Kamis, 04 Agustus 2016

Gagak dan Senja yang Berdarah

 Aku tidak pernah berharap bertemu cinta pertama semenyedihkan ini. Menyebalkan. Mengapa aku harus mencintainya, di saat aku tahu orang itu akan pergi?!
“Tidak ada yang tahu dia akan pergi. Tunggu saja, pasti dia akan kembali.” semua orang berkata seperti itu, mencoba membuatku tenang. Aku tidak pernah menggubrisnya. Terdengar sangat omong kosong di telingaku.
Dengan wajah kusut aku hanya akan berlalu dari keramaian dan menuju tempat itu.
“Tapi aku tahu. Aku selalu tahu, orang itu akan pergi. Dia selalu ingin pergi.” ucapku dengan suara lirih, sambil berlalu.
Langit senja yang memerah menemaniku duduk sendiri di atas tembok setengah retak ini. Biasanya ada orang itu di sampingku. Ia yang selalu duluan datang ke tembok ini dan duduk mematung menatap rumah tua di sebrang tembok ini.
Tembok yang tingginya tak sampai satu meter ini adalah pembatas belakang sekolah kami. Tepat di sebrang tembok yang setengah bagiannya telah retak ini sebuah rumah tua tak terurus berdiri menyepi. Hanya dikelilingi ilalang-ilalang raksasa yang tak pernah dipangkas bertahun-tahun.
Ada sebuah rumor aneh tentang rumah tua itu. Seorang penyihir tinggal di sana. Sudah menjadi kepercayaan bersama bahwa seorang penyihir tinggal di tempat kami. Pulau Rojo, pulau kecil di ujung semenanjung Balkan. Aku tak pernah tahu asal muasal kisah si penyihir. Katanya itu dongeng dari para leluhur penduduk pulau. Entahlah.
Namun, semakin hari semua orang hanya menganggap rumor itu sebagai angin lalu. Tak pernah ada apapun di rumah tua itu, tuan sherrif pernah mengeceknya.
Tapi fakta rumah tua itu tak juga dirobohkan masih misteri. Seakan sudah menjadi kesepakatan bersama rumah itu harus tetap disana. Begitu saja, dibiarkan menua sendiri dan tak terawat.
Hanya ada satu orang yang masih peduli pada rumah tua itu. Deridaa, gadis dengan rambut kuncir ekor kuda yang seharusnya tengah duduk di sampingku saat ini.
Aku selalu mengingatnya, wajah mungilnya akan berubah galak, dan makian keluar dengan lancar dari bibirnya kala berdebat soal keberadaan si penyihir di rumah tua itu.  
“Kalau ini bukan rumahnya, dimana lagi aku harus cari si penyihir?!” jawabnya dengan bersungut, di senja yang entah kapan, aku lupa. Saat kutanya mengapa ia ngotot mempercayai rumor itu.
Tapi aku tak pernah bertanya mengapa ia harus mencari si penyihir. Aku takut, aku tahu apa jawabannya.
“Nenekku bilang penyihir punya sapu terbang yang bisa kupakai untuk pergi jauh.” Lanjutnya tanpa kutanya.
Aku lupa itu senja yang kapan, tapi aku mengingat jelas raut wajahnya. Dan aku mengingat ludah pahit yang harus kutelan karena tebakanku benar tentang jawabannya.
Sejak lama aku selalu tau. Deridaa akan pergi. Yang tidak kutahu, kenapa.
Aku tak mau tahu pula. Aku takut dia benar-benar pergi.  
*
Deridaa selalu ingin pergi. Terbang jauh dari tanah ini. Dua tahun lalu setelah neneknya meninggal aku tahu ia akan benar-benar pergi. Tidak ada lagi yang membuatnya harus tinggal. Tidak pula aku.
Tapi ternyata tidak semudah itu pergi dari pulau ini. Kapal hanya satu bulan sekali menepi menurunkan barang keperluan desa dan beberapa pengunjung. Untuk ikut menyebrang, aku tahu, Deridaa yang yatim piatu dan semua kebutuhannya hanya bersumber dari panti asuhan harus menabung lebih lama lagi. Biaya kapal tidak murah. Jika nekat memakai kapal biasa yang bolong di sana sini, tak ada yang menjamin kita akan sampai ke pulau sebrang. Lautan di ujung sana terkenal kejam.
“Woi, masih aja ngelamun disana! Pulang gih, dicari ayahmu, tuh.
Teriakan itu mengaburkan lamunanku. Aku menghela napas, enggan beranjak. Kembali ku tatap rumah bertembok kayu itu. Hari ini pun, dia belum kembali... ucapku dalam hati, entah mengapa aku ingin menyampaikannya pada si rumah tua.
“Tapi, setidaknya kamu harus percaya. Pura-pura percaya juga gak apa-apa, aku males duduk di sini sendirian.”
Aku tak jadi beranjak, ucapan Deridaa terngiang di kepalaku. Berbekal wasiat dari neneknya, yang mengatakan bahwa penyihir itu akan keluar setiap langit memerah dalam bentuk burung gagak menjadi pegangan kita untuk nongkrong di tempat ini setiap sore.
Senja di tempat kami tak bernada lembayung seperti kisah-kisah di buku cerita. Pulau Rojo, Rojo berarti merah. Karena saat senja mampir, langit kami semerah darah.
Kala langit senja perlahan berganti redup dan malam datang, Deridaa akan menatapku dengan mata almond-nya dan ekspresi yang tak bisa kubaca. “Mungkin besok...” ucapnya dengan lirih.
Keesokan harinya hingga berminggu-minggu kemudian tak pernah kami dapati gagak keluar dari rumah itu. Tapi Deridaa selalu kembali ke sana.
“Mungkin besok...” ucapku perlahan sambil turun dari tembok itu. Malam telah datang. Dan, seperti Deridaa yang menunggu si penyihir keesokan harinya, aku pun akan menunggu Deridaa kembali esok hari.
*
“Dia akan kembali.” ucapku dengan yakin.
Tangan kananku menggenggam gulungan kertas, ada senyuman lebar yang kini menghiasi wajahku setelah dua minggu ini kusut dan kuyu karena Deridaa mendadak tak ada di manapun.
Aku baru kembali dari kamar Deridaa di panti. Ada hal yang baru kutemukan dan terlewat kulihat saat pertama kali aku mengobrak-abrik kamarnya setelah ia mendadak hilang. Sebuah kalender polos yang terpasang di dinding kamar samping ranjang tidurnya.
“Besok dia pulang.” Ucapku riang, sembari menunjukkan isi kalendernya pada teman-teman sekelas.
Mereka hanya mengangguk-angguk sambil menepuk bahuku dengan senyum kecil. Ah,,, mereka pasti merasa senang karena perkiraan mereka benar. Harusnya aku pun sedikit berpikir positif seperti mereka, Deridaa pasti pulang. Memangnya, dia mau kemana lagi sih?
“Gak tau, Rom. Sejak kecil aku selalu merasa di sini bukan tempatku. Bayangan tentang tempat di luar pulau ini menghantuiku sejak lama. Di ujung sana, jauh sekali, aku merasa aku harus ke sana.”
Deridaa menunjuk ke ujung lautan yang entah berujung di mana dan sejauh apa. Aku hanya melihatnya dengan kening berkerut. Saat itu Deridaa masih tinggal bersama neneknya. Ia belum terobsesi dengan si penyihir, katanya, Neneknya janji akan membawanya keluar pulau saat ulang tahun ke-17 nya.
Dengan seragam sekolah yang sama-sama masih melekat di badan, kami menghabiskan waktu di tebing pantai favorit kami. Aku tak pernah memikirkan kata-katanya tentang ‘pergi jauh’ itu.
Saat itu, aku tak mengerti.
