Selasa, 31 Desember 2013

Ini Tentang Kami, yang Berbeda Arus




Ini tentang kami. Aku dan dia, dua orang yang tak pernah menemukan jawaban untuk apa kami ada di sini~
Aku ingat, orang itu pernah bertanya padaku “Apa itu cinta?” tanyanya. Lama kuacuhkan pertanyaannya, hingga aku sadar ia tetap menanti aku untuk menjawabnya. Ia masih duduk dengan santai di kursi depanku dengan rokok di tangannya. Ia menatapku dalam. Dengan gayanya yang acuh dan cuek, ia memiliki tatapan yang tajam dan intim. Itu mengangguku.
Aku menatapnya dingin. Menghentikan aktifitas mengetikku. “Aku tidak tahu itu apa” kataku singkat. kembali dengan layar laptopku.
“Cinta, apa itu cinta?” ulangnya. Aku kembali menatapnya. “Aku tidak tahu itu apa” ulangku juga.
“Cinta. Tak bisakah kau mengatakan kata itu” kini aku menatapnya dengan kerutan kecil di dahiku.Ia pun sudah tidak duduk bersandar, badannya ia condongkan ke arahku.
“Aku tidak tahu itu apa” ia mengulang jawabanku.
“Kenapa kau tidak menjawab, aku tidak tahu apa itu cinta?” lanjutnya.
“Coba” tantangnya. Lidahku kelu, tatapanku tidak lagi dingin. Tapi membeku dan kosong. Hanya saja, tatapan mencemooh orang itu lebih menyebalkan daripada lidahku yang mendadak kelu ini. Aku mencoba mengucapkannya, bibirku telah sedikit terbuka.
Tak lama, kembali kukatupkan kedua bibirku. Kulihat senyum menyeringai menghiasi wajah orang itu. Ia merasa menang. Aku tak suka itu. Aku menarik napas dalam. Aku kembali menatap wajah orang di depanku dengan dingin. Ia pun menanti, kupikir, ia sedang berpikir akan melihat kepengecutanku lagi. Bodoh, hanya aku yang tahu seberapa pengecut dan munafiknya diri ini.
Aku tidak tahu apa itu cinta. Jika yang kau tanyakan, adalah rasa semu tentang kebahagiaan yang berlanjut dengan luka, maka itu jawabannya” aku mengucapkannya dengan sangat tenang dan pelan. Kulihat ia kehilangan sikap angkuhnya. Tak ada senyum mencemooh dan tatapan mengintimindasi itu. Aku menyunggingkan senyum sinisku, sebelum beranjak dari hadapannya. Bukan untuknya, senyum sinis itu untuk diriku sendiri. Untuk ketidakjujuranku yang entah keberapa kalinya aku lakukan.
*
Di sore yang berbeda, dia kembali duduk dihadapanku. Batang rokok yang tak pernah ia sulut masih terselip diantara jari - jari lentiknya. Tidak lagi dengan kaos dan jeans belelnya, kemeja berkerah dengan dasi yang telah menggantung dengan acak di bahunya membuatku tersenyum kecil melihat ketidaknyamanannya mengenakan jenis pakaian rapi itu.
“Dunia yang normal enggak cocok ya buat kamu” ledekku, tanpa mengalihkan tatapanku pada layar laptopku. Ia mendengus dengan kasar. “Tahu apa kau tentang dunia” balasnya, tak mau kalah. Aku hanya tersenyum tipis, malas beradu argumen dengannya.
“Ada yang enggak beres loh di kantorku” bisiknya, sambil mencondongkan kembali badannya kearahku. Seakan yang ia bisikkan adalah rahasia penting. “Dari dulu juga kantormu enggak pernah beres” ia kembali merangsek mundur, aku membayangkan wajahnya yang cemberut.
