Aku tidak pernah
berharap bertemu cinta pertama semenyedihkan ini. Menyebalkan. Mengapa aku
harus mencintainya, di saat aku tahu orang itu akan pergi?!
“Tidak ada yang
tahu dia akan pergi. Tunggu saja, pasti dia akan kembali.” semua orang berkata
seperti itu, mencoba membuatku tenang. Aku tidak pernah menggubrisnya. Terdengar
sangat omong kosong di telingaku.
Dengan wajah
kusut aku hanya akan berlalu dari keramaian dan menuju tempat itu.
“Tapi aku tahu.
Aku selalu tahu, orang itu akan pergi. Dia selalu ingin pergi.” ucapku dengan
suara lirih, sambil berlalu.
Langit senja
yang memerah menemaniku duduk sendiri di atas tembok setengah retak ini.
Biasanya ada orang itu di sampingku. Ia yang selalu duluan datang ke tembok ini
dan duduk mematung menatap rumah tua di
sebrang tembok ini.
Tembok yang
tingginya tak sampai satu meter ini adalah pembatas belakang sekolah kami.
Tepat di sebrang tembok yang setengah bagiannya telah retak ini sebuah rumah
tua tak terurus berdiri menyepi. Hanya dikelilingi ilalang-ilalang raksasa yang
tak pernah dipangkas bertahun-tahun.
Ada sebuah rumor
aneh tentang rumah tua itu. Seorang
penyihir tinggal di sana. Sudah menjadi
kepercayaan bersama bahwa seorang penyihir tinggal di tempat kami. Pulau Rojo,
pulau kecil di ujung semenanjung Balkan. Aku tak pernah tahu asal muasal kisah
si penyihir. Katanya itu dongeng dari para leluhur penduduk pulau. Entahlah.
Namun, semakin
hari semua orang hanya menganggap rumor itu sebagai angin lalu. Tak pernah ada
apapun di rumah tua itu, tuan sherrif
pernah mengeceknya.
Tapi fakta rumah
tua itu tak juga dirobohkan masih misteri. Seakan sudah menjadi kesepakatan
bersama rumah itu harus tetap disana. Begitu saja, dibiarkan menua sendiri dan
tak terawat.
Hanya ada satu
orang yang masih peduli pada rumah tua itu. Deridaa, gadis dengan rambut kuncir
ekor kuda yang seharusnya tengah duduk di sampingku saat ini.
Aku
selalu mengingatnya, wajah mungilnya akan berubah galak, dan makian keluar dengan
lancar dari bibirnya kala berdebat soal keberadaan si penyihir di rumah tua
itu.
“Kalau
ini bukan rumahnya, dimana lagi aku harus cari si penyihir?!” jawabnya
dengan bersungut, di senja yang entah kapan, aku lupa. Saat kutanya mengapa ia
ngotot mempercayai rumor itu.
Tapi aku tak
pernah bertanya mengapa ia harus mencari si penyihir. Aku takut, aku tahu apa
jawabannya.
“Nenekku bilang penyihir punya sapu terbang yang
bisa kupakai untuk pergi jauh.” Lanjutnya tanpa
kutanya.
Aku lupa itu
senja yang kapan, tapi aku mengingat jelas raut wajahnya. Dan aku mengingat
ludah pahit yang harus kutelan karena tebakanku benar tentang jawabannya.
Sejak
lama aku selalu tau. Deridaa akan pergi. Yang tidak kutahu, kenapa.
Aku
tak mau tahu pula. Aku takut dia benar-benar pergi.
*
Deridaa selalu
ingin pergi. Terbang jauh dari tanah ini. Dua tahun lalu setelah neneknya
meninggal aku tahu ia akan benar-benar pergi. Tidak ada lagi yang membuatnya
harus tinggal. Tidak pula aku.
Tapi ternyata
tidak semudah itu pergi dari pulau ini. Kapal hanya satu bulan sekali menepi menurunkan
barang keperluan desa dan beberapa pengunjung. Untuk ikut menyebrang, aku tahu,
Deridaa yang yatim piatu dan semua kebutuhannya hanya bersumber dari panti
asuhan harus menabung lebih lama lagi. Biaya kapal tidak murah. Jika nekat memakai
kapal biasa yang bolong di sana sini, tak ada yang menjamin kita akan sampai ke
pulau sebrang. Lautan di ujung sana terkenal kejam.