Mengingat hal itu, aku dibuat termenung kembali. Kelas telah sepi, ini jam istirahat. Aku masih terduduk di kursiku. Ku buka kembali gulungan kalender milik Deridaa. Aku mengenal tulisan tangannya, itu jelas tulisan Deridaa. Ia memberi tanda di tanggal 14 September, hari ulang tahunnya.
Esok umurnya 17 tahun. Di bawah tanggal itu ia menulis, ‘come back home’. Ujung bibirku kembali terangkat.
“Dia akan pulang.” Ucapku, sekali lagi meyakinkan diri sendiri.
Kupaksa ingatanku mengaburkan ucapan Deridaa di tebing waktu itu. Lagipula, esok hari tepat dimana kapal besar datang. Aku tahu jadwalnya. Deridaa ada di sana.
*
Kami berdua tidak pernah merayakan hari ulang tahun dengan kemeriahan layaknya anak remaja, kupikir itu bukan gaya kami. Aku tidak pernah membayangkan akan menantikan tanggal 14 segugup ini.
Sebelumnya, aku hanya akan melihat kalender dan berucap lembut, “Ah, hari ini dia berulang tahun.” Tanpa ucapan tanpa hadiah, aku hanya mendoakannya dalam diam.
Tapi setiap hari ulang tahunku tiba, Deridaa akan datang ke rumahku pagi-pagi sekali dan menjabat tanganku lalu berkata, “Kamu tahu kan, aku hanya basa-basi tentang ucapan selamat ini. Aku belum memutuskan Tuhan mana yang harus kuajukan doa buat hari ulang tahunmu. Jadi, selamat saja.”
Aku tersenyum mengingat ucapan konyolnya, entah mengapa malam ini langit-langit kamar tidurku seakan penuh bintang. Menunggu hari esok dengan ketidaksabaran seperti ini tidak membantuku untuk memejamkan mata.
*
Aku menjambak-jambak rambutku dengan kesal. Berkali-kali kulirik arloji tua di tangan kananku, kemudian mataku lapar melahap setiap suduh pantai, setiap ujung lautan. Tak kutemukan apapun. Kapal besar baru saja berangkat pergi.
“Mungkin bukan hari ini, Rom.” Ucap temanku dengan nada suara penuh simpati.
Tapi bukan itu yang ingin kudengar. Aku cuma ingin mendengar tentang Deridaa kembali. Harusnya ia kembali hari ini. Itu yang ia tulis di kalendernya sendiri. Bukankah ini rumahnya?!
Kuabaikan panggilan teman-temanku. Aku tahu tak akan ada kapal apapun lagi yang datang setelah jam ini. Hanya ada satu tempat untukku menenangkan diri. Walaupun sebenarnya itu tempat yang membuatku semakin depresi.
Tepat sesampainya aku di hadapan rumah tua itu, langit sudah diselimuti tumpahan warna merah di setiap sudutnya. Aku menelan ludah, pahit. Tanganku mengepal menaham amarah. Aku tak tahu pada siapa harus kulampiaskan atau pada apa. Hanya ada rumah tua itu di hadapanku. Mendadak sebuah pikiran konyol terlintas di kepalaku. Membuatku semakin marah.
“Woi, nenek sihir! Siapapun kamu, kalaupun kamu ada. Jangan bilang kau telah berikan sapu ajaibmu pada gadis itu. hah...hahaha. Tolol.”
Aku tertawa terkekeh-kekeh di atas tembok ini setelah mengucapkan kalimat konyol tadi. Tak ada lagi yang bisa kupikirkan. Deridaaa, gadis itu, cinta pertamaku—
Koak...koak...koak...
Aku mengerjapkan mata. Membatu. Suara yang baru saja kudengar? Aku segera mengangkat wajahku, kembali menatap si rumah tua. Mataku tak salah lihat, aku telah berkali-kali mengerjapkannya.
Disana, gagak hitam itu bertengger di atas cerobong asap rumah tua itu.
Aku menghela napas panjang, tak bisa berkata apapun. Entah mengapa aku berpikir gagak hitam itu bukanlah si penyihir. Tapi Deridaa.
“Selamat ulang tahun...” bisikku, kehabisan akal.