Enggak bisa ya, sedikit saja kau melirik ke dunia luarmu itu? enggak bosan terus hidup di duniamu sendiri?” ucapnya perlahan, suaranya melembut. Selalu begitu, aku tak suka. Itu mengangguku. “Aku lebih bosan melihat kalian. Manusia dengan berbagai macam topeng”
“Kau sendiri memakai topeng” aku menatapnya, aku bersyukur hari ini tidak kami lewati dengan perdebatan atau saling menghina. Mungkin, karena kami sama – sama sedang lelah dengan segala aktifitas di dunia kami masing – masing. Ia menatapku dengan tatapan teduh itu. Tidak seperti sore sebelumnya. Aku tersenyum sendu, “Aku juga manusia, sayangnya” ucapku lirih. Lalu, kami berdua sama – sama membisu. Menatap jalanan ramai di balik kaca jendela disamping meja kami. Kerumunan manusia yang sangat sibuk dengan urusan mereka masing – masing. “Apa itu cinta?” tanyanya dengan suara pelan, pertanyaan yang terdengar untuknya sendiri. Aku diam saja, masih tetap menatap keluar jendela. Kami, dua orang yang tak mengenal makhluk bernama cinta itu harus terjebak dalam dunia yang penuh kata cinta. Juga luka.
*
Kami terlanjur menghabiskan hidup di tengah hiruk pikuk kota besar bernama Jakarta. Kami terlanjur ditakdirkan hidup bersama manusia – manusia kota yang ternyata tidak ada satupun yang cocok untuk kami. Kami tidak mengerti dengan segala ego dan keangkuhan yang mereka banggakan. Kami tidak mengerti dengan segala hal tentang nilai ‘A’ dan ‘Plus’ yang menolak mereka yang berbeda dan tidak menjalankan ‘nilai’ tersebut. Sayangnya, kami pun terjebak pada permainan hati yang sama sekali tidak rasional.
*
“Kamu selesai sama Haris?” Aku menatap orang di depanku dengan kening berkerut.Enam tahun yang lalu orang di depanku ini masih tetap dia. Hanya saja tidak ada rokok yang ia selipkan di sela – sela jarinya. Kami masih berseragam putih abu – abu. “Enggak” jawabku, tegas. Wajahnya berubah menyebalkan, dengan matanya ia menyuruhku menengok ke belakang. Saat itu kami berada di kantin sekolah. Aku menengok dengan wajah bingung. Ada dua sejoli yang sedang bermesraan. Aku mengenalnya, lelaki itu pacarku. Walaupun aku berharap aku salah lihat orang. Mata kami beradu pandang. Belum lagi muka shockku bereaksi lain, lelaki itu hanya tersenyum lalu membuang pandangannya dariku. Ia tidak menghiraukanku. Aku memang baru berkencan dengannya satu minggu belakangan ini. Tapi, apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti.
“Kamu apa – apaan Haris?!” sekuat tenaga aku menahan emosiku agar tidak meledak. Ini tahun ketiga ku. Dan akan memalukan jika seluruh mata di kantin menonton hal yang perselingkuhan terang – terangan ini. Aku tidak mengenal gadis disampingnya, yang kutahu dia idola dari kelas sebelah. “Siapa ya?” tanyanya dengan senyuman menyebalkannya. Aku tahu mataku telah berkaca – kaca, tapi aku tidak sudi memperlihatkannya di depan orang menjijikan ini. Aku menarik napas panjang sebelum pergi meninggalkan mereka. Aku tidak perduli dengan suara tawa di belakangku.
“Mereka taruhan tentang jadian sama kamu” Aku menatap orang di depanku dengan tatapan tidak percaya. “Tapi, kenapa?” ia hanya mengangkat bahu, “Mungkin, karena kamu satu – satunya perempuan di kelasmu yang belum punya pacar” aku menelan ludah dengan susah payah. Dan aku benar – benar menahan air mata yang telah menggenang di kedua mataku. Aku tidak sudi untuk menangisinya. “Kenapa sesedih ini? Cinta itu terlalu dalam untuknya?” aku beranikan diri menatap matanya, menahan segalanya. “Aku belum sempat untuk mendefinisikan cintaku pada orang itu. Aku mencobanya—“ suaraku bergetar, dan itu memalukan sekalipun hanya dihadapan orang itu.
“Aku bersungguh – sungguh ingin mencobanya. Aku ingin mengenal makna kata itu. Dan ini jahat. Kesungguhanku hanyalah mainan mereka, ini jahat Ka” aku tahu, aku bukan wanita yang menarik. Tapi aku punya kesungguhan, dan aku memuja kejujuran. Iya, aku tidak pernah mengenal apa itu cinta. Aku tidak tahu siapa cinta pertamaku, kupikir tidak ada. Tapi, setidaknya aku mau mencoba mengenalnya.
