anak – anak lain mendegarkan dengan wajah takjub.
“Bukan tau” celetuk si anak mamah. Yang lain balik menatapnya. Kening si kurus berkerut dengan wajah tak mau kalah, “Terus, kalau bukan. Apa hayo?” tantangnya.
“Peresiden itu artis tau. Yang suka muncul di tipi – tipi. Itu doang. Gak keren – keren amat kok” jawab si anak mamah dengan wajah bangga, ia merasa paling pintar.
“Terus, pemimpin kita siapa dong?” tanya si anak perempuan berkepang.
“Aku aja deh. Aku kan paling keren” jawab si anak kurus berjambul dengan percaya diri.
“Dih, kan aku yang paling pinter. Pemimpinnya harus aku” sahut si anak mamah.
“Kan aku mau jadi pilot. Jadi aku pemimpinnya, biar kalian semua kuajak terbang” ucap si tambun tak mau kalah.
“Ah, kan kamu gak punya sayap” si anak perempuan mengibaskan tanganya pada si tambun.

Lima menit kemudian, hanya ada suara tangisan karena percakapan itu diakhir dengan perdebatan siapa pemimpinnya dan aksi berantem ala anak kecil.
*
Ini hanya khayalan semata. Tentang keingintahuan anak – anak dan ketidakpedulian keluarga. Tentang pendidikan membangun kesadaran anak bangsa yang seharusnya dimulai sejak dini.


Rabu, 05 Februari 2014

Judulnya, 'Lagi suntuk' itu aja.

Mereka menyuruhku menulis. Menulis apapun, segala hal yang terlintas di pikiranku. Aku mencobanya. Tapi, tak ada sesuatu pun yang melintas dengan jelas di pikiranku. Semuanya kabur, berantakan, tak beraturan. Aku mengamati sekelilingku, mereka yang lain sedang menulis dengan wajah serius. Adapula yang hanya memegang kertas itu dengan wajah memandang jauh entah kemana, dengan rokok di jari – jari tangan satunya lagi. Beberapa yang lainnya sibuk tertawa dan mengobrol, aku tak tahu apakah tugas menulis itu telah mereka selesaikan atau belum. Kembali aku menatap kertas kosong di depanku.
Apa yang harus kutulis? Apakah suara berisik mereka yang tengah mengobrol, atau dia yang memandang jauh entah kemana, atau, seorang bapak – bapak buncit yang menawarkan cakwe di hadapanku? Tapi, kupikir bukan apa yang harus kutulis, bukan tentang apa yang sedang kupikirkan. Pena ini tak bisa tergores, karena aku tak mau melakukannya. Aku sedang tidak ingin menulis.
Inilah tulisanku, tulisan yang tidak ingin kutulis.
Tapi, mereka menyebut ini bukan tulisan.
Mereka menyuruhku menulis kembali. Dengan bentuk dan tulisan yang seperti mereka, bukan tulisanku. Bagaimana bisa? Bahkan, ketika aku pun tidak ingin menulis, mereka tidak membebaskanku dengan bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk menulis, di tengah ketidakinginanku untuk menulis. Aku tidak berdaya dengan kuasa pikiran dan tanganku. Tapi, mungkin inilah resiko karena aku memilih hidup di tengah – tengah mereka, di tengah – tengah suatu kelompok dengan tujuan dan aturan yang memang, aku pun menyepakatinya. Dan inilah dampaknya pada kehidupan bebasku.

Aku seharusnya menepi dahulu, menjauhi lingkaran ini. Bukan mengutuk tentang ketidakbebasanku dan aturan mereka. 

Selasa, 04 Februari 2014

Indonesia-nya bung Pram. Tidak ada yang berubah sama sekali~

Membaca tulisan bung Pram tentang Indonesia membuatku terdiam. Apakah hanya di zamannya saja yang penuh ketidakbenaran dan kesewenangan itu? apakah hanya di zaman itu yang dipenuhi kegelisahan hidup? Apakah hanya di zaman itu seorang cendekia, sastrawan, seniman, dan sejarahwan menuliskan Indonesia se’asing’ itu? tidakkah zaman kita juga masih setidak benar zamannya? Tapi, mengapa tak kutemukan tulisan dan pemikiran yang radikal seperti beliau. Tentang kemanusiaan dan Indonesia. Yang ada hanya kata – kata perubahan dengan polesan untuk kemahsyuran dan nilai dirinya, dia, si penulis itu. Untuk rakyat banyak? Untuk kemaslahatan publik? Kuharap iya. Tapi, tak ada yang tahu isi hati manusia. Aku juga, mungkin.  

Dia menuliskannya, katanya “seni untuk rakyat” seseorang pernah mewawancarainya ketika beliau masih di P.Buru, orang itu bertanya “Apakah Bung masih berkukuh pada seni untuk rakyat?” yang dijawab olehnya “Jadi untuk siapa lagi? Setidak – tidaknya bukan untuk diri sendiri, sekalipun dari diri sendiri”. Bagaimana seorang Indonesia begitu mencintai ke-Indonesiaannya. Pada sesama orang Indonesia. Pada bangsa yang namanya Indonesia. Pada tanah air, bernama Indonesia ini. Adakah dari kita pernah berpikir tentang Indonesia sebagai diri kita, sebagai sesama kita? Bukan masalah tanah dimana kau dilahirkan dan modal dimana kau mendapatkan makan. Ini tentang kemanusiaan, manusia sebagai pribadi. Yang memiliki kesadaran berbangsa satu.

Dalam tulisannya yang berupa diary selama di P.Buru ini, beliau mengkisahkan mereka. Orang – orang yang mungkin tidak akan tercatat oleh sejarah. Dan memang tidak. Jiwa – jiwa yang direbut paksa hak hidupnya. Sekalipun dia seorang guru SD atau pemuda yang masih duduk di bangku SMP. Tulisnya, penjaga – penjaga itu dalam tugas ‘proyek kemanusiaan’ mengembalikkan mereka yang katanya melenceng, menjadi warga negara yang baik sesuai standar Pemerintahan saat itu. Dengan menggunakan nama pancasila. Adakah saya salah jika mengatakan, lahirnya negara adalah pe-legal-an atas pembunuhan dan kekerasan pada kemanusiaan? Jika tidak, bolehkah saya bertanya dimana pemimpin bangsa? Jika ini cara yang beliau izinkan untuk menertibkan rakyatnya, saya bertanya ‘berapa harga satu nyawa seseorang yang tidak berdosa?’ bahkan ibu – ibu tak berdaya dan anak – anak kecil yang tak tahu apa – apa itu pun harus menanggungnya. Apakah engkau akan berkata “Ini harga yang tepat untuk menjaga Indonesia yang berpancasila” apakah kalian setuju, hei para founding father? Untuk inikah pancasila?

Lalu, bertahun – tahun kemudian rangkaian tulisan bung Pram hanya dijadikan ‘sarapan’ sejarah. Cerita, kisah, di masa lalu. Kemana nyawa – nyawa yang hilang itu?  apakah dunia tidak bertanya? siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah bangsa ini tidak ingin mengetahuinya? Maaf, hanya saja membaca dan membayangkan kisahnya. Iya, aku hanya dapat membayangkannya yang bahkan banyak hal yang tidak dapat aku bayangkan. Pembunuhan, penyiksaan dan kesewenangan mereka, yang merasa menjadi dewa untuk sesama bangsanya. Akal ini tidak dapat menerimanya. Adakah manusia yang mengaku bertuhan dapat melakukannya? adakah manusia yang mengaku berpancasila melakukannya? Adakah pembenaran tentang ‘proyek kemanusiaan’ itu benar – benar membuat mereka tak melihat sesamanya sebagai seorang manusia, seorang bapak seseorang, anak seseorang, ibu seseorang, saudara seseorang atau bahkan tetangganya sendiri? aku tidak dapat menerimanya.