Sabtu, 12 September 2015

untuk teman yang sedang bersedih

Teman, hidup memang tak selalu indah. Juga tak selalu pedih. Adakalanya jeda hadir memberikanmu ruang untuk sejenak bernapas, merenung, bersyukur, atau memaki. Setidaknya hidup selalu memberimu waktu untuk berhenti untuk selanjutnya kembali melangkah. Kanan, kiri, maju, mundur atau diam di tempat, hidup akan memberikan keputusan itu sepenuhnya di tanganmu. 
Sayangnya, bahkan hidup memang tidak berbicara banyak tentang apa yang akan kita terima setelah keputusan dibuat. Katanya, ada nasib dan takdir yang bermain-main di kehidupan kita. Tapi aku selalu yakin, walaupun aku jarang berdoa pada Dia. Aku selalu yakin, Dia tidak main-main pada hidup kita. 

Rabu, 26 Agustus 2015

Buen Camino!

Nemu istilah ini, "Buen Camino!" yang artinya have aa good walk! penasaran, langsung googling. Kemudian keluar sebuah artikel di kompas tentang Camino De Santiago. Sejarahnya bisa dibaca disana. Singkatnya hal ini adalah sebuah perjalanan panjang dengan berjalan kaki, untuk camino de santiago ini jaraknya 780 km! ditempuh 33 hari. Cukup sebulan, kisah Cheryl di Film 'Wild' yang berjalan 1000 mil selama 3 bulan? aku tidak yakin... aku bakal terlalu kangen sama kasur empuk selama 3 bulan -_-
Ada hal-hal serupa ini, seperti aksi protes jalan dari jawa timur hingga jakarta tapi aku tak tergerak. Terkesan, iya. Tapi aku tak ingin protes pada siapapun, tak ingin sensasi pada apapun.
Kayak lagu hyesung di buen camino, ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk bertemu si dia. tapi, aku tak ingin bertemu siapapun. Aku hanya ingin dengan diriku sendiri. Mencari udara lain tentang kehidupan.
Akhirnya aku menemukan rute hidup. Selain segera bergegas menjadi penulis profesional dan resign dari tembok-tembok kantor ini, setelah aku sedikit menempa hidupku lagi dengan tanggung-tanggung jawab yang masih tersisa dan selalu ada. Kota impian itu, Yogyakarta. Aku harus kesana.
Lalu, perjalanan pertama adalah Argopuro. Seminggu di kejauhan peradaban kota. Kemudian, Camino de Santiago, tidak tahun-tahun ini, pasti. Tapi sebelum usiaku menginjak 30 tahun perjalanan sejauh 780 km dengan jalan kaki itu harus kucoba! satu bulan di jalanan....

Minggu, 23 Agustus 2015

cinta tanah air?

dulu ada seorang kawan, pernah bertanya dengan seringai iseng. aku tahu, ini pertanyaan menjebak dan perlu debat panjang. aku sedang malas bicara saat itu, kubiarkan saja ia bertanya dan menjawab lalu berbicara sendiri.
"Elu cinta Indonesia?"
"Kenapa?"
"Apa karena elu lahir disini?"
"Atau karena elu dapet makan dari tanah ini?"
"Kalau elu ga dapet apa-apa dari tanah ini, apa elu masih cinta Indonesia?"
sekarang pun aku malas membahasnya. cinta tanah air? apa yang bisa dijelaskan dari kalimat itu? cinta INDONESIA? INDONESIA, apa yang bisa kujabarkan dari rentetan huruf itu?
minggu lalu tanggal 17 agustus. semarak perayaan hari kemerdekaan terdengar, terlihat, di setiap mata memandang. warna merah putih entah sejak kapan mulai menghiasi setiap sudut jalan. tulisan-tulisan, entah itu sejarah, doa-doa, caci maki atau angan-angan tentang 'merdeka' berisik bersuara dimana-mana.
aku menepi, aku mendaki ke tanah yang tinggi di tanah jawa. aku bertemu merbabu. bahkan di ujung tanah beribu meter itu pun hiruk pikuk tentang perayaan kemerdakaan tetap semarak. aku tidak sinis. aku hanya ingin menepi, dan tak kutemukan sepi.
karena, lagi-lagi tanya itu akan menuntut jawabnya.
"cinta tanah air, tidak?"
aku tak bisa menjawab dengan spontan. mengangguk dengan mata berbinar atau berkaca-kaca karena terharu mengingat perjuangan orang-orang dahulu untuk kemerdekaan. aku tak mengenalnya.
lalu, kata lainnya yang sama-sama ingin kujauhi.
'merdeka'.
aku mendengar dan membaca, beberapa orang tengah bersukur untuk kemerdekaan ini. namun banyak juga yang mencaci dan menggugat dimana kemerdekaan itu. aku?
bahkan aku tak berminat menguraikan kata 'merdeka' ini.
kubaca buku sejarah. dahulu, kupikir semua orang akan sangat mudah memahami kata-kata itu. 'kemerdekaan' dan 'mencintai tanah air', ada ketidakadilan yang nyata yang direbut dari mereka oleh tangan-tangan asing berkulit pucat kala itu.
tapi hari ini?
bahkan kata INDONESIA terlalu absurd bagiku.
selamat hari kemerdekaan?
ia, akan kuucapkan untukmu para leluhur. bukan untuk kami, yang kini hidup di tanah ini. 

Rabu, 24 Juni 2015

Niat suci?

Bung, ada judul berita yang menggelikan hari ini. "Wakil Ketua DPR : Usulan Dana Aspirasi Didasari Niat Suci"
Aku tidak tahu, apakah aku salah memahami jalannya dunia atau memang beginilah faktanya. Tapi aku sedang muak-muaknya dengan istilah itu, "niat suci". Terlebih jika dua kata itu terlontar dari mulut seorang pejabat.
Bukan, aku tidak punya masalah dengan sosok personal yang tengah menjabat jadi wakil ketua DPR tercintah kita itu. Bahkan aku tak berminat mencari tahu.
Aku hanya bermasalah dengan mulut pejabat. Kalau kata lagu, "engkau yang berjanji, engkau yang mengingkari" *bener bukan sih itu lagu? entahlah.
Tuhan, omong kosong apa lagi ini?

Sabtu, 20 Juni 2015

Hatinya, yang berada di tengah rimba

Ada hati yang tengah berjalan di tengah rimba, penuh belukar. Aku tidak tahu, wajah bingungnya karena ia tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Atau, ia tengah memilih untuk pulang atau pergi, menuju tempat yang belum pernah ia temui. Iya, hati di tengah rimba itu tengah bersemangat untuk petualangan menantang.
Aku, aku hanya menunggu di ujung jalan pulangnya. Menunggu, kemana hati itu akan melangkah. Tapi, aku tak hanya menunggu sendiri. Di tanganku, aku membawa sumpah yang pernah hati itu ucap. Tentang kembali pulang dan akan selalu kembali pulang pada hati yang telah menjadi teman hidupnya puluhan tahun.
Tapi, tenang saja. Tidak ada ketegangan diantara kami. Aku menatap hati itu dari jauh dengaan senyum tipis. Aku tak menuntut apapun. Aku hanya ingin melihat keputusannya. Toh, perjanjian dan sumpah itu pun, bukan sumpahku. Aku tak pernah berharap banyak pada hubungan dengan sumpah yang memberatkan itu.
Namun, bukan berarti tak ada rasa pilu di diriku. Kecewa selalu ada, bahkan sebelum ia mengambil keputusan untuk berada di rimba itu. Karena, ternyata aku menyadarinya. Bahwa aku tidak begitu mengenalnya selama 22 tahun ini.
Aku tidak mengenalnya, kala ia memutuskan kebingungan sendiri di tengah rimba itu.
Hey, engkau yang selalu kupanggil 'bapak' kemana hatimu akan melangkah?

Ibu, dunia ini aneh

Ibu, kehidupan sangat aneh. Aku sama sekali tidak mengerti. Dulu engkau pernah berkata, “Hidup sesuai aturan Tuhan kita, dan berbuat baik pada sesama. Cukup dengan itu, kau akan baik-baik saja.” Dulu aku tidak mengerti aturan Tuhan yang mana yang harus kuikuti. Aku hanya mengikuti Tuhanmu ibu. Lalu kemudian, setelah aku belajar membaca dan setiap hari berangkat ke sekolah, bertemu teman-teman dan banyak orang. Aku mengenal Tuhan yang lain. Aku tidak tahu Tuhan ada sebanyak itu, Ibu.
Kemudian, tentang berbuat baik. Aku melakukannya ibu. Dulu, ketika aku masih tidak mengerti bagaimana jalannya dunia ini. Aku selalu memberikan uang koin yang tak seberapa itu pada mereka yang mengulurkan tangannya padaku dengan wajah lapar, baju kotor dan tanpa sendal. Aku juga menolong temanku yang selalu dikerjai teman sekelas karena selalu datang ke sekolah dengan baju seragam yang kotor, dia juga sedikit bau. Tapi aku tidak protes. Karena aku tahu dia hanya punya satu baju. Kasihan kan ibu, tapi semua orang di kelasku malah menertawakan dan menjailinya. Padahal, harusnya tidak seperti itu kan ibu. Makannya aku selalu membelanya. Dan memintamu membelikan baju seragam yang baru. Waktu itu, aku tidak punya uang untuk membelikannya sendiri. Setelah itu, tidak ada yang menertawakannya lagi.
Tapi, ibu. Setelah aku bertambah besar dan tinggi. Ternyata kebaikan-kebaikan kecil yang kubuat tak selalu bisa membantu mereka yang membutuhkan. Ibu, bahkan kini aku bertanya “Apa itu kebaikan?” Aku melihat ternyata tidak ada yang berubah, bu. Dengan uang koin segenggam pun aku tidak bisa mengubah mereka yang selalu kelaparan.
Dengan makian dan ceramah pun, aku tidak bisa menghentikan mereka yang terus memaki dan menertawakan orang lain yang tampak berbeda dari orang biasa.
Ibu, ternyata semakin aku besar dunia semakin rumit. Mengapa banyak nenek-nenek lusuh dengan bayi kurus di pangkuannya tak tersapa oleh dunia? Siapa yang harus memberi mereka koin yang banyak agar tak lagi mengais di tempat itu? Atau, apakah memang seperti ini dunia berjalan, bahwa harus ada orang-orang di pinggir jalan itu, meminta-minta setiap hari?
Ibu, dunia bukan hanya rumit, tapi tak masuk akal. Aku melihat layar tipi, iya ibu, dari layar itu pun kita bisa melihat bagaimana dunia membuat panggungnya sendiri. Ternyata ibu, orang-orang kelaparan itu bisa saja ditolong, asalkan, diliput dulu oleh media. Tapi tidak hanya itu, ibu. Karena masih ada tahap selanjutnya. Mereka yang hanya diliput sekilas, hidupnya tidak akan berubah. Mereka hanya mendapat beberapa paket doa dan air mata yang tak begitu lama. Karena, yang punya kisah memilukan yang paling fantastis lah yang akan bertahan populer di layar kaca. Dan seketika semua mata dunia menatapnya. Memberi mereka jutaan cinta dan kasih sayang dalam sekejap.
Ibu, aku tidak sinis pada mereka yang beruntung itu. Aku bersyukur, karena hidup mereka akan sedikit berubah. Aku hanya sinis pada dunia, bagaimana proses dunia menyeleksi siapa yang dapat diberi makan dan tidak. Dunia paling tahu, bagaimana memanfaatkan hati nurani manusia.
Ibu, selain cara kerja tolol media-media itu mengeksploitasi ketidakberdayaan manusia. Banyak hal absurd lainnya di dunia yang semakin tua tapi tak tahu diri ini. Ialah keyakinan, ibu. Ini hal paling absurd yang diasuh dunia selama berabad-abad ini.
Bukankah sudah kukatakan di awal tadi, bu. Semakin aku mengenal dunia, aku bertemu dengan banyak Tuhan. Tentu dengan keyakinannya masing-masing. Kemudian, aku menyadari bahwa Tuhan dan keyakinannya adalah hak setiap orang. Seperti Ibu, dengan Tuhanmu. Ibu hidup dengan keyakinan akan Tuhanmu dan aturanNya. Bagi ibu, yang salah menurut aturan Tuhanmu, adalah hal salah juga untukmu.
Aku melihat hal ekstrim dari cara hidup seperti itu. Untungnya, aku tak menemukannya di Ibu. Ialah aksi tindak menindas pada manusia lain atas nama Tuhan dan keyakinan mereka. Contohnya? Sudahlah, ibu sudah tahu. Kita melihatnya dengan jelas setiap hari. Dulu aku tidak menyadarinya, ketika kakek sebelah rumah yang tidak pernah mau menyapaku atau ibuku. Dulu, kupikir dia hanyalah seorang kakeh tua dengan wajah jahat dan selalu cemberut. Ternyata tidak, yang kutahu selanjutnya adalah, tentang aliran kepercayaan yang tak sama. Bagi sang kakek, kami hanyalah kumpulan orang-orang sesat tak tahu agama. Dan, bagi keluarga besar Ibu kakek tersebut hanyalah orang tua dengan cara hidup yang salah.
Ibu, sebenarnya masih banyak sekali kejanggalan yang ingin kuceritakan. Tolong aku ibu, karena engkau kan, hidup lebih lama dariku. Bagaimana engkau bertahan begitu lama di dunia yang aneh ini? Benarkah hanya terus percaya pada Tuhanmu semuanya baik-baik saja? Bahkan ketika, bapak meninggalkan kita dengan wanita lain. Apakah engaku masih berkata semuanya akan baik-baik saja selama Tuhanmu ada?
Ibu, tolong jawab aku.

[20062015]