Setelah kejadian itu, aku masih tetap menjadi aku yang biasa. Aku yang hanya mengenal Raka, sahabatku, orang yang selalu duduk di hadapanku dimanapun itu.
“Kenapa kamu menjauhkan diri dari kita Ris? Jangan terlalu angkuh dan sombong Ris, gimanapun juga kita satu kelas selama tiga tahun” teman – teman kelasku sama sekali tidak pernah berkomentar tentang taruhan itu. Mereka mengabaikan luka yang kuderita. Iya, aku tidak pernah membuat jalinan sahabat dengan teman – teman kelasku. Aku tidak bermasalah dengan jarak ‘teman biasa’ yang mereka buat, karena aku terlalu berbeda dengan mereka. Karena aku selalu mengatakan semua yang ingin kukatakan. Mereka bilang aku tidak beretika. Mereka bilang aku ratu berhati dingin. Mereka bilang aku tidak gaul. Mereka bilang aku kolot. Aku tidak mengerti pemikiran – pemikiran itu. Aku hanya selalu mencoba bersikap bijak pada setiap orang.  
Lalu mengapa mereka masih memprotes sikap yang kuambil. Dimana kesalahanku? Apa maksudnya angkuh dan sombong itu?
“Saya tidak mengerti semua permasalahan yang kalian bicarakan. Maaf, tapi pernahkah kehadiran saya mengganggu kalian? Adakah sikap saya di kelas ini menyakiti kalian? Adakah saya terlalu angkuh dan sombong untuk tidak menyapa atau mengajak obrol kalian? Tolonglah, jangan terlalu omong kosong” aku meninggalkan kelasku dengan amarah yang mendidih. Setelah kejadian itu, hidupku tenang. Dan aku benar – benar sendiri.
“Ada provokator Ris. Temannya Haris” aku sama sekali tidak mengerti. Raka, orang di depanku tersenyum penuh misteri. Orang itu, seseorang yang pernah berlabel pacarku. Ia tidak ingin citranya buruk, ia butuh skenario yang menyudutkanku. Karena ia merasa dipermalukan dengan sikap dingin dan biasa yang kutunjukkan setelah ia mencampakkanku. Sekali lagi, aku hanya bisa menatap kosong entah kemana. “Aku menyerah Ka. Aku tidak mengerti” gumamku, lelah.
Hari – hari terakhirku di SMA hanya kuhabiskan dengan Raka. Aku tidak mengenal siapapun, bahkan seseorang yang duduk di meja depanku. Aku tidak lagi membalas senyumannya.
“Jika aku harus bertahan dengan kehidupan seperti ini. Aku hanya butuh hati yang mati, teman” ucapku lirih, orang di depanku hanya tersenyum sinis. Ia menatapku dalam. “Haruskah?” tanyanya. Kami berdua saling berpandangan dalam diam.
Sayangnya, keadaan keluargaku tidak memungkinkanku beranjak dari kota pengap ini. Masih ada adik – adik yang harus kuasuh. Masih ada tanggung jawab menjaga nenekku yang tua renta di rumah. Kedua orang tuaku terlalu asik dengan segala hal tentang menghasilkan uang dan bersenang – senang sendiri. Masih banyak hal yang harus kulakukan. Untuk ikatan keluarga ini. Aku tidak bisa memutuskannya seperti pada orang – orang di sekolahku.
Kupikir, satu – satunya yang dapat membuatku tetap waras menjadi manusia adalah dengan menulis. Dunia yang kutemui ketika aku masuk SMA. Aku menyerahkan semua pikiranku tentang kehidupan ini di selembar kertas. Setiap kata – kata yang dihasilkan dari hasil ketikanku, aku menyukainya. Kata – kata itu menyemangatiku. Dunia menulis ini memberiku tempat yang tidak manusia berikan untukku. Jika keberadaanku dan segala kekurangnya tidak dapat membuat mereka mengerti tentang apa yang sebenanrnya kupikirkan, tulisan dan kata – kata ini membantuku. Raka mengetahuinya, ia selalu menjadi orang pertama dan satu – satunya yang memaksaku mentraktirnya jika melihat tulisanku tembus ke media. Aku pun menyuarakan pikiranku dengan tulisan itu di mading sekolahku.
Adakah cinta memiliki makna?
Aku bertanya pada mereka.
Karena aku tidak mengenalnya.
Dan sore itu, sebuah senyuman datang padaku.