Bung, zamanku sekarang ini juga tidak jauh berbeda. Penjahat – penjahat kemanusiaan itu tambah banyak dengan topeng – topeng yang lebih beraneka ragamnya. Ini lebih menakutkan. Sekarang bukan hanya kekerasan fisik, hunusan pedang atau tembakan pistol yang memerangi kemanusiaan. Tapi ini tentang pemikiran yang membuat bangsa semakin tidak rasional. Banyak dewa – dewa baru yang tak masuk di akal. Namanya Kapitalisme. Namanya modal. Dan namanya individualisme. Peradaban bukan hanya tentang kemajuan yang memang bernilai positif, tapi kesadaran berbangsa yang semakin redup digerogoti dewa – dewa baru itu. Kata kemanusiaan hanya hiasan kosong. Karena, manusianya banyak yang tidak lagi manusia. Karena, mereka yang seharusnya dibela dan membela pun kini sama – sama memakai topeng muslihat. Jangan berbicara kebangsaan dan kesatuan berbangsa. Urusi perut masing – masing dahulu. Kehidupan ini hutan rimba, siapa yang lebih kuat, lebih berpunya, dan lebih berkuasa dialah yang bertahan. Jangan berbicara Indonesia. “Kita Indonesia” hanya tentang pertandingan sepakbola dengan bangsa lain. Tapi, ketika kompetisi itu melawan klub – klub sebangsanya “Jangan berbicara Indonesia. Ini klub-ku” kata mereka. Sungguh konyol bukan.

Dari setumpuk permasalahan yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan zamanmu dulu. Satu hal yang harus diperhatikan, tentang kesadaran berkebangsaan satu ini. Kupikir bangsaku semakin jauh dari kata satu itu. Budaya yang menemani generasiku tumbuh bercampur aduk dengan budaya mereka yang asing itu. Pola pikir dan karakter pemuda yang terbangun adalah tentang kehidupan pribadi masing – masing. Berawal dari cara pendidikan dalam keluarga, yang tidak selalu mengajarkan tentang ‘nilai kehidupan dan kemanusiaan’. Yang lebih banyak mengingatkan tentang kesuksesan dan kehidupan yang layak bagi masing – masing. Lalu sistem pendidikan formal, yang selalu tentang nilai dan nilai pelajaran. Bukan tentang memahami apa yang dipelajari. Sistem pendidikan yang seharusnya mengajarkan manusia menjadi manusia seutuhnya. Tapi yang ada adalah pendidikan tentang ‘mencetak’ generasi bangsa untuk mengisi puzle – puzle sistem yang memang tidak benar – benar amat itu. Ini zamanku, yang katanya modern dan era globalisasi. Tapi sistem pendidikan tidak mendidik manusia menjadi manusia berkualitas kemanusiaan.

Tapi, zamanku semua orang boleh berbicara, boleh mengkritik, boleh memaki. Siapapun itu. Boleh menuliskan apapun. Boleh memiliki paham apapun. Selama tidak menyalahi aturan negara. Konsep demokrasinya serupa ya, dengan zamanmu, Bung. Hanya saja, mungkin dulu aturan itu terlalu ketat hingga terdengar tak masuk diakal. Tapi sekarang, aturan itu dibuat hanya untuk diabaikan. Lalu, bagaimana seharusnya Bung? Adakah sistem negara ini yang harus di rombak. Sistem pemerintahannya, atau sistem pendidikannya,  atau kesadaran bangsa? Atau pemimpinnya? Atau apa? Bung, banyak pertanyaan untuk zamanku, untuk bangsaku.


Ingin kutanya, adakah kini kegelisahan ketika mendengar kata “Indonesia” bagimu, bangsaku?