“Woi, masih aja
ngelamun disana! Pulang gih, dicari ayahmu,
tuh.”
Teriakan itu
mengaburkan lamunanku. Aku menghela napas, enggan beranjak. Kembali ku tatap
rumah bertembok kayu itu. Hari ini pun,
dia belum kembali... ucapku dalam hati, entah mengapa aku ingin
menyampaikannya pada si rumah tua.
“Tapi,
setidaknya kamu harus percaya. Pura-pura percaya juga gak apa-apa, aku males
duduk di sini sendirian.”
Aku tak jadi
beranjak, ucapan Deridaa terngiang di kepalaku. Berbekal wasiat dari neneknya,
yang mengatakan bahwa penyihir itu akan keluar setiap langit memerah dalam
bentuk burung gagak menjadi pegangan kita untuk nongkrong di tempat ini setiap sore.
Senja
di tempat kami tak bernada lembayung seperti kisah-kisah di buku cerita. Pulau
Rojo, Rojo berarti merah. Karena saat senja mampir, langit kami semerah darah.
Kala langit
senja perlahan berganti redup dan malam datang, Deridaa akan menatapku dengan
mata almond-nya dan
ekspresi yang tak bisa kubaca. “Mungkin
besok...” ucapnya dengan lirih.
Keesokan harinya
hingga berminggu-minggu kemudian tak pernah kami dapati gagak keluar dari rumah
itu. Tapi Deridaa selalu kembali ke sana.
“Mungkin
besok...” ucapku perlahan sambil turun dari tembok itu. Malam telah datang.
Dan, seperti Deridaa yang menunggu si penyihir keesokan harinya, aku pun akan
menunggu Deridaa kembali esok hari.
*
“Dia akan
kembali.” ucapku dengan yakin.
Tangan kananku
menggenggam gulungan kertas, ada senyuman lebar yang kini menghiasi wajahku
setelah dua minggu ini kusut dan kuyu karena Deridaa mendadak tak ada di manapun.
Aku baru kembali
dari kamar Deridaa di panti. Ada hal yang baru kutemukan dan terlewat kulihat
saat pertama kali aku mengobrak-abrik kamarnya setelah ia mendadak hilang.
Sebuah kalender polos yang terpasang di dinding kamar samping ranjang tidurnya.
“Besok dia
pulang.” Ucapku riang, sembari menunjukkan isi kalendernya pada teman-teman
sekelas.
Mereka hanya
mengangguk-angguk sambil menepuk bahuku dengan senyum kecil. Ah,,, mereka pasti
merasa senang karena perkiraan mereka benar. Harusnya aku pun sedikit berpikir
positif seperti mereka, Deridaa pasti pulang. Memangnya, dia mau kemana lagi
sih?
“Gak tau, Rom. Sejak kecil aku selalu merasa di sini
bukan tempatku. Bayangan tentang tempat di luar pulau ini menghantuiku sejak
lama. Di ujung sana, jauh sekali, aku merasa aku harus ke sana.”
Deridaa menunjuk
ke ujung lautan yang entah berujung di mana dan sejauh apa. Aku hanya
melihatnya dengan kening berkerut. Saat itu Deridaa masih tinggal bersama
neneknya. Ia belum terobsesi dengan si penyihir, katanya, Neneknya janji akan
membawanya keluar pulau saat ulang
tahun ke-17 nya.
Dengan seragam
sekolah yang sama-sama masih melekat di badan, kami menghabiskan waktu di
tebing pantai favorit kami. Aku tak pernah memikirkan kata-katanya tentang
‘pergi jauh’ itu.
Saat itu, aku
tak mengerti.
Mengingat hal
itu, aku dibuat termenung kembali. Kelas telah sepi, ini jam istirahat. Aku masih
terduduk di kursiku. Ku buka kembali gulungan kalender milik Deridaa. Aku
mengenal tulisan tangannya, itu jelas tulisan Deridaa. Ia memberi tanda di
tanggal 14 September, hari ulang tahunnya.