Berucap janji akan mengenalkannya untukku.
Aku tidak bodoh,
hanya saja aku tidak pernah memandang manusia sehina itu.
Janjinya yang tak pernah ada.
Masih membuatku bertanya,
Adakah cinta memiliki makna?
Tulisanku ini yang membuat Haris merencanakan permusuhan untukku. Tapi, aku tidak pernah terbebani dengan semua hasil tulisanku. Maaf, jika mengundang amarah dan dendam. Tapi inilah yang ingin kukatakan.
Setelah semua itu, aku memasuki dunia perkuliahan. Tetap bersama orang itu, Raka.
Aku memulai mimpiku menjadi penulis dari sana. Aku tidak memulai kehidupan sosialku kembali. Bahkan, niatpun tidak. Selama tiga setengah tahun aku melaluinya hanya dengan menulis dan Raka. Itu saja, cukup bagiku.    
Kehidupan asmaraku pun tidak kubangun. Aku sama sekali tidak berminat dengan segala hal berhubungan dengan jalinan dengan manusia – manusia itu. Beberapa orang pernah mendekatiku. Aku tidak pernah berharap akan ada yang dapat bertahan lama menghadapiku.
“Ini menggangguku. Maaf, jika aku menyakiti perasaan tulus itu” aku bersungguh – sungguh untuk hal ini. Bukan tentang luka yang kemungkinan hadir, aku masih bisa menerimanya. Tapi, entah bagaimana aku melihat, untuk hal ini, bukan mereka.
Raka tidak banyak komentar dengan sikap yang kuambil. Kami berdua masih tidak bermasalah dengan hanya dia dan aku. Aku ingat, sore itu kami menyerah untuk ikut mengantri busway. Kami terlalu lelah untuk ikut berdempet – dempetan tidak manusiawi di kotak besi beroda itu. Walaupun tidak ada yang indah dari sore di pinggir jalan dengan kebisingan klakson dan makian para pengemudi. Ataupun berbagai macam orang dan kegiatannya yang menghiasi kota ini setiap sore. Kami berdua berjalan dengan diam. Pemandangan ini tidak indah. Jauh dari indah, malah. Hanya saja, ini sangat akrab bagiku. Lembayung langit sore ini bagus, hanya saja  menjadi terlalu buram karena asap – asap segala macam kendaraan atau bakar – bakar apapun itu. Tawa ringan dan polos anak – anak kecil itu diselingi beberapa teriakan makian dari ibu – ibu muda mereka yang terlalu susah untuk menjaga darah tingginya. Anehnya, aku merasa nyaman dengan semua hal yang tidak indah itu. “Hingga detik ini, aku selalu berusaha percaya Tuhan itu ada. Dan hidup ini akan memberikan jawaban untuk apa kita disini. Karena aku juga ingin seperti mereka, meneruskan hidup dengan keluarga yang memang takdirku. Jika memang ada~” aku mendengarnya dengan khidmat. Andaikan aku pun memiliki niat yang mulia seperti itu. Sayangnya tidak.
Esoknya, Raka menghampiriku dengan wajah yang berbinar – binar. “Aku tahu, dia orangnya Ris” setengah jam kemudian orang di depanku larut dengan kisahnya dan si gadis yang tidak kukenal itu. Ini sedikit membuatku terkejut, Raka berbeda dari biasanya. Tuhan, apakah ini waktunya, untuk mengenal rasa itu? tanyaku dalam hati. Aku hanya berharap yang terbaik untuk sahabatku ini.
Gadis itu cantik, dan sederhana. Walaupun aku tidak mengerti apa yang berbeda dari gadis ini dengan gadis – gadis lain yang pernah dekat dengan Raka. Mereka selalu cantik, dan terlihat baik – baik saja. Sayangnya, mereka akan selalu berakhir karena masalah yang sama. “Waktumu terlalu banyak untuk Riris. Pacarmu kan aku” dan aku sudah sangat kebal untuk diperlakukan sinis setelahnya. Karena lagi – lagi, Raka hanya akan berdiri disampingku, bukan mereka. Aku tidak memintanya.
“Minggu depan tahun baru looh. Kita mau ngapain?” tanya Nisa, gadis cantik dan sederhana yang kini sudah satu bulan jalan bersama kami. Iya, mereka sudah jadian. Dan dengan sangat bijak gadis ini tidak pernah berkomentar tentang kehadiranku diantara mereka. Aku dan Raka saling bertatapan mendengar pertanyaan itu. “Kita di rumah masing – masing. Tidur” jawab Raka yang kubantu dengan anggukan kecil. Nisa memandang kami dengan muka prihatin. “Yuk, ke pantai” usulnya. Aku diam saja, Raka menatap kami bergantian. Ia menatapku, aku tahu ia ingin aku ikut. “Kalian saja” ucapku, singkat. Aku tidak menyukai perayaan – perayaan tanpa makna seperti itu.
Seminggu setelah tahun baru itu, aku kehilangan Raka. Aku tidak bisa menemuinya. Keluarganya pun tidak ada yang tahu. Aku pun tidak bisa menemukan Nisa. Dimana dia? Aku sadar, ia orang yang begitu berharga bagiku. Dan, ketika aku sama sekali tidak bisa bertemu dengannya. Aku kembali disadarkan, dia bukan hanya sekedar sahabat atau seseorang yang berharga. Dia sebagian dari diriku. Itu hari – hari terburuk sepanjang hidupku.
Untuk lelaki di depanku. Jika engkau selalu berusaha menjadi telaga di tengah gersang dan keringnya kehidupanku. Kumohon, teruslah menjadi telaga. Menjadi tempat untuk membuatku tetap bertahan meneruskan perjalanan yang tak kuketahui dimana akhirnya ini. Aku menatap kursi di depanku. Dia kosong, note kecil yang tanpa sadar kutulis itu tidak bertuan. Dimana lelaki yang biasanya di depanku ini?
Hingga aku melihat gadis itu. Tatapan kami bertemu, tidak ada senyum ramahnya seperti biasa. Dan aku tidak mengenal lelaki di sampingnya. Aku menghampirinya, “Dimana Raka?” wajahnya sedikit pucat. Tatapannya terlalu dingin, aku tak mengenalnya lagi. Mendadak matanya terbelalak kaget, segera aku menoleh ke belakang. Dia ada disana. Raka ada di depanku lagi. Ia terlihat baik – baik saja, tidak ada tanda – tanda ia seperti habis tersesat, diculik atau apapun itu. Hanya saja, tanda itu ada di tatapannya yang kosong. Aku berusaha memahami situasinya.
Nisa, gadis yang kini tak kukenal itu telah beranjak pergi. “Ada apa?” tanyaku dengan suara lirih, dada ini terlalu bahagia melihat kehadiran Raka yang baik – baik saja. Tapi, aku menjaganya karena aku tahu sosok di sampingku jauh dari kata bahagia.
*
Bertahun – tahun setelahnya, kami masih tetap bersama. Tidak ada yang berubah, selain kami semakin menjauh dari kehidupan sosial kami. Dan satu hal lagi yang kini menjadi rutinitas kami, walau aku melakukannya dengan keterpaksaan. Perayaan Tahun Baru. Walaupun satu malam itu yang ada hanya keheningan diantara kami, yang menatap langit berwarna dan kebisingan di sekitar kami dengan membisu. Aku tidak pernah bertanya untuk apa ini. Karena, setelah kejadian itu, Raka menjadi sosok yang tidak kukenal setiap malam tahun baru hadir. Ia akan menggenggam tanganku ketika kami berjalan bersisian di pinggir pantai melewati orang – orang yang saling berteriak dan tertawa itu. Ia hanya memegang tanganku hingga malam habis. Dan kami berpisah tanpa percakapan.
*
Sore ini aku kembali duduk di cafe tempat kami biasa bertemu. Tempat ia pertama kali bertanya “Apa itu cinta?”. Tempat ia mengeluhkan segala protesnya tentang tempat kerjanya. Dan, tempat kami menghabiskan malam tahun baru setiap tahunnya. Tempat ia kembali menjadi Raka yang kukenal, yang kembali berusaha memperbaiki kehidupan sosialnya.
Tidak lagi tentang pantai atau tempat yang luas dengan keindahan alamnya dan langit berkelap – kelipnya. Karena pemandangan di balik kaca cafe inilah yang membuat kami nyaman. Kehidupan kota yang menjadi tempat hidup kami selama 30 tahun ini. Aku menuliskan sesuatu pada catatanku. Buku catatan draft tulisanku yang kini telah beralih fungsi menjadi surat – suratku untuknya. Untuk orang yang selalu duduk di depanku. Dulu.
Untuk lelaki di depanku. Yang entah kapan kau akan kembali hadir di depanku lagi. Aku ingin mengakuinya. Pertanyaanmu “Apa itu cinta?” aku masih belum bisa menjawabnya. Tiga tahun aku duduk di pojok ini setiap malam tahun baru. Aku tidak berpikir kau akan muncul. Aku hanya mencoba terus mencari tahu ada apa denganmu dan malam tahun baru itu. Aku terus berpikir, hingga aku bertemu kembali dengan gadis itu. Gadis cantik itu, Nisa. Lagi – lagi kau berdiri untukku. Padahal aku tahu, rasamu untuk gadis itu berbeda dari kamu yang sebelumnya. Aku tidak pernah memintamu untuk terus disampingku. Cukup menjadi telaga yang masih bisa kutemui. Aku tahu, hubungan ini bukan tentang cinta sepasang kekasih. Karena kita lebih dari itu. Hubungan ini tidak memerlukan definisi tentang cinta. Karena hanya kita sendiri yang bisa memaknainya. Dengan makna kita sendiri. Aku masih belum memutuskan untuk seperti orang – orang itu, membangun keluarga kecil yang bahagia dan seterusnya. Seperti harapan kecilmu dulu, ketika kita menyusuri jalanan sore itu. Karena aku tidak seberani dirimu, untuk terus mencoba mengenal kehidupan ini. Walaupun berbagai jenis luka dan kekecewaan adalah konsekuensi yang harus kau ambil.
Tapi, dimana sekarang dirimu? Mengapa kau kembali pergi tanpa kabar. Pertanyaan dan kekhawatiranku bukan hanya beberapa hari seperti sebelumnya. Ini sudah tiga tahun. Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu.
Tentang keluargaku. Aku sudah punya peluang untuk meninggalkan kota ini. Tapi ternyata aku tidak bisa. Karena, aku masih berharap jika aku tetap menunggumu disini setiap tahun baru, kita bisa bertemu kembali. BISAKAH?~~~
*
Di sore yang lain aku kembali ke tempat itu. Bulan terakhir di tahun ini. Aku akan melawatinya sekali lagi, Ikrarku dalam hati.  Pelayan itu tersenyum ramah menyambutku, “Tempat biasa mbak” aku mengangguk dengan senyuman kecil. Meja itu ada yang habis menggunakan. Aku tertawa pelan tanpa sadar, kenapa aku berpikir ini hanya meja aku dan dia saja. Konyol.
“Pesan biasa?” aku mengangguk dengan tatapan yang kujatuhkan keluar kaca disampingku. “Tadi temen mbak yang biasa kesini. Sudah lama gak liat mas ganteng itu” pelayan manis itu memang selalu membuka percakapan kecil denganku, mungkin karena aku pelanggan setianya setiap sore. Tapi—
Aku langsung menatap pelayan hitam manis itu dengan wajah kaget, “Si—siapa, yang tadi kesini?” ia telihat bingung dengan kegugupanku yang mendadak ini. Iya, kabar ini pun terlalu mendadak untukku. “I, ini...mas nya nitip ini buat mbak” aku menerima secarik kertas kecil itu. Aku menatapnya dengan nanar, penantian tiga tahun ini hanya ia balas dengan secuil kertas ini?
Maaf, jika membuatmu bersedih dengan sikapku ini. Aku ingin mencari jawaban dari pertanyaanku dulu. Aku selalu ingat jawaban yang kau berikan. Tentang luka dan kebahagiaan semu itu. Maaf, tapi aku tidak ingin menyerah untuk mengenal kehidupan ini. Mengenal makna kata ‘cinta’ ini. Karena, jika aku memang telaga untukmu. Aku tak ingin hanya ada untuk menemanimu, tanpa bisa menolongmu, dan menolong aku sendiri melewati kehidupan ini. Aku bertemu berbagai macam manusia, tempat baru, dan kisah – kisah baru. Dan, perjalanan ini membantuku menemukan tujuan aku berada disini. Aku ingin kau ikut bersamaku, melakukan perjalanan yang lain. Maukah?
Aku tersenyum bahagia. Air mata ini pun, bukan tentang luka, kekecewaan, ataupun tragedi kehidupan yang sinis lagi. Ini kebahagianku. Ternyata, seperti ini rasanya. ---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar