Rabu, 26 Agustus 2015

Buen Camino!

Nemu istilah ini, "Buen Camino!" yang artinya have aa good walk! penasaran, langsung googling. Kemudian keluar sebuah artikel di kompas tentang Camino De Santiago. Sejarahnya bisa dibaca disana. Singkatnya hal ini adalah sebuah perjalanan panjang dengan berjalan kaki, untuk camino de santiago ini jaraknya 780 km! ditempuh 33 hari. Cukup sebulan, kisah Cheryl di Film 'Wild' yang berjalan 1000 mil selama 3 bulan? aku tidak yakin... aku bakal terlalu kangen sama kasur empuk selama 3 bulan -_-
Ada hal-hal serupa ini, seperti aksi protes jalan dari jawa timur hingga jakarta tapi aku tak tergerak. Terkesan, iya. Tapi aku tak ingin protes pada siapapun, tak ingin sensasi pada apapun.
Kayak lagu hyesung di buen camino, ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk bertemu si dia. tapi, aku tak ingin bertemu siapapun. Aku hanya ingin dengan diriku sendiri. Mencari udara lain tentang kehidupan.
Akhirnya aku menemukan rute hidup. Selain segera bergegas menjadi penulis profesional dan resign dari tembok-tembok kantor ini, setelah aku sedikit menempa hidupku lagi dengan tanggung-tanggung jawab yang masih tersisa dan selalu ada. Kota impian itu, Yogyakarta. Aku harus kesana.
Lalu, perjalanan pertama adalah Argopuro. Seminggu di kejauhan peradaban kota. Kemudian, Camino de Santiago, tidak tahun-tahun ini, pasti. Tapi sebelum usiaku menginjak 30 tahun perjalanan sejauh 780 km dengan jalan kaki itu harus kucoba! satu bulan di jalanan....

Minggu, 23 Agustus 2015

cinta tanah air?

dulu ada seorang kawan, pernah bertanya dengan seringai iseng. aku tahu, ini pertanyaan menjebak dan perlu debat panjang. aku sedang malas bicara saat itu, kubiarkan saja ia bertanya dan menjawab lalu berbicara sendiri.
"Elu cinta Indonesia?"
"Kenapa?"
"Apa karena elu lahir disini?"
"Atau karena elu dapet makan dari tanah ini?"
"Kalau elu ga dapet apa-apa dari tanah ini, apa elu masih cinta Indonesia?"
sekarang pun aku malas membahasnya. cinta tanah air? apa yang bisa dijelaskan dari kalimat itu? cinta INDONESIA? INDONESIA, apa yang bisa kujabarkan dari rentetan huruf itu?
minggu lalu tanggal 17 agustus. semarak perayaan hari kemerdekaan terdengar, terlihat, di setiap mata memandang. warna merah putih entah sejak kapan mulai menghiasi setiap sudut jalan. tulisan-tulisan, entah itu sejarah, doa-doa, caci maki atau angan-angan tentang 'merdeka' berisik bersuara dimana-mana.
aku menepi, aku mendaki ke tanah yang tinggi di tanah jawa. aku bertemu merbabu. bahkan di ujung tanah beribu meter itu pun hiruk pikuk tentang perayaan kemerdakaan tetap semarak. aku tidak sinis. aku hanya ingin menepi, dan tak kutemukan sepi.
karena, lagi-lagi tanya itu akan menuntut jawabnya.
"cinta tanah air, tidak?"
aku tak bisa menjawab dengan spontan. mengangguk dengan mata berbinar atau berkaca-kaca karena terharu mengingat perjuangan orang-orang dahulu untuk kemerdekaan. aku tak mengenalnya.
lalu, kata lainnya yang sama-sama ingin kujauhi.
'merdeka'.
aku mendengar dan membaca, beberapa orang tengah bersukur untuk kemerdekaan ini. namun banyak juga yang mencaci dan menggugat dimana kemerdekaan itu. aku?
bahkan aku tak berminat menguraikan kata 'merdeka' ini.
kubaca buku sejarah. dahulu, kupikir semua orang akan sangat mudah memahami kata-kata itu. 'kemerdekaan' dan 'mencintai tanah air', ada ketidakadilan yang nyata yang direbut dari mereka oleh tangan-tangan asing berkulit pucat kala itu.
tapi hari ini?
bahkan kata INDONESIA terlalu absurd bagiku.
selamat hari kemerdekaan?
ia, akan kuucapkan untukmu para leluhur. bukan untuk kami, yang kini hidup di tanah ini.