Gadis itu kembali, dengan raut wajah yang tetap
sama. Gadis itu menatapku dalam, dengan tatapan yang tetap sama. Seperti sore
kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. Kepedihan di matanya, aku tak sanggup
lagi melihatnya. Tapi, apa dayaku. Aku hanya seonggok batu yang bahkan tidak
bisa memalingkan wajah untuk menghindari tatapan sedih itu. Aku selalu bertanya
pada Dia yang tidak kukenal, pada Dia yang mereka selalu puji – puji, kepada
Dia yang membawa pergi pasangan hati si gadis itu. Aku bertanya, “Kenapa Kau
mengambilnya dari gadis itu? Dan membawanya padaku, aku tidak suka melihatnya,
tatapan penuh luka dan kesedihan itu. Aku muak melihatnya”
Selepas gadis itu pergi, angin membisikkan kisahnya,
kisah yang ia temui di perjalanannya. Kisah tentang gadis itu.
“Adakah hal yang menarik? Kuyakin, itu hanya kisah
tentang cinta dan perpisahan. Semua manusia sama, terlalu lemah hanya karena
perpisahan” angin masih menari – nari disekelilingku, tapi dia tidak tersenyum
seperti biasa. Aku sudah tau, hanya kisah luka yang dapat menghilangkan
keceriaannya.
“Oh, betapa menyedihkannya dirimu, terombang –
ambing kesana kemari, dan harus melihat semua kisah yang tak ingin kau lihat.
Mengapa tidak kau berdiam diri saja, hey angin” bisikku, dengan nada mengejek.
“Aku mensyukurinya” ucapnya dengan lembut, dengan
wajah sendu itu. Aku tersenyum, ia selalu berkata itu dengan wajah sendunya
setiap kali kisah yang ia temui menyedihkan. Aku tidak mengerti kesabarannya.
“Aku yang tak mengerti kesabaranmu, banyak kisah
kulihat, dan engkau, hanya linangan air mata dan isak tangis yang kau temui.
Karena itulah, aku mensyukurinya. Untuk tidak menjadi dirimu” kata – katanya
yang lembut itu menusukku, menyadarkanku. Ia berlalu, membelaiku lembut dengan
senyuman sendu itu sebelum meninggalkanku termenung sendiri.
Sore itu, setelah gadis itu kembali datang dan pergi
tanpa kata seperti biasa. Angin kembali menari – nari disekelilingku. Ia masih
belum tersenyum ceria.
“Mengapa harus engkau juga yang bersedih?” tanyaku,
“Tidak cukupkah gadis itu saja yang membuat suram sore – soreku?” lanjutku,
merajuk padanya yang masih saja bersedih. Ia membelaiku lembut, dibisikinya
kisah itu, aku hanya diam. Aku tahu, kesedihannya akan sirna jika ia telah
membagi kisahnya.
-
“Dia yang seharusnya disana. Di dalam tanah itu. Dia
yang seharusnya tiada” bisik angin dengan suara pilu. Aku masih terdiam,
mencoba menjadi pendengar yang baik. Walaupun sebenarnya, aku tak berminat sama
sekali dengan kisah yang akan kudengar.
Lalu kenapa jika memang seharusnya gadis ini yang
tiada? Keadaan akan sama saja, sore – soreku masih akan suram, karena yang akan
datang adalah pasangannya yang lain. Menangisi kepergian gadis cantik itu, dan
membayangkannya saja lebih memuakkan. Melihat lelaki dengan mata berkaca – kaca
atau bahkan banjir air mata setiap sore. Itu menyebalkan~
“Kesedihan seseorang bukan hal yang menyebalkan. Ia
luka yang tak seharusnya kau maki. Apa kuasa mereka menolak rasa sakit itu?
tidak ada. Benar, mereka makhluk yang lemah. Tapi aku kagum, mereka tidak
menyerah dengan kelemahannya itu. Mereka tetap berjuang untuk bertahan hidup di
dunia yang tambah tidak rasional ini, walau banyak cara yang mereka pakai sama
tidak rasionalnya. Mereka masih tetap berjuang untuk bertahan sebagai manusia
utuh, dengan cinta yang mereka kenal. Biarkan tangisan dan luka itu menemani
mereka, karena itu jugalah yang membuat mereka tetap merasakan hidup dan
menjadi manusia. Tidakkah kau iri dengan kerumitan yang indah itu?”
Aku tidak mengerti penjelasannya, apa yang harus
kucemburui dari kehidupan yang merepotkan itu. Tidak bisakah berbahagia hanya
dengan diam saja, hingga Dia yang tidak kukenal meniadakanku? Aku merasa nyaman
dengan hal ini, tak perlu aku memikirkan kehidupan yang aneh ini. Angin hanya
tersenyum tipis, aku tahu ia mendengar suaraku yang tak kuucap.
“Itu pilihanmu, juga takdirmu, Nisan” bisiknya
sebelum berlalu menyapa saudara – saudara lainku. Kisah gadis itu ia biarkan
bersambung, aku sama sekali tidak menunggu detailnya. Tapi, aku pun tak menolak
jika esok angin akan bercerita lagi. Karena aku lebih menyukai kehadiran angin
di sore – soreku, bukan kisah – kisah sedih manusia itu.
-
Hari itu angin tidak datang. Hanya ada gadis itu, dan
wajah sedihnya. Ingin aku bertanya, “Kemana angin?” tapi, apakah ia akan tahu.
Kupikir tidak. Kuurungkan niatku bertanya. Sebelum pergi, gadis cantik itu
menaruh sesuatu di depanku. Diatas tanah yang kering itu. Bukan bunga. Sebuah
buku. Ingin aku meneriakkannya, “Jangan menaruhnya disini. Tidak berguna. Ia
hanya akan membusuk atau dibuang dengan sengaja oleh pembersih makam.” Dia
sudah membusuk di dalam sini. Tidak bisakah kau membiarkannya tiada. Air mata
dan kesedihan itu tiada guna. Jika memang benar apa yang dikatakan orang –
orang tentang doa yang akan menenangkan si mati ini, lakukan itu. Haruskah
dengan air mata dan kesedihan berbulan – bulan ini?
“Hormati prosesnya, kawan” bisik saudaraku. Aku tak
menghiraukannya. Aku mengutuk Dia yang entah dimana itu. Mengapa hanya aku yang
sinis pada manusia – manusia lemah ini. Perpisahan adalah resiko yang harus kau
terima ketika kau bertemu dengan pertemuan. Kapanpun itu, selama apapun itu,
semanis apapun itu, sepahit apapun itu. Jika kalian memulainya dengan pertemuan
pasti akan ada akhir. Pasti akan ada perpisahan yang harus kalian temui. Lalu
untuk apa kesedihan berkelanjutan ini? Ah, sudahlah, seperti kata angin, aku
tak akan mengerti~
-
Sudah seminggu ini angin tak lagi datang. Kemana dia?
Hanya saudara – saudaranya yang masih rajin menyapaku sebelum mereka pulang.
“Kemana angin?” tanyaku. “Kami angin” jawab mereka, saudara – saudara angin
yang kukenal. “Aku tak tahu kalian memiliki nama lain atau tidak. Tapi, aku
bertanya tentang angin yang kukenal.” Ucapku. Saudara – saudara angin seperti
angin yang kukenal. Mereka pun suka tersenyum dan berbisik lembut sambil
mengitariku. Tapi, tak ada yang seperti angin yang kukenal. Yang mengerti aku.
“Dia diberi tugas ke tempat yang jauh. Mungkin tak akan
kembali kesini” bisik salah satu dari mereka. “Kemana? Kenapa tidak akan
kembali?” mereka beranjak pergi, aku takut mereka tidak memberikanku kejelasan
dimana keberadaan angin yang kukenal.
“Katanya, dia ingin kau
mengenal luka karena perpisahan, sayang” mereka meninggalkaku dengan wajah
simpatik. Aku terdiam. Iya, aku hanya bisa terdiam. Aku hanya batu. Baru kini
aku menyadarinya, aku hanyalah batu. Aku tak dapat merasakan apapun. Ini
menyedihkan.