Esok umurnya 17
tahun. Di bawah tanggal itu ia menulis, ‘come
back home’. Ujung bibirku kembali terangkat.
“Dia akan
pulang.” Ucapku, sekali lagi meyakinkan diri sendiri.
Kupaksa ingatanku mengaburkan
ucapan Deridaa di tebing waktu itu. Lagipula, esok hari tepat dimana kapal
besar datang. Aku tahu jadwalnya. Deridaa ada di sana.
*
Kami berdua tidak
pernah merayakan hari ulang tahun dengan kemeriahan layaknya anak remaja,
kupikir itu bukan gaya kami. Aku tidak pernah membayangkan akan menantikan
tanggal 14 segugup ini.
Sebelumnya, aku
hanya akan melihat kalender dan berucap lembut, “Ah, hari ini dia berulang
tahun.” Tanpa ucapan tanpa hadiah, aku hanya mendoakannya dalam diam.
Tapi setiap hari
ulang tahunku tiba, Deridaa akan datang ke rumahku pagi-pagi sekali dan
menjabat tanganku lalu berkata, “Kamu
tahu kan, aku hanya basa-basi tentang ucapan selamat ini. Aku belum memutuskan
Tuhan mana yang harus kuajukan doa buat hari ulang tahunmu. Jadi, selamat
saja.”
Aku tersenyum
mengingat ucapan konyolnya, entah mengapa malam ini langit-langit kamar tidurku
seakan penuh bintang. Menunggu hari esok dengan ketidaksabaran seperti ini
tidak membantuku untuk memejamkan mata.
*
Aku
menjambak-jambak rambutku dengan kesal. Berkali-kali kulirik arloji tua di
tangan kananku, kemudian mataku lapar melahap setiap suduh pantai, setiap ujung
lautan. Tak kutemukan apapun. Kapal besar baru saja berangkat pergi.
“Mungkin bukan
hari ini, Rom.” Ucap temanku dengan nada suara penuh simpati.
Tapi bukan itu
yang ingin kudengar. Aku cuma ingin mendengar tentang Deridaa kembali. Harusnya
ia kembali hari ini. Itu yang ia tulis di kalendernya sendiri. Bukankah ini
rumahnya?!
Kuabaikan
panggilan teman-temanku. Aku tahu tak akan ada kapal apapun lagi yang datang setelah
jam ini. Hanya ada satu tempat untukku menenangkan diri. Walaupun sebenarnya
itu tempat yang membuatku semakin depresi.
Tepat
sesampainya aku di hadapan rumah tua itu,
langit sudah diselimuti tumpahan warna merah di setiap sudutnya. Aku menelan
ludah, pahit. Tanganku mengepal menaham amarah. Aku tak tahu pada siapa harus
kulampiaskan atau pada apa. Hanya ada rumah tua itu di hadapanku. Mendadak
sebuah pikiran konyol terlintas di kepalaku. Membuatku semakin marah.
“Woi, nenek
sihir! Siapapun kamu, kalaupun kamu ada. Jangan bilang kau telah berikan sapu
ajaibmu pada gadis itu. hah...hahaha. Tolol.”
Aku tertawa
terkekeh-kekeh di atas tembok ini setelah mengucapkan kalimat konyol tadi. Tak ada
lagi yang bisa kupikirkan. Deridaaa, gadis itu, cinta pertamaku—
Koak...koak...koak...
Aku mengerjapkan
mata. Membatu. Suara yang baru saja kudengar? Aku segera mengangkat wajahku,
kembali menatap si rumah tua. Mataku tak salah lihat, aku telah berkali-kali mengerjapkannya.
Disana, gagak
hitam itu bertengger di atas cerobong asap rumah tua itu.
Aku menghela
napas panjang, tak bisa berkata apapun. Entah mengapa aku berpikir gagak hitam itu
bukanlah si penyihir. Tapi Deridaa.
“Selamat ulang tahun...”
bisikku, kehabisan akal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar